Manis Sendu Terakhir - 27 Januari - Tiba Waktunya pulang

13.49

27 – 30 Januari 2016

Mungkin ini yang disebut rapel catatan harian, haha
Kalau boleh jujur mulai 27 Januari (Rabu) dan 28 (Kamis), hari-hari disibukkan dengan rapor siswa. Aku juga bingung kenapa aku lama sekali mengerjakannya.

Hari-hari terakhir di siswa di sekolah memberi warna yang berbeda. Beberapa semakin menempel, terutama siswa laki-laki, sebut saja Fakih, Faza, dan Azam. Aku menikmati hari-hari terakhir dengan penuh syukur. Aku berusaha sebaik-baiknya mengisi waktu yang aku punya untuk berikan apa yang aku bisa.

Sumbarang Squad dan para guru SDN Sumbarang 02 - by Pubdok GUIM 5

29 Januari sekolah terasa berbeda...
Satu per satu Ibu dan Bapak datang ke sekolah. Hari itu diadakan pertemuan orang tua siswa. Hal yang membuat aku bahagia adalah hampir seluruh orang tua siswa mau datang. Ada sesi sharing mengenai cita-cita, menggambar cita-cita bersama anak, dan penjelasan rapor. Haaaah... lega sekali rasanya bisa menitipkan harapan bagi ‘Si Kecil Perakit Mimpi’, begitulah aku sebut anak-anak ini.

Bila ditanya behind the scene perjuangan rapotan, bisa-bisa kami senyum-senyum sendiri. Kemarin, rapot sudah berhasil diselesaikan masing-masing pengajar sebelum gelap tiba. Namun, kami bermasalah dengan printer, sedangkan kalau mau print di tempat lain, harus ke pasar dan mahal untuk ratusan lembar yang harus kami print. 

Jadilah Zando dan Fathya harus mengganggu Pak Syekhul (Kepsek) malam-malam ke rumahnya, hujan-hujanan untuk ngeprint rapot, hahaha, bahkan sampai menginap karena baru selesai nge-print tengah malam. Pagi-pagi mereka datang dan baru rapor-rapot itu dirapikan sebelum ke sekolah.



Perkenalkan dari kiri jilbab biru tua ada Bu Khafshah, Bu Zeinia, Pak Zando, Bu Putri, Bu Awa, dan Bu Fathya

Keceriaan kami setelah rapot dibagikan - by Pubdok GUIM 5


30 Januari
Sejak pagi waktu diisi dengan persiapan Pesta Rakyat. Kemarin sempat ternyadi kejadian tak terduga, yaitu ada salah satu sesepuh  warga yang meninggal. Kami sempat pesimis pesta rakyat (kegiatan terakhir sebagai gelar pamit dengan siswa dan warga) tidak dapat dilaksanakan karena suasana sedang berkabung.

Semua ternyata bisa dilalui. Warga tetap antusias menghadiri Pesta Rakyat bahkan berpartisipasi untuk mengikuti lomba-lomba yang diadakan, seperti lomba masak, estafet belut, dan tarik tambang. Aku melihat tawa-tawa ringan dan senang dari para warga yang ikut. Selain lomba untuk warga, ada lomba juga yang diadakan untuk siswa, yaitu lomba makan kerupuk, lari karung, dan panjat pinang. Semua anak yang ikut sangat antusias, apalagi saat panjat pinang.

Hari ini semakin meriah karena ada kuda lumping. Ini pertama kalinya aku menonton Kuda Lumping live. Menurut bincang-bincang dengan warga sekitar, Kuda Lumping jadi tontonan favorit ketika ada acara besar disini. Warga menjadi antusias karena sudah lama tidak ada acara ramai-ramai disini.

Sore juga tak bisa menahanku untuk menangis. Saat penampilan panitia dan pengajar di atas panggung, air mataku tak bisa diajak kompromi. Haaah... aku rasa aku akan rindukan segala hal yang mengisi 25 hariku disini.

Penampilan Kelas Satu "Sulawesi" dalam Pesta Rakyat Sumbarang - photo by "Pubdok Gerakan UI Mengajar Angkatan 5"

----

Tiba waktunya pulang...
31 Januari

Kami katakan pada anak-anak kalau mobil jemputan akan datang sekitar pukul sepuluh. Namun, aku ingat sekali kalau sekitar pukul 7, mereka sudah ramai di depan jajaran rumah tempat kami berteduh selama ini. Aku ingat pagi itu ada Azam yang datang pertama kali, kemudian datang lagi anak-anak yang lain. 

Pagi itu aku habiskan dengan bermain dan bernyanyi dengan anak-anak. Aku rasa, aku cukup sesak di dada untuk meninggalkan mereka yang polos-polos ini. 

Semakin siang, semakin ramai anak-anak yang datang. Aku diberikan kenang-kenangan oleh beberapa anak, tentu yang paling menarik untuk aku adalah para surat yang mereka tulis.

Tiba waktunya pulang.
Aku dan teman-teman tak lagi sanggup tahan air mata, sama seperti beberapa warga. Ntahlah, kami tahu kami bisa kembali kapan saja dan mereka akan menerima dengan ramah. Namun, kepulangan ini rasanya mengambil separuh dari hati yang sudah lama bahagia disana.




----

Setelah sampai di Depok, Bu Nela mengirimkanku gambar ini, katanya... "Anak-anak kangen Bu Putri"



You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe