Maret Saat ini dan Setahun yang Lalu

22.02

Suasananya bisa dibilang jauh berbeda, tetapi orang yang di hati masih sama...
Ayah...

---

Maret ajarkan aku -Geser Pikiran tentang Sebuah Batas-

Sebut saja tahun lalu, ketika suatu pertengahan Maret mengabarkan lewat telepon kalau aku harus pulang sendiri karena ada yang baru saja pamitan pulang ke surga. Waktu itu aku langkahkan kaki dengan perasaan yang berbeda dari biasanya ke tempat duduk pesawat, hingga akhirnya aku diterbangkan sampai di Bali, hingga mobil menjemput dan mengantarkanku sampai di rumah yang biasanya penuh tawa, tapi saat itu suasananya begitu sendu.

Aku tahu aku tak mempersiapkan diri untuk ini, tak pernah ada plan Z sekalipun bahwa aku harus berada dalam situasi ini. Aku bukan orang yang terlatih untuk kehilangan dengan tambahan -selama-lamanya-. Aku rasa aku akan menangis seperti orang gila, tapi malam itu hingga malam-malam berikutnya, aku tak lakukan itu. Aku hanya peluk Ibu dalam diam dan berusaha katakan tanpa suara, kalau ia bisa kapan saja bercerita denganku dan tumpahkan letihnya. Aku ingin bilang pada Ayah, ia berhasil bantu aku geser batasku, geser kesiapanku.

Tahun berganti...


Suasana berbeda, Maret di tanggal yang sama 



Satu...
Tahun lalu saat siang, aku sedang berada di dalam pesawat menuju Bali dengan hati gamang...

Tahun ini...


Siang itu kami diberikan waktu berkumpul dan bertemu Mba Fani (manajer kemahasiswaan fakultas) untuk diberitahukan seleksi tahap kedua dari pemilihan mahasiswa berprestasi Fakultas Psikologi UI. Sebelumnya, lama sekali aku memutuskan untuk mengirimkan formulir atau yasudah jadi penonton saja saat malam penganugerahan nanti. Aku tak yakin bahkan untuk mendaftarkan diri karena merasa belum cukup kompeten, hahahaha. Sampai akhirnya, aku temukan alasan terbaik dari segalanya, ayah...

Salah satu sesi siang itu menanyakan tentang "kenapa mendaftar?" Aku jawab...
"Ayah selalu bersemangat dan membantuku walaupun lelah bekerja untuk memberikan yang terbaik saat pemilihan siswi berprestasi sejak SD - SMA. Pada saat SD, aku ingat sekali, kami berdua kebingungan mencari tempat dimana lomba berada, saat itu aku sampai pada hasil peringkat 19 di Kota Denpasar. Pada saat SMP, aku juga ingat, Ayah harus bolak-balik tempat penginapan karena waktu itu aku lupa bawa beberapa barang saat seleksi, saat itu aku sampai pada hasil juara 2 se-Bali. Berlanjut saat SMA, masih diantar Ayah, yang bantu aku membawa barang yang berat, mengajarkan aku yang tak bisa menggambar jadi tahu sedikit tentang kekuatan pensil warna, bantu aku membuat kerajinan tangan untuk seleksi, sampai mengantarkan aku pada juara 1 se-Bali. Pertanyaannya, bagaimana dengan sekarang? Saat kuliah dan saat Ayah sudah tak disini? Kenapa aku mendaftar, aku ingin bilang pada Ayah, kalau ia masih jadi yang selalu menguatkanku, walaupun kami tak bertemu langsung. Ia berhasil geser batasku."

Saat itu sebenarnya mataku berkaca-kaca. Hahahaha. Ayah....

----
Dua...

Tahun lalu saat sore, aku sampai di bandara, dijemput mobil dengan orang-orang di dalamnya terdiam, tak tanya apa-apa tentang perasaanku. Mobil melaju mengantarkanku menuju rumah duka.

Tahun ini...


Aku berdiri di depan banyak pasang mata menggunakan almamater berwarna kuning mentereng itu. Menyampaikan pengalaman di Gerakan UI Mengajar.  Kami berupaya untuk katakan bahwa kita perlu punya wadah bersama agar gerakan mengajar mahasiswa bisa saling share ketika menemukan masalah, bersama-sama advokasi ke pemerintah tentang pendidikan, dan banyak hal lain yang akan lebih besar ketika kita saling merangkul. Jadi, yang paling cuilik di tim ini buat aku senang. Aku senang berada bersama orang-orang yang punya pikiran jangka panjang, yang juga memikirkan saudara yang memperjuangkan hal yang sama, dan yang sadar kalau kita tak bisa jalan sendiri, singkirkan ego, dan saling merangkul. Dapat kami katakan bahwa kami berhasil, semua peserta konferensi berhasil. Hingga terbentuk FGMMI (Forum Gerakan Mahasiswa Mengajar Indonesia).

 Tidak ada kesedihan dan kesenduan. Mungkin sedikit dari aku yang kangen Ayah.

---


Tiga...
Tahun lalu malam itu aku sedang menemani Ibu yang susah hentikan tangisnya. Menyapa banyak orang yang datang menyampaikan bela sungkawa

Tahun ini...

Malam di tanggal yang sama, kami bertiga yang berhalangan hadir ke acara Grand Closing Psychology Village 7 Universitas Pelita Harapan, mendapatkan kabar kalau tim debat kami mendapat Juara 1. Nah, yang lebih menyenangkan untuk aku daripada juaranya ini adalah tentang bagaimana metamorfosa terjadi padaku.

Sejak awal ikut lomba debat, aku selalu berada di posisi tengah yaitu pembicara kedua dan penyimpul akhir. Nah, lomba saat ini tiba-tiba menempatkan aku di posisi pembicara pertama. Hmmm, setelah 7 tahun nyaman dengan posisi pembicara kedua dan dalam dua minggu harus bisa menjadi pembicara pertama yang baik, ternyata bukan hal mudah. 

Awalnya aku berpikir, mau jadi pembicara berapapun kalau debat ya sama saja, apalagi matter pembicara pertama adalah matter yang paling siap diantara yang lain. So, kenapa harus takut. Hingga sampai pada latihan sparring pertama. Ohhhhhhhhh da*n :"D Ini jauh dari pikiran. Bahkan jadi pembiacara pertema tim afirmatif yang segalanya seharusnya sudah siap saja masih jadi hal yang sulit. Aku baru sadar, kenapa aku nyaman di posisi kedua dan salah satu bedanya di posisi pembicara satu, yaitu "sulutan api". Jika di pembicara kedua, aku seakan ditantang dulu oleh tim lain, hingga aku merasa kalau aku harus lebih meyakinkan juri dari dia. Nah, jika di pembicara pertama, aku belum dapat "panasnya" dari tim lain, aku yang harus siapkan pemantik apinya, siapkan panggung aksinya, aku yang harus tunjukan bagaimana jalannya debat nanti. 
Sampailah aku pada tong sampah ketidakyakinan kalau aku bisa.

Masuk minggu terakhir latihan, rasanya masih sama. Masih di tong sampah. Belum bisa merasa yakin seyakin kalau di posisi pembicara kedua. Bahkan aku dapat tantangan serius di time management saat bicara. Kalau di pembicara kedua, tugasnya sampaikan sanggahan lalu sampaikan argumen. Kalau di pembicara pertama, kamu harus jelaskan fenomena seperti apa sampai lahirlah topik debat itu, definisi dari topik itu, ruang lingkup, fakta-fakta, dan juga argumentasinya. Dalam waktu yang sama dengan pembicara dua. Satu lagi, first impression pada pembicara pertama juga modal tim kamu.
Beban semakin banyak, pundak semakin berat.

Dua hari sebelum lomba.
Itu hari Minggu. Aku rasa aku harus tampar pipi di depan cermin dan katakan pada orang dibaliknya itu kalau "Hei Put, kamu tidak punya pilihan lain. Lihat Inez dan Aziz (tim ku), mereka super oke untuk di posisi pembicara kedua dan ketiga, lihat latihan sampai tengah malam hingga tak pulang-pulang. Kamu mau hancurkan cuma dengan alasan "tidak yakin pindah dari posisi nyaman" - eleh..."

Aku sampai pada harinya. Hari dimana aku tak lagi latihan. 
Hari pertama ada tiga sesi sebat untuk pre-eliminasi. Aku atur nafas, dan peluk diri dengan kedua tanganku dan katakan bahwa aku tak punya waktu untuk mengulang apapun yang sudah aku lakukan di depan nanti. 
Sesi pertama, kami menang...
Aku senang karena tiap sesi kami saling mengevaluasi, sehingga aku tahu, apa yang harus diperbaiki. 
Sesi kedua, kami menang...
Sesi ketiga, kami diumumkan masuk babak selanjutnya di esok hari. Aku lega tak kecewakan Inez, Aziz, Aliya, LO, pelatih, dan banyak lagi orang lainnya yang mendukung.

Lebih menegangkan lagi karena besoknya adalah sesi quarter final - final dan sistem eliminasi. Sekali kalah, berarti tim kamu akan pulang saja. Sebenarnya, aku sudah pernah melalui ini dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan di lomba terakhir di Unair tahun lalu, bahkan semuanya baik-baik saja hingga kami bawa pulang juara pertama. Nah, tapi ini beda, ini beda posisi. Haaaaaaaaaah, keyakinanku ambyar lagi. Aku hanya punya beberapa jam untuk membangun reruntuhan itu.

DOR 
Quarter final memenangkan kami...
Masuk ke semifinal. Disini lebih ketat lagi. Semifinal memenangkan kami. Akhirnya tiba di Final perebutan juara satu dua... Ini tak sama sekali ada di perkiraanku dulu.

Selesai final, aku hela nafas. Seseorang datang dari universitas lain dan bilang,"What a wonderful speech Putriiiii...." lalu satu lagi datang "I think, your replay speech is best replay speech ever".
Baiklah, ini rasanya seperti diterbangkan tinggi, sampai di surga, dan dipeluk Ayah. 


---

"Semua kesenangan bukan pada pencapaiannya, tapi saat batas itu bisa digeser dan geser lagi pada prosesnya"





Putri Puspitaningrum


You Might Also Like

1 comment

  1. Iiihhhhh sini kamuuuu Aku peluk sampai benyek!!!!
    Selamat ya sayang, you deserve it!
    Ayah pasti bangga sama Putri. Pun Aku di sini bangga luar biasa.

    Sun hangat dari Montclair ��

    BalasHapus

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe