Singgah

20.35

Bayangkan wajah Ibumu...
Kapan terakhir kali kamu makan bersama dengannya?
Kapan terakhir kali kamu mengucapkan kalau kamu menyayanginya?

---

Siang tiba-tiba jadi gersang
orang lalu lalang bernyanyi bersahutan
suara dangdut di sudut toko  itu
terus mengabarkan kegembiraan palsu
bagiku dan orang yang lalu lalang 
mereka masih berjalan, bernyanyi bersahutan

tapi palung hati terlalu dalam
bagi nyanyain, bagi lagu dangdut
dan aku terdiam

kenapa hiruk pikuk ini tiada arti
bahkan lantunan lagu tak masuk ke hati
kenapa suasana jadi begini sendu
bagai tak ada yang mampu menapak rasaku
menghilang menghablur diterpa angin
dan aku ditinggal sendiri , hanya sendiri
menahan sesak, tangis 
dan air mata  perlahan tumpah

ingin ku teriak sekencang-kencangnya
ingin ku menghantam merobek menghacurkan rasa congkakku dulu
ingin ku banting ragaku agar tak melangkah kakiku
ingin ku menangis
ingin ku peluk engkau ibu
dan ku bisikkan betapa aku tak sungguh mampu pergi
tapi kita hanya bertatap mata
karena nafas terlalu sesak tuk berkata-kata
dan ku berpaling
air mata tumpah lagi

gagah aku pergi, ibu
tapi palung hati ini hanya kau yang mampu pahami
permohonan maafku tersampaikan
lewat linangan air mata
yang ku sembunyikan di balik tawa
dan sapu tangan yang sudah basah karenanya
doaku ibu
tersampaikan lewat air mata
dan berdengung dalam telinga, sekian lamanya
sembari memohon dalam sujud sedalam-dalamnya
agar engkau baik-baik saja

aku pergi ibu
ke negeri orang
doakan agarku disana
hanya tuk singgah saja. 


----

sebuah puisi karya Sastrawan Negara Putra

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe