Rasanya Saat Khawatir

09.37

Khawatir mungkin juga disebut cemas adalah satu emosi kompleks yang seketika aku rasakan saat telepon itu masuk. Ntahlah, apa karena akunya yang sedang tidak dalam kondisi yang baik atau memang ada alarm kenyataan dari firasat ini. Aku sangat berharap pilihan pertama yang akan jadi jawabannya.

Pamitan malam ini rasanya beda. Apalagi kalau ia katakan bahwa  sudah beritahu aku sebelumnya kalau  akan pergi. Rasanya, aku akan ingat setiap kali ia katakan agenda untuk -pergi- karena biasanya aliran doaku lebih deras ketika itu terjadi. Tapi aku coba cari di kotak memoriku, tak ada kata-kata bahwa ada yang harus berangkat malam ini. Aku bingung. Aku bingung karena biasanya sensoriku sensitif dengan kata -pergi-.

Aku bersungguh-sungguh akan perasaan dan rasa bingung yang muncul pasca khawatir itu datang. Rasanya ada yang ingin aku katakan saat bicara dengannya di telepon tadi tapi semuanya malah keluar diri dalam bentuk air mata. Bahkan untuk bangun, terduduk, dan berharap pun rasanya belum bisa. Aku bersisian dengan bantal, berdoa sebisaku, dan memberhentikan tangis dengan cara tidur.

Aku mungkin tidak suka kepergian yang mendadak. Namun, tak semua -pergi- akan didahului -pamitan- yang membuat orang yang ditinggal siap. Aku baru sadar kalau aku bicara itu pada diriku. Tapi sayangnya, khawatir tak juga hilang. Padahal aku belajar -teori emosi- untuk ujianku besok bahwa ia adalah emosi campuran dari sedih, takut, dan lain-lain yang sebabnya memang uncertainty, tidak pasti Put. Aku coba katakan itu berkali-kali pada diriku terutama kelenjar air mataku.

Sampai akhirnya aku disambungkan padamu. Padahal aku janji tak buka laptop lagi malam ini dan sangat niat meminjam satu buku agak berat di perpustakaan agar mataku tak lelah liat layar terus menerus pasca proposal selesai tadi pagi. 

Sungguh rasanya aku tak paham harus bilang apa padamu. Tidak mungkin aku bilang kalau aku punya firasat buruk ditambah datangnya firasat buruk baru dari mimpimu sore tadi. Aku tidak mungkin bilang ini padamu yang akan berangkat kan. Kalaupun mau bilang, itu tidak boleh dipercaya karena aku bukan orang yang punya sertifikasi baik untuk yang disebut -firasat-. 

Lalu, aku hanya sampaikan disini.
Berakhirnya tulisan ini aku harap membawa pergi firasat itu. 
Biarkan -rasanya saat khawatir- itu ku letakkan disini, tak ku bawa lagi kemana-mana.









Sas, cepat pulang ya.

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe