Cansa Room

07.34

Kumantapkan dalam hati bahwa masalah Dinu bukan lagi masalahku. Namun, iman ini tidak cukup kuat untuk tidak membuka pesan yang dikirimkannya kepadaku. Ya, lagi-lagi ajakan untuk bertemu. Rasanya ingin aku siram ia dengan kumpulan air mata yang selama ini mengalir karena tak jelas arah bagaimana hubungan kami bisa berakhir. Siraman air mata agar ia sadar bahwa aku sudah sekuat tenaga untuk pergi dan seenak hati ia kembali untuk sekadar -mengobrol-. 

Banyak hal yang ia ceritakan melalui pesan-pesan yang ia kirimkan. Ia seperti berbicara sendiri untuk sebutkan bahwa masalah A dengan pacarnya yang bernama X, lalu masalah B dengan wanita lain lagi. Aku meyakinkan diri bahwa ia akan perlakukan hal yang sama pada semua wanita. Pertama, mengaku bahwa ia tak sayang lagi dengan pacarnya. Kedua, meminta saran bagaimana putus yang baik. Ketiga, percayalah bahwa tidak akan ada wanita yang diputuskan cintanya oleh Dinu karena gradien kebahagiaanya berbanding lurus dengan banyaknya wanita yang mengaguminya. 

Aku menyimpan lagi ponsel selepas mambaca pesan tak jelas dari Dinu, menyimpan kenangan dan sedikit keprihatinan, dan berkata lagi bahwa,"Ini bukan urusanku."

Mobilku berhenti di sebuah tempat makan cantik dengan desain utama berwarna putih. Ini milik salah satu teman SMA-ku dan tempat inipun berhasil merebut hatiku untuk menyelesaikan banyak pekerjaan disini. Nah ya, tentu saja aku tidak ingin bertemu dengan siapapun disini. Aku ingin menyelesaikan banyak sekali laporan yang sebenarnya memang tak sabar aku selesaikan. Beginikah workaholic? Aku rasa belum sampai separah itu. Aku menyukai pekerjaanku, tapi aku jauh lebih suka tidur dan jalan-jalan daripada bekerja. 

"Hai Se!" sapa Cansa dengan wajah berseri. 
"Hai Can, numpang duduk yaa," kataku sambil duduk dan memenuhi meja dengan laptop dan buku.
"Silahkan, ini tempat sudah dikosongin sejak pagi buat ratu Sea deh."
"Hahahahaha.." kami tertawa bersama. 

Ia berjalan ke dapur. Inilah seninya Cansa Room, chef utamanya ya pemiliknya, Cansa. Tempat ini Cansa banget. Aku rasa aku suka tempatnya dan juga kagum pada pemiliknya. Waktu SMA kami memang tak terlalu akrab. Hmm, sejak sahabatku jadi pacarnya tahun lalu, barulah kami suka mengobrol. Aku kagum pada gadis Sunda satu ini. Ia sangat anggun, bicaranya halus, dan wajahnya selalu terlihat tulus. Wanita-wanita Indonesia idaman. Ia suka warna cerah dan bisa menjadi pendengar yang baik, netral, dan positif. Begitulah penilaianku selama ini padanya. 

Tempat ini memang cocok dengan atmosfer kerja yang aku perlukan, sampai-sampai dua jam disini tak terasa. Pekerjaanku selesai. Aku merapikan laptop dan menikmati sisa green tea latte yang masih ada. Ternyata tadi sempat hujan. Jendela basah, dedaunan pun juga. Aku melewati hujan tanpa merasakan apapun. Mungkin aku mati rasa.

Aku kembali pada pikiran seputar Tian. "Kenapa ya kita baru ketemu sekarang," katanya sebelum melambaikan tangan tanda perpisahan. Aku pun mengiyakan bahwa pertemuan itu terlambat. Alangkah baiknya ketika tak ada nama Dinu, lalu Tian saja. Namun, kalimat itu ternyata berarti berbeda untuk Tian. Maksudnnya, kenapa kami baru bartemu sekarang ketika ia sudah punya pacar sesempurna Cansa. 

Aku tak akan membiarkan perasaanku mengalir semudah kata-kata Tian waktu itu. Saat ia bilang kalau ia pernah pilih aku jadi wanita yang ia impikan. Lagi-lagi -pernah- dan sekarang ada Cansa yang penuh cinta. Hampir saja aku memasukkan nama Tian sebagai calon pengganti Dinu sampai akhirnya aku dibuat semakin terpana pada kejujurannya mengenai Cansa, mengenai perasaannya yang dulu ada untuk aku. Bahkan, aku yang dulu tidak pernah menyadari bahwa ia ada. 

Aku tahu bahwa aku punya kesempatan besar untuk bersama Tian ntah apa nama hubungannya. Namun, jalan itu sudah kututup rapat-rapat karena aku tahu tak ada hal baik yang datang dari awalan buruk yang disengaja. Aku meng-eksposure diriku dengan keberadaan Cansa dan meyakinkan diri bahwa Cansa ada sebelum aku datang dan Cansa adalah wanita yang mencintai Tian. 

Sudah terlihat kan perbedaan Dinu dan Tian. Aku memang tak bersama keduanya, tapi aku tahu bahwa laki-laki yang aku perlukan adalah yang seperti Tian. Hanya -seperti- Tian bukan berarti -harus- Tian.




Lamunanku buyar oleh ponsel yang bergetar. Ada pesan masuk. Baiklah, dari Dinu lagi dan katanya "lihat ke depan".

 Aku merasa terjebak. Tidak mungkin Dinu disini, di tempat ini. Cansa Room bukan tempat yang masuk daftar tempat yang dikenal Dinu, tapi kenapa pesannya seperti ini. Aku takut menegakkan kepala. Aku takut ada dia.




bersambung...




---



Hello, ini adalah seri #Sea yang kedua, kalau belum baca yang pertama silahkan berkunjung ke --> Sea Part I "Kekusutan Baru"


You Might Also Like

1 comment

  1. Bandar Judi Bola, Live Casino, Agen Poker & Live Game Terbaru dan Terpercaya di Asianbola77
    Gampang Daftar, Gampang Main dan Gampang Menangnya..

    1 USER ID UNTUK SEMUA PERMAINAN :
    - SPORTBOOK
    - LIVE CASINO
    - POKER
    - SLOT GAME
    - LIVE GAME

    Segera Bergabung Bersama Kami di Asianbola77
    Promo Menarik Dari Asianbola77
    - Minimal Deposit Rp 25.000
    - Minimal Withdraw Rp 50.000
    - BONUS NEW MEMBER SPORTBOOK 100%
    - BONUS DEPOSIT HAPPY HOUR 09:00 - 21:00 WIB
    - BONUS CASHBACK UP TO 15%
    - BONUS LIVECASINO UP TO 0,8%
    - BONUS ROLLINGAN POKER 0,3%
    - BONUS REFFERAL 2.5%
    Contact Us Now :
    ?? Wechat : Asianbola77
    ?? BBM : DC8820C7
    ?? Wa : +6281244043118
    ?? Line : Asianbola77
    ?? Link Pendaftaran : lc.chat/now/9325575/

    BalasHapus

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe