Hai Hangat

08.50

Tahun berganti...
Bahkan sudah satu bulan setengah berlalu. Namun, baru kutemukan jari-jari ini kembali padamu.

Aku membuka tahun ini dengan sungguh manis di sebuah Desa, bernama Sumbarang. Oya, aku akan penuhi halamanmu dengan catatan harianku selama disana. Jari ini selalu menguatkan diri untuk tetap bercerita walaupun baru kali ini sampai padamu. Haaaah... Maafkan.

Aku kembali sampai di Jakarta di hari terakhir bulan Januari, itu pun tengah malam. Di kepaku sudah kuagendakan sebenarnya hari-hari bertemu denganmu. Namun, tak pernah bisa kutemukan waktunya, ntah aku yang tenggelam dalam semangat atau tak sadar lelah lalu tidur.

Kali ini akhirnya kita, sepasang sahabat, bisa bertemu...

Aku ingin ceritakan padamu tentang kemarin.
Aku tak mengawali atau menerka bahwa ada rasa yang menohok dan ingin dikeluarkan. Saat itu aku pilih tidur sebagai jalan keluar. Mungkin lelah. Benar. Ketika bangun ada rasa lebih baik walaupun belum sepenuhnya. 

Malam bersahabat, kutemukan kehangatan saat menyandarkan kepala dan badan ini. Aku tak berencana menangis. Namun, hangat itu melelehkan bekunya rasa yang menohok sejak tadi, hingga ia cair dan bisa kurasakan alirannya keluar ke arah logika.

Malam kemarin dalam sandaran itu, aku ceritakan betapa rindunya aku pada Ayah. Sandaran yang sangat hangat dan ijinkan aku menangis sampai puas. Aku teringat kalau hari ini adalah ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibu. Itu artinya, ini tahun pertama Ibu merayakannya sendiri di rumah. Namun aku yakin Ayah hadir,   dalam hati dan kenangannya.  

Semua kenangan dalam memori tiba-tiba menyuguhkan potret-potret dan video singkat ke dalam permukaan ingatanku. Semuanya membawa kerinduan itu semakin menjadi. Ku rasakan tangisku semakin menjadi. Hangat itu semakin hangat.

Ku biarkan diriku terenggut rindu. Hanya saja aku paham kalau aku bisa sakit lagi jika biarkan dinginnya rinduku itu terlalu lama bebas merenggutku. Tuhan kirimkan hangat. Jadi, aku bisa berjalan dalam rindu sambil berselimut hangat. 

Tenang.
Sudah lama aku tak menangis tentang ini dan sampai begini. 
Ini pertama kalinya juga ada hangat yang jadi selimut saat aku harus hadapi rindu yang dingin ini.

Hangat.
Perlahan semuanya jadi hangat lagi. Air mataku tak lagi menetes. Potret-potret disimpan dalam kotak memori lagi. Semuanya aku rapikan perlahan, dibantu oleh hangat.

Selesai.
Aku ambil handphone dan menyambungkan diri kepada Ibu.
Di seberang sana, aku bisa rasakan, beliau baik-baik saja. Aku lega. Hangat menjadi semakin hangat.





Selamat Hari Kasih Sayang
Selamat Hari Ulang Tahun Pernikahan Ibu dan Bapak ke-22

Terima kasih hangat



You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe