Perayaan Bulan Kedelapan - Minggu, 10 Januari 2016

12.48

Pagi dibuka dengan jalan pagi dengan anak kelas enam, Rina, Dewi, dan Putri. Aku cepat-cepat mengambil sandal gunung ketika mereka sudah siap di depan pintu. Namun, aku jadi bengong saat mendapati kaki-kaki kecil itu dengan beraninya tanpa alas. Aku juga ingin membebaskan kakiku bercumbu dengan jalanan, para batu, dan sejuknya udara disini. Kakiku pasti lebih bahagia. Ada hal unik yang aku temukan saat berjalan pagi, yaitu ember-ember hitam. Ternyata di desa ini kalau pembagian berkat (nasi,dan makanan lainnya), ditempatkan ember hitam kecil lalu dibagi-bagikan.

Hari ini banyak dihabiskan di rumah panitia. Kami menyiapkan media pembelajaran untuk anak-anak. Jujur, aku merasa persiapannya masih kurang dan kurang lagi. Aku selalu ingin menjadikan momen-momen ini bermakna untuk anak-anak. Besok juga pertama kali home visit dan aku berencana ke rumah Haykal. Itu semakin membuatku dag dug ser.

Sore seperti biasa masih setia dengan hujan deras. Beberapa pengajar dan panitia tetap pergi ke beberapa rumah warga untuk menjalankan silaturahmi. Namun, aku maju mundur, aku ingin ikut, tetapi di satu sisi kondisi badanku tidak benar-benar fit. Akhirnya ku putuskan menjaga kesehatan dan diam di rumah dulu karena masih ada 21 hari disini, aku bisa ikut di kunjungan berikutnya.

Hari ini ditutup dengan obrolan dengan Sas via telepon. Kami tentu saja dimainkan dengan sinyal, hahaha. Namun, masih saja coba dan coba lagi, hihihi. Hari ini perayaan bulan ke delapan. Aku senang kami melewatkan pembicaraan dengan canda dan tawa. Rasanya semakin ringan. Haaaah, Tuhan semakin meyakinkan, dia orangnya.





photo by "Pubdok Gerakan UI Mengajar Angkatan 5"

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe