Tak Sadar Rindu

07.40

Hai Rindu...
Aku ingin katakan bahwa kamu datang disaat yang tepat
Ketika aku bisa membayarmu sedikit demi sedikit

---

Masa lalu datang. Tak ada pertanda jauh-jauh hari sebelumnya. Hanya saja tiba-tiba aku seperti digempur, dilumat, dan diminta tunduk. Kemudian, aku keluar sendirian dan tersadar bahwa aku tidak ada di jalan yang sempat aku bayangkan. 

Aku didiamkan oleh kenangan. Aku tata lagi satu per satu bayangan. Potongan khayalan dan puzzle kenyataan. Aku bingung.

Aku ijinkan rindu masuk. Rebut haluan hingga aku tersadar aku menjadi penikmat tontonan lama. Aku lakukan apa yang dulu aku pernah lakukan dan saat ini tidak lagi. Aku merasa dihidupkan kembali. Aku ternyata rindu tapi tak sadar. Hingga rindu jengah dan mendatangkan pintu kesempatan untuk aku buka. Aku dekati karena ingin buka, aku ketuk tapi tak ada yang bukakan. Lebih keras tapi tak dijawab. Aku rasa harus aku dobrak.

Sakit. Lelah. Kaget.
tapi diakhiri dengan terharu, bahagia, dan lega.
Itulah ketika aku dobrak pintu kesempatan yang dibawa rindu.

Senja kemarin di Surabaya, kabarkan bahwa rinduku terbayar lunas.

Sudah lama aku tak pegang piala bertuliskan "debat". Sudah lama pula aku tak rasakan berdiri menjadi pembicara kedua dan kesimpulan, bermalam-malam bertiga untuk cari celah dan menutup celah, atau berpikir cepat untuk jawab interupsi. Sejenak rinduku tak hanya pada suasananya, tapi aku juga rindu kami "Chyntia, Putri, Viennita". Dulu, aku tak pernah turun debat jika tak dengan mereka. Aku rasa tim dimataku seperti itu atau aku saja yang terlalu konvensional tentang "tim". Bersama mereka aku belajar, jadi berani bicara. Sekarang, tanpa mereka aku bisa pahami bahwa aku bisa karena saat itu kita belajar. Haaah, mungkin kita bisa satu tim lagi :') hahahahaha





----


Aku ingin ceritakan rindu lain yang juga datang.

Sederhana. Aku hanya diminta untuk berdamai dengan para alur, huruf, jemari, dan imajinasi. Tentunya semua akan damai ketika waktu juga berdamai. Awalnya, aku pahami ini sebagai cara lain untuk dapatkan imaji, sayangnya waktu tak ijinkan imaji yang kudapat, bisa kutulis dan kusayangi. 

Rasanya saat itu lelah. Hingga "ia" bangunkan dan katakan,"Semuanya tak harus urut dari kiri ke kanan atau atas ke bawah. Kamu tetap bisa satukan walaupun lompat-lompat."  Iabenar! Saatnya merapikan lagi para kertas dan idea yang beterbangan. Lalu lihat lagi mana yang masih lubang dan kumpulkan. 

Saat ini, baiknya aku siapkan diri bertemu pena"sebentar lagi". Ini hanya sesederhana, aku perlu waktu dengan penaku. 

---

Hari ini aku rayakan juga kebangkitan 18 :') Saat Ayah izinkan aku lebih berpikir, lebih mandiri, dan lebih percaya bahwa pasti ada jalan untuk ia yang siap melangkah :)



Putri

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe