Tentang Kedua Temanku, Putra dan Majalah Bobo

06.23

Waktu kecil, aku adalah fans berat majalah bobo. Ayah dan Ibu sampai hapal jadwal terbit dan tak pernah lupa membelikanku edisi terbaru. Salah satu hal yang menarik dari Bobo (tentu saja selain dongeng dan cerpennya yang berulang-ulang kali aku baca) adalah ada hadiah spesial di setiap edisinya. Nah, aku ingat sekali cerita konyol waktu hadiahnya itu adalah lego rumah-rumahan. Waktu itu aku bahagia sekali dapat lego rumah warna coklat muda. Saking senang dan semangatnya, aku bongkar celengan untuk membeli lagi majalah Bobo edisi yang sama supaya dapat banyak lego. Yap, kemudian Ayah dan Ibu geleng-geleng.


Cerita kali ini tidak tentang masa kecilku dan Bobo, tetapi tentang Bobo dan anak kecil yang lain.

Namanya Putra. Dari ukuran tubuhnya plus pengakuannya, ia berusia 6 atau 7 tahun. Aku bertemu dengannya semester lalu. Jauh sebelum itu, aku menyadari pernah bertemu dengannya juga, saat aku mengerjakan tugas metode observasi, ia bersama dua kakak dan ibunya adalah objek observasi yang diam-diam kuamati di stasiun. Ternyata ia sudah besar sekarang.

Waktu itu ia mendekatiku sambil menyanyi di sebuah tempat makan pinggir jalan. Berhubung aku tak suka makan sendiri apalagi di luar rumah, maka kutanyakan padanya,"Kamu mau makan apa?". Dia tersenyum dan bilang,"Ayam rica-rica, tapi dibungkus." Hmmm, sepertinya rencanaku mendapat teman makan, gagal. "Kenapa dibungkus?" tanyaku sambil menggeser salah satu kursi dan mengisyaratkan agar ia duduk. "Mau makan sama Ibu," katanya polos. Baiklah, untuk alasan ini kuijinkan karena akupun sangat suka momen makan bersama Ibu. Sambil menunggu ayam penyetnya jadi, aku bertanya-tanya padanya tentang ini, itu, dan kembali ke ini. Katanya ia mau jadi polisi. Cita-cita adalah hal yang paling mudah kuingat dari seorang anak, bahkan mungkin lebih mudah kuingat daripada namanya. Aku bahagia ketika mereka masih punya asa.

Kali kedua.
Aku bertemu dengannya lagi. Di tempat makan yang berbeda,dan akupun makan sendiri. Kali ini, ia yang menyapaku. Ia tampak ceria dengan memegang kresek bening berisi beberapa lembar uang dan beberapa bungkus tissue. Belum aku tawari, ia bilang,"Putra sudah makan lo kaak." Hahahaha, aku dan salah satu pegawai di tempat makan itu tertawa. Aku tanya dia, kenapa datang ke tempat makan. Katanya ingin membeli teh hangat untuk ibunya, dan katanya karena ia melihatku disini, jadi ia memilih tempat makan ini dibanding yang lainnya. Aku memasang tampang muka girang bukan main, hahahaha serasa dikasi bunga sama pacar. Ia bilang Ibunya sedang duduk di jembatan penyeberangan karena sakit. Aku tanya ia, apakah Ibunya sudah makan, ia hanya menggeleng. Ia bilang kalau Ibunya tak bisa makan karena sakit. "Mau ayam untuk Ibu?" kataku padanya. Ia bingung dan hanya diam. Lalu kukatakan pada pegawai untuk berikan ayam rica-rica kesukaannya. Tak lama kemudian, ketika aku keluar dari tempat makan itu, ada empat orang yang mendatangiku. Empat orang yang sempat jadi objek observasiku untuk tugas saat semester 3 lalu. Semoga mereka tak menuntut karena penguntitan itu, hahaha, begitu pikirku. Seorang Ibu berkata terima kasih dan menjabat tangan, ada Putra juga disana. Tangannya sangat dingin. Wajahnya pucat. Senyumnya masih ada.

Cukup lama aku tinggalkan Depok untuk pulang kampung. Tanggal 6 lalu aku tiba lagi di Depok, lalu pergi lagi, dan tanggal 20 lalu aku tiba lagi di Depok. Lama tak jumpa Putra lagi'.

Sore tadi aku lewat di sekitar stasiun Pondok Cina untuk pulang. Ada toko buku di sebelah kanan dan ada seorang anak yang memilih-milih Majalah Bobo bekas. Aku tersenyum senang karena pasangan "anak-anak dan majalah Bobo" tampak indah untukku. Aku sudah lewati toko buku itu sampai aku sadar kalau aku mengenal wajah si anak. Putra!

Aku berhenti di samping sebuah toko kue, lagi-lagi ia jadi objek observasiku, tapi sekarang bukan karena tugas, tetapi karena aku ingin tahu apa yang dilakukannya. Ku dengar sedikit percakapannya. "Punya uang berapa?" tanya pemilik toko. Putra menyerahkan beberapa koin dan lembaran uang dua ribu dan seribuan. "Ambil satu boleh deh,"kata si penjual. Putra tersenyum girang. Ia memilih-milih majalah Bobo bekas. Ia mengambil satu, membukanya, menutupnya lagi, mengambil lagi, bertanya pada si penjual yang mana yang lebih bagus, sampai akhirnya ia memilih satu majalah bobo bersampul biru. Mataku tak lepas mengikutinya. Ntah kenapa, aku tak ingin menegur dan memotong binar matanya yang bahagia menelusuri halaman demi halaman.

 Ia membaca. Itu hal yang membuatku terharu. Terakhir aku tanya padanya mau makan apa sambil menyodorkan menu, dan ia menampakkan wajah kebingungan. Tak bisa membaca menu itu, katanya. Sekarang, aku melihatnya  membaca riang majalah Bobo bekas yang ia beli pasti dengan uangnya sendiri. Aku sangat senang. Terakhir kali aku bertemu dengannya sebelum ini, ia bilang mau sekolah di Master, mau bisa baca, supaya bisa jadi polisi. Aku rasa ia sudah wujudkan dua, sekolah di Master, bisa baca, dan selalu ku doakan agar cita-citanya tercapai.

Aku tak mau mengganggunya. Jadi, kubiarkan ia berjalan sambil girang menelusuri halaman demi halaman, kemudian lenyap dari keterbatasan jarak pandangku. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi ya Putra.





Dari Putri

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe