Berangkat dan Tiba - Kamis, 7 Januari 2016

12.44

Pukul 00.30 kira-kira bus mulai melaju meninggakan Universitas Indonesia menuju Tegal. Saat itu badan rasanya remuk-remuk dimakan lelah ditambah lebam di lengan kanan. Hahahahadua
          Aku duduk dekat jendela, jadi perubahan warna langit akan terlihat jelas. Tidur dan bangun lagi hingga bus berhenti di pom bensin untuk sholat subuh. Aku turun dari bus dan menikmati perpindahan palet warna langit dari gelap menjadi perlahan terang. Gradasi-Nya yang sangat apik. Perjalanan berlanjut seiring dengan pergerakan mentari oranye yang mengubah langit menjadi lebih cerah, yang hijau semakin hijau, aspal jelas warna abunya, dna kenyataan bawa sebentar lagi kami sampai.
          Pukul 08,12 kami sampai di Masjid Slawi, sarapan, lalu berlanjut ke Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Tegal. Hampir dua jam menunggu kehadiran Bapak Bupati sepertinya terbayar lunas oleh sambutan kocak dan penuh makna yang disampaikannya saat pembukaan. Intinya “ akhlak dan pengetahuan itu harus ada di dalam setiap orang”.
          Siang itu juga selepas pembukaan, kami melanjutkan perjalanan menuju titik (desa) masing-masing. Kendaraan berganti untuk menyesuaikan dengan medan di titik. Bus berubah menjadi tronton TNI. Perjalanan terasa makin bersemangat ketika kami makan siang dengan menu nasi padang di atas tronton yang melaju kencang. Sedapp!
          Jika pagi mempersembahkan gradasi warna langit, maka perjalanan sore mempersembahkan gradasi suhu. Panas di Slawi perlahan berubah sejuk. Aku menatap penun takjub saat melewati barisan pohon jagung berhektar-hektar, sengkedan yang hijau segar, ditambah pemandangan danau dari jauh. Bak lukisan, perjalanan ini mempersembahkan sebuah lukisan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
          Sekitar pukul 15.30, kami sampai di Desa Sumbarang, tempat dimana kami menghabiskan waktu sampai akhir Januari nanti. Lega! Tidak lama setelahnya, aku diantar ke rumah house family yang dengan baik hati menerimaku menumpang hingga akhir Januari nanti.
          Keluarga Bu Siti, disinilah aku akan tinggal. Rumahnya cantik dan sederhana, bercat putih dengan jendela yang di cat hijau tua, ditambah anyaman-anyaman bambu. Aku suka. Bu Siti setiap harinya berjualan gorengan (khususnya tempe goreng) dan serabi. Cobalah kalian bayangkan betapa bahagianya aku sebagai si penyuka tempe tingkat akut sekaligus penyuka serabi saat ingin bercakap hangat. Luar biasa ya, jodoh memang tak kemana.
          Suami Bu Siti sedang bekerja di kota, jadi hanya beberapa minggu sekali pulang. Di rumah, ada Rina kelas 6 SD dan Atya kelas 3 SMK. Haaaah... kedua anak ini menambah dosis kebetahan Putri disini. Mereka ramah dan suka bercerita. Yaaaay!



You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe