Cahaya Penenang

06.13

Dear Cahaya Penenang


Aku sebut ia "cahaya" awalnya. Namun kali ini, aku beri tambahan... "cahaya penenang"

Aku bertemu dengannya saat itu  dalam wajah kegelapan ketika lampu warna-warni pacaran sudah ditekan off saklarnya. Ia sepertinya juga tidak merencanakan ini semua. Ya memang begitu saja pertemuannya. Natural dan terang.

Aku ingat suatu hari saat cinta rasanya rumit, aku pernah berdoa pada Tuhan untuk ditunjukkan cinta yang sederhana itu seperti apa. Aku lupa menuliskannya pada surat berjudul apa, tapi aku ingat pernah menulisnya. Saat itu aku merasa bahwa cinta terlalu banyak butuh pengorbanan sampai akhirnya aku lelah dan tak bergerak lagi. Diam tapi tak tenang. Bergerak perlahan tapi tak berpindah. 

Sampai angin keruh itu mengantarku pada sebuah pergulatan ketidakpercayaan tentang cinta, kata-kata manis, istilah belajar mencintai, dan lainnya. Aku rasa aku cukup punya teman dan sahabat yang banyak, segalanya selesai dengan indah. Cinta sampai pada tataran sahabat (titik). Hidup sudah lengkap dan bahagia. 

Aku kadang merasa mati tapi tetap bernafas. Saat aku mati waktu itu, tentu saja warna yang ada hanya gelap. Disanalah ia datang, kata-katanya sopan bilang permisi, dan dengan penuh keyakinan Ia nyalakan saklarnya. 

"ON". Terang. Aku bahkan sempat silau dan mengerutkan alisku.
Hidup yang lebih terang, dimulai. Sepertinya ia datang dari negeri dongeng yang pernah aku ciptakan sendiri beberapa tahun lalu. 

Aku memulai ini tanpa ekspektasi apa-apa karena dulu aku menganggap harapan untuk cinta-cintaan seperti ini hanya berakhir menyedihkan. Ia sopan jadi aku biarkan ia masuk, membersihkan segala yang rusak, mengganti bola lampu, memperbaiki saklar. Hingga akhirnya, aku temukan diriku berhadapan dengannya malam itu dan aku merasakan harapan. Saat itu, harapan tak lagi berposisi sebagai pembuat sedih, tapi penegak badanku, pendorong rasa percayaku. Ini pasti insting yang bekerja karena kadang tak bisa dijelaskan. Aku hanya merasa nyaman.


Tak mudah.
Aku tahu. Ini bukan masalah berpindah ke lain hati karena sudah lama aku pergi dan berkemas dari sebuah hati, sudah sangat lama. Ini tentang bagaimana aku percaya bahwa aku bisa berteduh di hati ini. Kadang masa lalu membuatku merasa percaya adalah hal yang saklek dan aku cukup pelit berikan untuk hal cinta-cintaan. Aku katakan itu padanya. Aku ingat jawabannya,"Siapa yang minta kamu percaya? Aku lakukan apapun memang karena aku ingin, bukan agar kamu percaya." 

Ia tak bilang dan janjikan apapun padaku. Namun, yang ia lakukan adalah mewujudkannya, tanpa banyak kata. Percayapun melesat begitu saja padanya tanpa melirik pada masa lalu lagi. Mungkin masa lalu telah kalah.

 Ia adalah seseorang yang bersedia berbagi cerita padaku, seseorang yang ringan untuk katakan ia senang-sedih-lelah-dan lainnya, pendengar yang sangat baik untuk segala ceritaku, peneduh saat amarah datang, penyanyi (?), dan yang pasti penenang. Ia akan bersedia melindungi dan dilindungi, penyayang anak-anak, dan sangat suka berbagi cerita dengan orang lain. Ia sangat mudah bersahabat. Ia menghormati aku dan menjaga aku seutuhnya tanpa pernah mementingkan dirinya sendiri. Ia bisa memimpin perjalananku, tetapi tak malu bertanya harus belok kemana atau lurus saja. Ia membuat aku merasa ada sisi yang bisa aku isi untuk melengkapinya. Ia juga yakinkan aku bahwa sisi kosong disampingku, tepat untuk ia tempati. Pas.

Pada setiap doaku pada Tuhan, aku selalu selipkan kata terima kasih karena sudah menjawab permintaanku mengenai cinta yang sederhana. Bahkan, ia bilang tak mengerti cinta itu apa. Setelah aku pikir-pikir, aku pun sama tak pahamnya. Hanya saja rasa itu terlalu tulus, tenang, dan manis, hingga akhirnya cinta adalah nama yang aku ijinkan untuk mewakilinya. Aku temukan masa depan.


Aku ajak Ia bertemu keluarga kecilku di rumah tahun lalu. Semuanya suka padanya. Keramahan dan kesederhanaanya adalah hal yang membuat keluarga kecilku nyaman. Tanpa aku tahu, ia sering menelepon Ibu untuk tanyakan kabar, menghubungi adikku untuk gantikan aku berbagi kata. Kesejukan dan kenyamanan itu tidak hanya ia berikan untuk aku, tapi juga untuk keluarga kecilku, bahkan untuk teman-temanku. Ia sahabat yang baik.

Tahun ini aku ajak ia mengunjungi Ayahku, makamnya. Aku senang ia mau ikut saat kami ingin bertemu Ayah, seseorang yang belum pernah ia temui secara langsung. Ia bantu adikku membersihkan makam Ayah dan saudara-saudara yang lain, sembari aku menyiapkan segala macam hal untuk munjung. Jujur saja aku tidak menyangka kalau ia lakukan semua itu, seperti biasa, tanpa banyak kata. 


Satu lagi aku temukan kenyataan dalam doa yang dikabulkan Tuhan. Berdoalah, pasti akan terkabul bahkan lebih baik dari doa yang kamu ucapkan. Aku percaya itu.



Dari Putri :)




You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe