Tentang Harapan, Kekuatan, dan Bantuan

00.41

Aku belajar banyak dalam kejatuhan, 
tentang kekuatan sebuah harapan dan bantuan...

Aku mengawali langkah ini dengan sebuah kepasrahan. Sebuah kalimat "Yasudah coba saja dulu" dibumbui usaha cukup maksimal saat itu hingga akhirnya harapan datang mengundangku untuk bermimpi lebih. 




Jepang mendapat giliran pertama dalam lembar pasporku. 

Ketika mendapat pemberitahuan ditempeli Letter of Acceptance itu, rasanya masih mengawang. Mungkin sama rasanya dulu saat diterima di UI, bahagia? Tentu saja. Namun, setelah itu malah menerka-nerka seperti apa ya tempat yang akan aku datangi itu? atau bahkan sebuah kalimat keraguan, apa bisa ya memenuhi undangan itu?

Aku melangkah dari awal pemberitahuan itu hingga minggu-minggu terakhir semester 6 dengan agak lelah ditambah agak ragu. Rasanya sungguh asam. Pertanyaan paling besar. "Hei Put, memangnya tabunganmu cukup? Mau minta Mama? Kalaupun cukup, memangnya pulang dari Jepang, nggak butuh tabungan lagi?"

domikadomikadoeskaeskadoeskadobeabeo ~~~

Posisi berpikirku berubah. Terserahlah nanti berangkat ataupun tidak berangkat, yang penting penelitian ini selesai dengan cantik. Apalagi ini tentang Bali, tempat dimana aku lahir dan inginnya sih juga mati di Bali. 

Sambil terseok-seok di semester 6, kami (Nanda, Anin, Owena, dan aku) coba cari-cari sponsor. Ini kayak mancing mania yaa. 

Yaaaap...
Umpan ditangkap. Hap. (nanti akan kuceritakan bagaimana prosesnya setelah berbagai urusan administratif ini selesai ya :D)
Kami terbantu banyak dan kami harus berusaha lagi untuk dapatkan lebih agar semuanya cukup.

domikadomikadoeskaeskadoeskadobeabeo ~~~

Okay, abaikan jumlah saldo tabungan ataupun segala hal yang berhubungan dengan prediksi pengeluaran dadakan pasca dari Jepang. Abaikan juga pilihan minta Mama. Sekarang bala bantuan telah datang dan hidup untuk nanti biar nanti saja. Saatnya bertemu Kaito Kid, LoL

Seminggu di Bali bersama Nanda dan Anin, plus plus dibantu banyak teman-teman dalam menyelesaikan penelitian eksperimen ini membuatku merasa "harusnya tidak ragu lah untuk terbang". Teman-teman yang membantu kami eksperimen saja semangat kok. Aku bangkit lagi.

Sampai akhirnya aku terperosok lagi karena berbagai urusan administratif itu (nanti saja ya ceritanya). Awalnya akan berangkat ke Tokyo dulu, tapi yasudah, sepertinya ada inflasi mendadak hari itu hingga segalanya naik harganya, LoL. Aku ada di posisi berharap ada uang jatuh 6.5 juta untuk bayar tiket PP Nagoya-Jakarta karena semakin lama tiket ini makin mahal. Plus masih banyak surat dan berbagai macam perjanjian yang harus kami selesaikan untuk pencairan dananya. 

Hanya saja, tak ada salahnya kamu berharap bala bantuan datang dan berdoa, meyakini bahwa Ia akan tunjukan jalan ketika kau memang sungguh-sungguh berjalan. Malaikat datang tanpa diduga, percakapan singkat dengan dua orang malaikat (Dear Kak Lindia dan Kak Oman) membawa e-mail tiket PP Nagoya-Jakarta  sampai di inbox-ku. Baiklah, aku tak akan meragukan apa-apa lagi.

Okay, saatnya mengurus VISA. 

Ini pertama kalinya aku ke Jepang dan sayangnya aku belum punya e-pasport, jadi tetap harus urus VISA manual. Aku tanya beberapa orang yang pernah ke Jepang untuk melengkapi berkasnya dengan benar. Agak deg-degan karena sedang tidak di Depok, jadi kalau ada surat-surat yang diperlukan akan agak panjang prosesnya. 

Win, yuhuuu

Semua berkas lengkap, sampai akhirnya aku harus memenuhi syarat cetak rekening koran. Hmm, sudah aku bilang kan di awal aku meragukan tabunganku, wkwwkk apalagi setelah dikurangi tiket Jkt-Dps-Jkt dan sebuah "tantangan" lain yang membuat ia harus cukup banyak terkuras bulan ini. Huhu

Aku berusaha cari referensi untuk tahu pertimbangan saldo rekening yang sebaiknya dimiliki untuk aku bisa hidup disana (baca: VISA dikeluarkan). Tanya-tanya teman yang sedang di Jepang sekarang. Hmmm, kalau dari pernyataan teman sih cukup. Eh, iseng cari internet, muncullah itu saldo harus 50juta. Demi Tuhan, dapat saldo segitu dari mana hayati :") *berdoa - tutup page - buka page baru*. Ada juga yang bilang disesuaikan dengan jumlah hari disana dengan perkiraan minimal sejuta sehari. Hummmm, ini lebih logis dan lebih bisa coba dipenuhi. 

Okay, aku masih punya waktu untuk memenuhi kekurangan saldo itu sampai kira-kira dipercaya bisa hidup selama di Jepang (wkwkkwkw). Hingga di tengah-tengah percobaan itu, aku tak sengaja sampaikan lelah pada dua malaikat yang akhirnya membuat segalanya lebih dari cukup. Padahal aku hanya ingin bilang kalau aku sedang dalam proses, dan ternyata mereka datang bak bintang jatuh untuk percepatan proses itu (Dear, Amik dan Kak Doi, you're both being my angel). Ya, permohonan VISA selesai diajukan.


(to be continue)

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe