Mengenang Ayah

05.23

Bali, 27 Juni


Aku punya banyak waktu sekarang untuk mengenang Ayah. Di sela-sela kesibukan jalanan pagi atau sore hari, aku selalu disempatkan semesta untuk melihat betapa manisnya seorang anak yang bercanda dengan ayahnya. Sayang, kehilangan Ayah rasanya tak sebercanda itu. 

Aku pulang bisa dibilang untuk penuhi janjiku pada Ayah tentang ibu dan adik-adik. Aku baru sadar, aku masih butuh "rem" dari Ayah untuk tahu batas. Aku kadang butuh kata-kata,"Yasudahlah nanti saja","Diam dulu lah di rumah","Masih ada besok", dan kata-kata lainnya yang ijinkan aku bernafas lebih panjang. Nyatanya sekarang yang buatku menge-rem- adalah sakit. 

Aku bilang pada diriku sendiri kalau kepulanganku ke rumah tak boleh membawa kerepotan baru untuk siapapun. Hanya saja, setiap pagi Ibu selalu menanyakan aku mau makan apa dan berusaha wujudkan itu dalam piring yang menemaniku makan. Begitu pula dengan adik-adik, mereka mau antarkan aku kemana saja, temani aku kemana saja, bahkan mengalah untuk beberapa hal, agar aku senang. Betapa bahagianya ya jadi aku. Sayangnya, kadang aku merasa itu terlalu merepotkan. 

Dua puluh satu tahun bersama keluarga ini, ada dua hal yang aku pelajari -mengalah- dan -sederhana-. Kebersamaan bersama keluarga adalah hal yang cukup jarang kami rasakan kecuali saat malam, ketika semuanya lelap dalam kamar masing-masing. Dulu, ayah akan sibuk dan lebih banyak bekerja di luar. Ibu di rumah, aku dan dua adik akan dengan bahagia menghabiskan waktu dengan teman masing-masing. Ketika akhirnya kami sempat berkumpul, barulah tumpah semua cerita yang sudah kami panen dari dunia masing-masing, saling menertawakan adalah pujian terindah yang aku pelajari dari keluarga kecil ini.

Keluarga ini juga ajarkan untuk tak tergantung dan tak merepotkan, tapi bersedialah melayani semua orang karena Tuhanpun melayani manusia tetapi IA bulan pelayan, bukan?
Aku juga belajar untuk selalu merasa nol dan bahagia dalam kebahagiaan orang lain juga. Di keluarga ini, tak pernah kami bicarakan persaingan, tak ada yang harus lebih baik dari siapa. Kata Ayah, semua punya jalanya, tak ada yang bersaing, tak ada yang harus dikalahkan. Ayah juga selalu bilang, ketika kamu ingin bilang betapa buruknya seseorang, tanyakan dulu pada dirimu, seberapa baik kamu dibanding dia? Ia selalu menasehati dalam tawanya, dalam tiap kesedehanaan lukisannya, dan rendah hati bicaranya. Ia tak ijinkan kami katakan apa yang kami dapatkan. Katanya, orang lain akan tahu sendiri dan disanalah kebanggaanya. Sayangnya, ia sering melanggar itu, ia kerap kali sampaikan pada teman-temannya apa yang sudah anak-anaknya dapatkan. Mungkin untuk para orang tua itu boleh saja, hahaha.

Apa kegiatan yang paling aku suka ketika pulang?
Mengantarkan Ibu ke pasar adalah agenda yang paling aku suka. Disana ada banyak kesederhanaan dan banyak perjuangan para orang tua yang ingin anak-anaknya bahagia, seperti Ibu. Aku suka mendengarkan Ibu menyepakati harga dan membawakan belanjaannya, tawar menawar di pasar adalah salah satu skill yang sepertinya harus aku pelajari. "Biasanya, kalau pergi sama Ayah, pasti pelan-pelan banget bawa motor"
Ibu tiba-tiba berkata seperti itu ketika aku antarkan ia ke pasar. Dulu, pasti ayah yang antarakan tiap pagi atau tiap malam. Pelannya Ayah adalah satu hal yang khas dari beliau. Ia tak suka terburu-buru tetapi tak pernah terlambat bahkan tak suka orang yang terlambat. Baginya, perlahan berbeda dengan terlambat.  






Anak sulungmu,
Putri

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe