Satu Tahun Kebersamaan Ini

07.47

Selasa jadi hari yang selalu padat untuk Putri dan Sas.
Selasa mungkin jadi hari paling "jarang" atau mungkin "tidak pernah" kami pilih untuk bertemu.

Namun, selasa kali ini berbeda, kami merasa ada magnet yang menarik dan harus bertemu untuk bersyukur.

---

Sampailah kami malam itu di Kota Tua setelah pagi sampai sore berkutat dengan segala urusan masing-masing. 
Kota Tua /Tempat dimana kami memulai/ dan jadi tempat dimana kami bersyukur/ karena setahun lalu telah memulai kebersamaan disana/

Kota Tua tetap ramai, alunan musik terdengar manis, banyak yang bercengkerama, dan tentu saja banyak jajanan, hehe. 

Hahahaha
Tanpa janjian ternyata kami membawa kue masing-masing. Untuk segala hal yang berbarengan tanpa rencana, sering kami imbuhkan kalimat "Oke, ini bukti kita jodoh".
Setelah lilin menyala, setelah harapan dipanjatkan, bernyanyi ria, tiup lilin, bertukar kado (ini juga nggak janjian, jadi bukti lagi kalau kita jodoh, haha), dan sampai akhirnya meniup bersama si lilin hingga mati. Kami tertawa bersama.

Satu tahun rasanya waktu yang sangat singkat karena kami masih mengingat dengan jelas dan kadang menertawakan apa yang telah terjadi sebelum-sebelumnya. Momen satu tahun ini juga menjadi lebih berharga karena waktu itu akhirnya aku punya keberanian untuk katakan banyak hal yang dulu sempat aku tumpuk untuk tunggu waktu yang tepat. Ternyata bertemulah tumpukan itu dengan momen kejujuran ini. Pas. Aku lega.

Suasana sempat *krik* dan lengang setelah ada beberapa lontaran kalimat refleksi (sesi evaluasi satu tahunan kali yeee wkwkw). Mungkin kami sedang sibuk berkutat dengan pikiran dan hati masing-masing, menyusun segala hal yang baru saja dikatakan, dari yang paling indah sampai yang perlu dibuat lebih indah lagi.

"Kak, bagi kue dong kak"

Tiba-tiba ada tiga orang anak yang datang ke kami. Setelah beberapa detik berpandangan, kami mulai senyum-senyum sendiri.

"Ulang tahun ya kak?" katanya lagi.
"Hahaha iyaaa, nyanyi dong..."
Akhirnya tiga orang anak itu bernyanyi dengan ukulelenya, mengundang beberapa anak-anak datang bergabung. 

Hahaha, Tuhan punya cara untuk membuat malam ini jadi lebih unik dan istimewa. Kami nyalakan lagi lilin yang tersisa, meminta mereka untuk anggap ini ulang tahun bersama, dan menutup mata untuk sejenak berharap, dan tiup lilin. Tentu saja setelah itu potong kue dan makan sama-sama. 




Berhubung kami berdua suka anak-anak, jadi kedatangan mereka pun membawa angin segar malam itu. Suasana krik dan lengang tidak ada lagi. Mereka bagai bintang jatuh malam-malam yang membuat segalanya jadi cair, penuh rasa syukur, dan harapan akan kebaikan di tahun berikutnya.


Kami bahagia. Sangat bahagia.


Salam Cinta 
(dan Rangga, eh?)

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe