Dari Balik Jendela

01.59

Aku suka jendela ini.
Tepat disamping bantalku merebahkan kepala
Ketika mentari bersinar, ia langsung membangunkan

Setiap pagi aku sempatkan membuka jendela. Dari sini aku bisa melihat kesibukan pagi di sebuah stasiun, remah-remah suara kereta. Derap kaki yang aku imajinasikan suaranya, pasti cepat-cepat. Pasti tak sempat lihat berapa semut yang terinjak, berapa senyum yang terlewat, atau sapaan yang tak terbalas.

Sabtu pagi aku kembali buka jendela. Seseorang setengah berpakaian Donald Duck mulai membersihkan sisi parkiran stasiun. Aku melihatnya masih penuh semangat di tengah orang-orang yang lewat. Ia membawa kursi, tentu saja kepala kostum Donald, dan benda terlihat seperti kaleng dan speaker. Sebentar lagi, Ia akan memulai pekerjaannya.

Aku tinggalkan jendela menuju ruang tamu. Aku bereskan sedikit sebelum menggelar alas yoga. Menuju laptop dan membuka salah satu akun You Tube. Pagi itu aku yoga. Sejenak hengkang dari segala pikiran. Berulang kali aku katakan bahwa aku butuh berdamai dengan segala yang ada, diriku, sekitarnya, yang terlihat, terasa, ataupun tidak keduanya.

Yoga pagi selesai. Aku iseng kembali ke kamar. Aku tengok jendela sebentar dan kudapati Donald sudah menari-nari. Beberapa pejalan kaki berhenti dan memasukkan koin ke kaleng. Aku lihat gayanya yang ceria setiap koin masuk. Ku bayangkan suara koin bertemu koin atau koin bertemu dinding kaleng. Mungkin setara dengan semangatnya.

Aku berpaling menuju ruang tamu dan dapur lagi untuk beres-beres. Lalu mandi, membuat sarapan, dan sarapan di depan TV. Tiba-tiba rasanya sepi, ya tentu saja karena memang sedang sendiri. Aku lanjut termakan pekerjaan di depan laptop. Awalnya ini hanya iseng, tapi setelah dijalani lumayan membuat aku berkenalan dengan dunia yang bahkan selama ini aku rasa sulit. Hahahaha. Ternyata itu salah. Pada bagain sulit dalam hidupmu, mungkin kamu perlu pecah-pecah hingga menemukan sepersekian yang bisa kamu masuki bahkan mulai kamu sukai. Woooo. Pekerjaan selesai. Insight yang aku dapat pagi itu adalah menegaskan lagi (setelah magang) kalau bekerja dari rumah (atau dimana pun yang bukan hanya di kantor Senin - Jumat) sepertinya memang menyenangkan dan jadi yang aku harapkan nantinya, Hahaha. 

Waktu menunjukkan hampir siang hingga cahaya dari jendela besar dekat TV agak mengganggu. Aku putuskan menutup setengah kordennya. Aku kembali ke kamar untuk menaruh laptop dan menggantinya dengan bahan menyenangkan lainnya. Lagi-lagi aku tertarik menengok Donald. Ia masih disana tetapi tempatnya jadi bercahaya, panas. Aku bayangkan menggunakan kostum setebal itu di tengah panas siang ini. Banjir keringat pasti. Hanya saja suara koin bertemu kaleng atau koin bertemu koin mungkin masih ampuh jadi penghapus keringat. 

Ku tinggalkan jendela untuk beradu dengan bacaan. 

Handphone berbunyi, ada panggilan masuk. Aku menghabiskan cukup lama bercerita dengannya di seberang sana. Menikmati Sabtu yang tak bersama-sama karena sudah dibayar hari Rabu lalu. Malam minggu berganti malam Kamis karena alasan UAS (hahahaha). Ada banyak cara untuk tunjukkan sayang selama kamu memang niat. Saat niat itu ada bahkan bahagianya lebih daripada yang kamu perkirakan sebelumnya.

Okay, bukan waktunya bicara sayang dan cinta yang tak akan habis-habis itu. 

Telepon ditutup. Kudapi langit mendung mengganti terang. Aku buka lagi setengah korden tadi. Suara gemuruh tentu menemani, kilatan petir juga malu-malu muncul. Sebentarnya aku bersyukur karena Donald jadi tidak kepanasan. Namun, tidak lama aku sadar kalau hujan mungkin akan lebih menyusahkannya dari panas.

Aku kembali dilumat bacaan.
Hingga...

suara hujan bertemu jendela, atap, batu, dan benda padat lainnya. Sore jadi ribut dan gelap . Petir tak malu-malu lagi. Aku merasa tidur pasti jadi pilihan cerdas untuk suasana seperti ini. Aku matikan TV dan masuk kamar. Aku ingin tutup jendela tetapi jadi terbengong karena Donald. Ia masih menari-nari disana, saat orang-orang bukan hanya terburu-buru tapi berlari-lari. Aku tak paham apa suara koin bertemu kaleng dan koin lainnya akan masih ada saat hujan begini deras dan petir menyambar-nyambar. 

Aku diam saja memandangnya. Berulang kali aku hitung mundur 5 - 4 - 3 - 2 - 1 berharap ketika sampai 1 ia berlari berteduh. Sampai dua kali kuulang, ia masih menari-nari. Aku ulurkan tangan untuk rasakan hujan. Mungkin tak sama seperti basahnya yang ia rasakan. Lambat-lambat kulihat ia merapikan kaleng dan ternyata speakernya sudah tak ada lagi (mungkin diselamatkan dari tadi). Ia membuka kostumnya, dimulai dari bagian kepala. Kemudian lanjut hingga tak ada lagi bagian Donald yang kulihat. Lalu, ia berlari menyingkir. Hilang.

Aku merebahkan badan di atas kasur empuk dan para boneka monyet. Aku merasa rindu.

---

Aku rasa ia seorang Bapak...
Mungkin sedang ditunggu anaknya di rumah
Mungkin sedang ditunggu istrinya juga

Ia akan belikan oleh-oleh untuk anaknya
Itu akan diberikan sambil memeluk anaknya
Lalu, anaknya melompat bahagia
Bapak pun lega

Istrinya akan menyambut dengan teh hangat dan handuk
Bercengkerama sambil menunggu air hangat untuk mandi

Ia akan ceritakan bagaimana Donald menari pada istrinya
Ia juga akan selipkan bahwa ia ingin anaknya tak jadi Donald
Istrinya akan mengangguk tanda setuju

Air sudah hangat
Bapak itu akan mandi
Istrinya sibuk di dapur menyiapkan makan malam
Anaknya masih bertabur bahagia bersama oleh-oleh

Malam tiba
Mereka makan bersama
Lalu, tidur dilumat kelegaan malam
dalam kesederhanaan hidup, mereka bahagia
dalam kesederhaan itu, mereka berusaha

---

Aku berharap setelah Bapak itu hilang dari pandanganku, alurnya akan seperti itu. Aku jadi ingin mengintip dari balik jendela rumahnya yang ntah dimana.








Aku kangen Bapak.
Putri





You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe