Benderang di Jalan Ini

16.23

Kadang rasa itu tiba-tiba datang.
Sulit aku deskripsikan.
Mengalihkan dan membuat lebih banyak energi diperlukan untuk menguatkan.
Jujur kadang perlu lebih banyak diam,
tanyakan pada udara yang keluar masuk hidung,
"apa maksudnya?"

Aku  harus tanya kotak-kotak memori dalam otak.
Aku harus dengar baik-baik apa kata kenangan.
Kadang ia hanya tersenyum diam tanda bahwa harusnya aku tahu jawaban tanpa perlu bertanya.
Kadang juga ia tunjukan arah agar aku dapat jawaban.
Sekali lagi, ia tunjukkan ke depan. 
Jawabannya ada di depan.
Ternyata yang ia simpan adalah energi untuk ke depan dan tak ada jawaban tepat di dalamnya.

Suatu malam aku dilumat oleh lelah.
Kabar bahagia jadi ambigu.
Kabar sedih juga ambigu.
Bukan apa-apa, mungkin karena aku bukan subjek dari kabar itu.
Jadi, rasanya juga hambar, terlebih kecut sedikit.

Apa aku berharap masuk ke ceritanya?
Aku rasa aku akan menyesal jika kemarin mengizinkanku menjadi.

Lalu, apa yang aku pertanyakan?

Ini saja sudah bahagia.
Terlepas dari berbagai predikat.
Aku menghadap pada-Nya mungkin dalam teduh tanpa pusing banyak hal.
Aku berserah pada-Nya dalam syukur akan segala hangat sampai sekarang.

Lihat kiri kanan depan belakang.
Semua seperti bahan pelindung yang berikan aku kepastian akan baik-baik saja.
Aku tahu kepastian bukan kepastian jika masih menyandang status keduniawian.
Tapi pada-Nya, aku katakan bahwa jalan ini memang indah untuk aku tempatkan diri.

Bukan di jalan yang lain.

Disini benderang.
Tempat yang sejuk dan tenang.
Apa yang di tangan akan berpindah tangan lalu kembali dalam bentuk lain.
Disimpan hangat dalam dekapan yang tersayang.


Disini benderang.
Tempatku sekarang.


Ingat tuliskan...



You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe