Suatu Hari

19.18

Lama sekali rasanya sejak cerita terakhir di surat kemarin. Bahkan aku pun belum bilang bahwa September dimulai, padahal sebentar lagi ia berakhir. Aku juga tidak bercerita kemana saja malam menculikku, pagi mengembalikanku, lalu siang hingga sore kadang hidup, kadang setengah hidup. 

Aku ternyata telah salah membiarkan waktu di atur hari, hari di atur minggu, kemudian berakhir di bulan...
Aku kehilangan banyak kata yang aku simpan di kepala. Untung saja pagi ini mengembalikanku pada kesederhanaan menulis denganmu. Aku akan tulis sejenak tentang... "suatu hari"


Suatu Malam...

Kamu tak bisa katakan yang gelap selalu menakutkan. Kadang ia bisa bawa kamu ke alam paling indah, seindah berbagai hal imajinatif yang pernah kamu repres atau supres. Mungkin karena merasa itu tak mungkin bisa terjadi. 

Aku menyerah kalah pada malam karena ia berhasil buat aku cinta kegelapan yang menenangkan, yang bersedia terima segala lelah untuk dihapus pelan-pelan, dan pelukan panjang agar pagi esoknya aku bisa melangkah cepat. Bahkan esoknya, aku melangkah untuk meninggalkan malam berlama-lama. Itu yang selalu malam berikan. Ketika aku kembali, ia selalu ada lagi untuk menenangkan, menerima, dan memeluk tulus.

Apa yang bisa aku lakukan untuk berterima kasih pada malam? 



Suatu Sore...

Masih duduk di sekitar banyak orang dengan berbagai makanan minuman di atas meja. Menggoda untuk dihabiskan, tapi lebih menggoda untuk didiamkan untuk obrolan dengan yang di seberang. 

Ada cerita yang kunikmati tanpa perlu aku pahami. Ada tawa yang aku keluarkan tanpa perlu malu dilihat banyak orang di sekitar. Ada cerita yang takut aku utarakan tapi tak bisa lama aku pendam. Aku atur kata-kataku berharap itu jadi ungkapan paling halus hingga sakitnya tak terasa. Aku takut buat sore ini tak bisa mengantarkanku pada malam tenang.

Aku tak seimbang dengar jawabannya. Jauh lebih halus daripada kata-kata yang aku susun. Tak ada kata yang diiringi benci padahal untuk 0rang yang aku rasa sedang membawa pedang dari belakang, siap menusuk. Aku diminta ikut bahagia ketika yang lain sama, aku diminta untuk berdamai dengan sumber ketidakdamaian ku selama bertahun-tahun. 

Aku rasa sore benar.
Aku yang menghindar hingga tak lagi kutemui ketidakdamaian itu sekejap.
Namun, sekejap kemudian, tentu saja ia mungkin muncul karena aku masih menamainya "ketidakdamaian". Kalau saja aku ganti dengan "calon kedamaian" mungkin efeknya tak akan seperti ini. Aku akan ganti nama si "ketidakdamaian" sampai hilang dan tak ada lagi yang buat aku risau. 

Apa yang bisa aku lakukan untuk berterima kasih pada sore? 
Aku hampir takut sore itu diambil satu nama yang juga ada di seberangnya, bahkan lebih lama dari aku. Tapi sudahlah. Sore terlalu singkat untuk kamu miliki. Biar saja sisi hari ini boleh juga jadi bagian yang indah untuk yang lain.



Suatu siang...

Terik tanpa ampun. Semua rasanya ingin berteduh termasuk si peneduh. Aku berkeliling di jalan yang sisi kanan kirinya masih hijau. Aku diteduhkan siang ini sampai terik tak banyak terasa. Aku diantarkan lihat sisi lain banyak hal. Mulai dari para mata orang-orang, cara mereka menggerakkan badan, bagaimana wajahku di depan cermin. Aku juga dengar berbagai hal, mulai dari apa yang mereka suka, apa yang mereka benci, obrolan tentang pekerjaan, pengalaman, dan lain-lain. 

Aku lihat orang yang di dalam mobil sambil bernyanyi, aku juga lihat orang yang berpanas-panas mendorong gerobak. Aku lihat anak yang tangannya digenggam ibu saat pulang sekolah, aku juga lihat anak yang menggendong adik kecilnya untuk meminta-minta. Aku lihat orang tertawa, aku lihat orang merengut sedih. Aku lihat orang yang bersama-sama, aku juga lihat yang sendirian. 

Dikotomi yang selalu buat aku berpikir, bisahkan semuanya saling bergeser agar tak ada yang benar-benar di ujung kontinuum?

Siang berikan aku makna mata untuk melihat banyak hal. 
Apa yang bisa aku lakukan untuk berterima kasih pada siang? 


Suatu pagi...

Setiap pagi aku jadi bagian yang ambigu, antara si sibuk dan si diam. Aku kadang menjadi orang yang berjalan cepat, bagian dari para sibuk, tergesa-gesa, nafas terengah, dan melanujutkan segala aktifitas di luar. Kadang aku jadi si diam yang santai menunggu kereta, tak dikejar sampai harus berimpit di kereta, setidaknya punya waktu untuk pilih yang luang. Aku bisa jadi si diam yang mengedarkan pandangan kesana-kemari menangkap kesibukan dan ke-diam-an suatu pagi.

Aku rasa aku suka jadi si diam yang tak dikejar apa-apa suatu pagi. Aku punya tujuan yang menunggu sabar disana. Aku melangkah ringan, pelan-pelan dan belajar. Itu nikmatnya pagi.


Apa yang bisa aku lakukan untuk berterima kasih pada pagi?



----


Hariku selesai.

Putri



You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe