Hujan Malam Itu - Rabu, 6 Januari 2016

12.31

Tiba-tiba hujan deras. Aku menatapnya dari jendela. Mataku masih berkunang-kunang dengan kepala yang agak berputar karena beberapa jam terpaku di depan laptop. Hahaha. Aku sangat bersemangat menulis kesan pengajar sebelum meninggalkan blog kira-kira tiga minggu nanti. Mungkin bentuk salam berpisah sebelum kembali dengan segudang cerita. Yah, mungkin kalau posting blog yang isinya kesan pengajar, tidak akan sepusing itu ya. Sayangnya, tubuh ini dituntut untuk multitasking teman-teman, yaitu menyelesaikan LPJ, packing, posting, dan perintilan lainnya dalam waktu “dua jam. Sekian dan terima kasih.
Kembali ke cerita hujan turun. Haaah, ntah bersyukur atau tidak, tapi hujan ini membuat detak jantung mereda dari dentuman “buru-buru” yang tadi. Setelah keramas dan mandi, aku duduk sebentar dekat jendela. Sampai mata benar-benar sudah biasa saja, kepala juga bersahabat. Aku order taksi.
Sebut saja sudah di dalam taksi.  Hujan masih deras. Di sebelahku ada Riri, haaah senangnya ada yang menemani berangkat malam ini. Aku menikmati kota Depok yang sedang semi ramai ini. Lampu-lampu bertemu hujan yang terlihat dari balik kaca taksi seperti buramnya gambaran seperti apa tempat yang akan aku singgahi dalam liburan ini. Aku bersemangat sekaligus gugup. Mungkin ini rasanya saat dia menyampaikan isi hatinya kepadaku. (eh?)
Semua barang tersusun rapi. Tiba-tiba terlihat misi yang harus diselesaikan sebelum berangkat. Ini adalah saatnya foto lengkap *36 pengajar*. Malam itu kami berkumpul dan saling mengajak untuk berkumpul, dan akhirnya bisa foto lengkap 36 pengajar Gerakan Universitas Indonesia Angkatan 5, ditambah dengan rekaman Salam Kite versi pengajar lengkap! Yuhuuuu *mission complete more and more*
Malam hingga pergantian hari kami lewati dengan estafet memindahkan sumbangan buku dan barang-barang lainnya ke dalam bus.


Hari ini selesai tapi seperti tak selesai.



You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe