Yang Lama Sedang Kembali

08.59

Tengah malam ini, baru selesai makan malam, sup jagung asparagus. Rasanya ada yang salah akhir-akhir ini. Mulai dari suasana langit yang abu-abu setengah cerah sampai-sampai mimpi demi mimpi, atau tak sengaja terlintas bayangan masa kecil sekitar lima belas tahun yang lalu. Apa ini karena efek memasuki legal age? 

Mengapa makan tengah malam? Sebut saja baru sempat. 
Hmmm... tapi bukan itu masalahnya, tapi perasaan yang menemani makan.
Marah? Tidak.
Sedih? Tidak.
Kecewa? Tidak.
Hmmm dari tiga pertemuan kuliah Teori Emosi, aku rasa ini adalah bentuk emosi kompleks, yang punya sebutan lokal sendiri, sebutan dari aku.

Aku mewajarkan amarah yang tiba malam ini. Aku pernah menerima itu sebelumnya lebih dari sekali. Hal yang sama. Sayangnya hal itu selalu berakhir tak baik. Itulah yang membuat aku makan malas-malasan. Satu sup dalam mangkuk paling kecil yang ada di rumah ini aku habiskan sangat lama. Aku tahu ada yang salah. Hanya saja, aku merasa beruntung amarah itu datang setelah es krim almond-ku habis. Kalau belum, malam ini sepertinya aku tak makan karena memilih langsung tidur.

Selesai makan, aku tanya diriku. Apa aku se'batu'nya batu dan tidak pernah bisa menyesuaikan diri seperti plastisin? - aku sadar susah jadi air -. Lalu, apa amarah sebelumnya yang berakhir hilangnya segalanya itu kurang jelas menggambarkan bahwa aku harus banyak berdoa dan berusaha lagi untuk jadi plastisin? atau tanah liat? Setidaknya bukan -batu-. 

Pembelaan?
Sayangnya, aku tak bisa membela saat amarah tiba. Back to my opinian - cry isn't bad choice -. Jika aku hadapkannya pada pemnbelaanku, yang ada aku yang batu akan melempar batu dan lemparan itu bisa saja berakhir sakit bahkan luka, untuk amarah dan untuk batu.

Mungkin perasaanku saja bahwa aku lebih berusaha dari biasanya. Mungkin perasaanku saja kalau aku coba cairkan segala padatan. Aku mengingatkan diri bahwa aku harus bangun pagi, harus makan, harus berdoa lebih sering dari biasanya. Aku cek handphone lebih sering dari biasanya. Aku coba lumatkan segala ego yang ingin sendirian menjadi terbiasa bahwa bersama adalah pilihan terbaik.  Sayangnya, yang terasa tetap - aku yang batu -. 

---

Amarah tadi membawa yang lama kembali lagi. Ingatan lama itu sebenarnya bukan aku kubur tapi sedikit demi sedikit tertumpuk dengan natural oleh para kenangan baru. Mungkin ia terlalu kuat hingga dipancing sedikit saja, ia bisa mencapai puncak teratas. Membuatku hanya bisa membeku, tak tahu harus apa (bukan berarti aku tak mau melakukan apa-apa), dan menghanyutkan diri bercerita denganmu tentang ini.

Aku tak mau bilang ini. Sebelum amarah datang, aku masih percaya bahwa disini aku bisa belajar untuk jadi tanah liat atau plastisin warna-warni. Pelan-pelan sambil menumpuk lagi kenangan-kenangan baru yang kuat.

Mungkin aku salah karena emosi kompleks yang sampai padaku saat ini melelahkan. Mungkin aku terlalu banyak berharap bahwa waktu akan punya toleransi yang lebih besar. Mungkin aku yang terlalu lambat sampai membuat kesal. 


Saat ini aku pilih menerima segala kemungkinan itu karena kunci dari kelegaan adalah penerimaan. Setelah itu, baru aku pikirkan, akan kemana berikutnya. Atau waktu akan seperti dulu, menghukumku pada perhentian sambil kesekian kalinya mengajarkanku bahwa tak semua bisa ikuti langkah lambat ini. 


You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe