Antara Cahaya dan Gelap

10.28

Disini kita bicara berdua, 

Hampir setiap malam aku ingin tuliskan semua cerita-cerita kita
Bersama cahaya...
Bersama gelap...

...

Termasuk saat September berakhir...

Saat itu aku lelah dengan cahaya dan memilih berakhir dalam gelap. Mungkin mata juga lelah dengan pemandangannya yang kadang memecut hati, seperti jalanan berdebu yang diisi beberapa orang duduk menunduk dengan mangkuk, bapak tua pagi-pagi membawa karung mengais tumpukan sampah, hingga anak-anak tak sekolah yang bersusah pagi senja bahkan rela berbohong agar dapat makan. Aku merasa ingin buta daripada melihat tapi tak lakukan apa-apa. Kadang menunduk jadi pilihan. 


Gelap ternyata menenangkan...

Mungkin ini terjadi saat cahaya terlalu gamblang memperlihatkan padamu suasana di luar sana. Suasana yang kadang buat kamu merasa bahwa ekspektasi adalah lawan bermain yang sangat lincah. Kamu akan diuji untuk menaklukannya, ia bukan takdir, tapi ujung dari keseriusan upaya. Gelap jadi jeda sebelum berhadapan dengan ekspektasi lagi keesokan harinya. Gelap jadi bagian menenangkan yang akan izinkanmu menepi sejenak untuk mengatur nafas.


Jika cahaya adalah memancar, dan gelap adalah meringkuk, 
aku ada di tengah-tengahnya ...

Maslow bilang orang yang dapat mengaktualisasikan diri adalah yang tidak terlalu terikat dengan orang lain, bukan berarti ia tidak perlu orang lain. Hanya saja, ketika dia tak ada, ia siap. Itulah yang aku ingat tiap kali menguatkan hati saat sendiri. Aku sadar bahwa mungkin aku mendefinisikan "teman" dan "sahabat" dalam artian yang berbeda dari biasanya. Mungkin seperti kontinuum, dimana yang paling kiri, siapapun bisa menjadi, siapapun bebas datang dan pergi, tapi ketika ingin sampai di kontinuum kanan, semuanya jadi agak rumit. Hmm... tapi ketika yang rumit tak terpecahkan, hal yang aku lakukan adalah ... mengingat kata Maslow. 


Tak apa, selama hidup kamu akan lengkapi puzzle-mu dan tentu tak semua bentuk akan cocok. Hanya saja keberadaannya akan selalu membuat kita belajar banyak hal, termasuk menemukan yang memang benar harusnya ada disana. Aku yakin, sekalipun bukan bagian yang tepat, ia juga jadi jembatan untuk temukan yang benar-benar harusnya disana. Tinggal, apakah kamu mau peka bahwa ini adalah proses belajar atau menolaknya mentah-mentah dan kamu kehilangan jembatan itu. Tanpa jembatan, kamu tak juga temukan yang tepat.

---

Sisi lain antara cahaya dan gelap....


Antara cahaya, gelap, dan cahaya lagi, disana aku dan dia biasanya berbagi...
Kamu akan tahu rasanya bersyukur ketika ada yang siap angkat kamu saat jatuh, yang siap tunjukkan jalan ketika kamu bingung, yang jadi pendengar ketika kamu penat, dan buat kamu tertawa dari hal-hal ringan. 

Dialah satu keindahan saat aksen cahaya dan gelap menyatu.
Hal yang selama ini selalu siap jadi gelap saat cahaya menusuk.
Hal yang selama ini selalu siap jadi cahaya saat gelap menenggelamkan.
Tempat tertawa saat gelap mengabaikanmu sendirian.
Tempat pulang yang selalu dirindukan saat cahaya datang.

Tempat tertidur tanpa beban.


Oktober yang baru datang...

Katakan padanya bahwa aksen warnanya sangat indah.
Katakan padaku bahwa kami bisa berbagi diantara cahaya dan gelap
Tentang cahaya...
Tentang gelap...
atau aksen keduanya 
Seperti saat ini
Seperti biasa



Putri





You Might Also Like

2 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe