Dibangunkan Bayangan Anak Laki-Laki Tadi Sore

09.18

Sebenarnya tadi aku sudah matikan lampu dan bersiap tidur, sampai ketika mata tertutup, sekelebat bayangan anak laki-laki itu mampir. Akhirnya otak dan hati menggerakkan kaki menyalakan lampu belajar, membuka laptop, dan menulis dengan kamu. Oya, sesi bangun lagi ini ternyata mengingatkan untuk minum vitamin (hal yang dilupain sejak kemarin dan kemarinnya lagi -- euh)

---

Sore tadi waktu makan aku bertemu dengan seorang Mba ramah yang punya nama lucu, yaitu Papaw. Ia bekerja di salah satu perusahaan elektronik di Pesona Kayangan dan tinggal di Bogor. Perkenalan kami diawali oleh datangnya seorang anak laki-laki yang menawarkan tissue dengan sangat sopan ke masing-masing meja.
"Maaf mengganggu Kak, mau beli tissue?"

Kalau boleh bilang, penjual tissue yang masing anak-anak disini "sangat banyak". Namun, wajanya baru pertama kali aku lihat (yah, walaupun bukan yang jadi petugas sensus penjual tissue cilik, setidaknya sering lewat). Ia juga rapi dan paling sopan di antara yang lain (bukan bilang yang lain nggak sopan yaa). Setelah Mba Papaw membeli tissue, anak laki-laki itu menghitung uang di meja sebelah kami, lalu mengatakan pada pegawai tempat makannya bahwa ia memesan es teh manis. Oh ya, sebelumnya ia memastikan dulu, harga di tabel sama atau tidak dengan yang sebenarnya. 

Ia membaca satu per satu menu yang ada. Sampai sinyalku ditangkap oleh Mba Papaw yang posisinya lebih dekat dengan anak itu. Mba Papaw memesan satu cumi goreng tepung yang masih belum disentuh sama sekali karena ia juga memesan nasi goreng. Akhirnya ia meminta anak laki-laki itu duduk di meja kami dan memesan satu porsi nasi untuknya. Wajah anak itu tidak menyiratkan senang ataupun sedih. Datar diiringi kata-kata sopan,"Terima kasih ya Mba."

Sambil menunggu makanan tiba, ia mengeluarkan selembar kertas seperti nota yang ada daftar harganya. Aku mulai menebak-nebak, mungkin itu daftar harga beli buku? atau daftar harga sembako yang baru dia beli di warung? atau lainnya. Aku rasa ada hal yang ingin ia katakan kepadaku dan Mba Papaw terkait nota itu. Aku diam saja dulu, mungkin dia masih menimbang-nimbang akan bicara apa. Sampai satu porsi nasi dan es teh itu datang. Ia tak juga mulai makan. Sudah dua kali Mba Papaw bilang padanya untuk makan, tetapi ia masih saja menampilkan wajah cemberut sambil melihat nota itu. Pada permintaan Mba Papaw yang ketiga, akhirnya ia mau makan. Ia masih memainkan nota itu sambil makan.

Aku mulai pertanyaan. "Tinggal dimana?" Ia melihatku sebentar dan menjawab. "Di Tebet, di deket ITC Ambassador." Aku dan Mba Papaw spontan tatap-tatapan karena lokasi itu cukup jauh dari tempat makan ini. "Baru pertama ya jualan disini?" tanya Mba Papaw. Anak itu bilang tidak, ia sudah lama berjualan sambil menceritakan bagaimana mekanisme hutang tissue - jual - lalu bayar ke sumber. "Tinggal sama siapa di tebet?" tanyaku. "Sama Ibu," kata anak itu. "Tinggal berdua saja?" tanyaku lagi. Anak itu diam sebentar, lalu menjawab,"Sama Ayah tiri satu lagi."

Kami bertiga kembali makan. Anak itu masih saja mempermainkan nota itu sambil melihat ke arah kami berdua. Aku memberanikan diri bertanya," Itu kertas apa dik?" Ia menoleh ke arahku dan bergegas membuka nota itu. "Ini bon laundry kak," katanya. Aku dan Mba Papaw saling tatap lagi. "Bon Laundry? laundry dimana?" tanya Mba Papaw. "Di Tebet, deket rumah," katanya. Aku semakin penasaran,"Siapa yang laundry?". "Saya kak," jawab anak itu singkat. Wajahnya cemberut seperti ada penyesalan sambil melipat lagi kertas itu dan meletakkannya di kantong. 

Mungkin pergulatan di dalam pikiranku dan pikiran Mba Papaw juga sama. Ada kontradiksi keadaan disini yang aku rasakan.

"Kamu masih sekolah kan?" tanya Mba Papaw yakin. Aku pun juga masih yakin kalau anak ini masih sekolah karena ia rapi, sopan, dan bisa membaca. Kira-kira mungkin seusia adik perempuanku, kelas 2 SMP. Anak itu menggeleng. Lagi-lagi ada kontradiksi kenyataan dengan apa yang aku pikirkan. "Hmmm, sampai kelas berapa berhenti?" tanyaku. "Kelas dua," jawabnya singkat. "Kelas 2 SMP?" tanyaku yakin. "Dua SD kak," jawabnya sambil menunduk lesu. Ohhhhhh... ntah sudah berapa kontradiksi ini.

Baiklah aku dikecewakan lagi oleh kenyataan ini. Haaaah, awalnya aku kontra dengan anak-anak yang harus bekerja, aku masih merasa belum cukup umur. Namun, setelah aku pikir kondisi tak seramah itu pada semua orang. Mungkin hal yang berat bisa membentuk pemaknaan positif bagi mereka. Namun, aku masih resah gelisah gundah kalau mendengar anak-anak berhenti bersekolah, sedangkan aku tahu masih banyak sekolah yang gratis, masih banyak institusi non formal yang menyediakan pendidikan untuk menambah daya guna mereka. Lalu, aku akan bertanya, kemana orang tuanya? (aku tidak akan bertanya kemana pemerintah karena selain kejauhan, aku tahu bahwa fasilitas ada, tinggal bagaimana kamu bersungguh-sungguh cari jalannya)

Kami bertiga meneruskan makan. Mba Papaw membuka percakapan denganku seputar pendidikan dan aku menyambungnya dengan senang hati. Anak laki-laki itu makan dengan lahap nasi dan cumi goreng tepung itu. Ia tahu cara menggunakan sendok dan garpu dengan benar, ia juga tahu bagaimana makan cumi itu dengan sausnya. 

Percakapan kami bertiga selesai di kasir.




source

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe