Suara Piano Membuka Cerita

15.11

Dear Ayah...


Huaaah! Pagi-pagi buta aku terbangun. Masih pukul 02. sekian-sekian WITA. Sudah tahu kegiatan yang harus dilakukan adalah "membayar hutang membaca" yang akhir-akhir ini mulai berkurang. 
Membaca baru beberapa lembar, dirunyam dengan dentingan piano dari @nugrahabimaadi . OH GOD! Semua kata-kata tiba-tiba berputar di kepala, jari-jari jadi gatal. Jadilah, buku sementara diletakkan dan aku bermain denganmu saat ini. "Bim, lo mesti tanggung jawab, hahaha! Parah ah!" -baru sadar sudah denger semua rekaman piano yang di-upload mantan ketua ini di instagram- Bagus. Bener-bener bagus bikin orang batal tidur! Request pianonya Lagu Rindu dong, biar makin nusuk.


Runyam yang sendu.

----


Terlepas dari rekaman piano itu, aku memang sudah ingin bertemu kamu, cuma selalu tertunda karena Narnia. Ah! Anak ini baru selesai nonton Narnia dikala semua orang sudah beralih ke film Jurassic World. 

Hmm... satu perenungan ketika hari ini dihabiskan sepanjang hari di rumah saja adalah "tubuhmu lelah berhadapan dengan angin di jalan, maka jangan salahkan diri ketika semua janji dibatalkan semesta dan kamu terkulai tidur saja".

Yah...

Banyak hal yang telah berlalu beberapa hari ini. Mungkin, bisa dibilang ini klimaks dari liburan yang beberapa hari lalu ditawarkan klimaks yang lain. Aku pulang dengan berbagai macam rencana yang biasanya setengah gagal sampai aku kembali lagi ke Depok. Lalu, perasaan "tidak berbuat apa-apa" pun biasanya menyergap masuk tanpa ampun.

Sekarang, semua itu tidak aku izinkan masuk. Tidak akan aku izinkan dengan cara membuat to do list yang ketika bangun sudah menohok mata untuk dilihat dan gatal untuk dicentang. 12/26 -nya lah sudah tercentang. Waktuku tak banyak lagi disini, sisa kira-kira 24 hari lagi. hmm... setengahnya ini semoga selesai.

Klimaksnya dimana?
Ayah juga pasti tahu, adanya tanggal 23 Juli lalu. Ntahlah, alasan pulang untuk merayakan Hari Anak disini seperti bayi yang menendang-nendang sejak awal semester 4 lalu. Meski pulang ke Bali dengan tangan kosong, ternyata Ia tak mengizinkan aku kembali ke Depok tanpa cerita. 

Tiba-tiba saja waktu lari pagi aku bertemu dengan kerumunan anak-anak yang sedang bernyanyi untuk Angeline. Lalu, aku dekati, kami mengobrol. Lalu, tia-tiba saja tanggal 23 kemarin, aku dan teman-teman, serta anak-anak itu sudah tiup lilin bersama. 

Aku suka bilang itu tiba-tiba karena itu dari-Nya, mungkin ada "sesuatu" di tengah tiba-tiba itu yang harus dilalui. Ya, itulah prosesnya, itulah yang aku tahu, yang aku cecap. Lalu, hasilnya tetap miliknya yang diceritakan pada semesta dengan aku sebagai salah satu pemeran di dalamnya.

Aku bingung harus bilang betapa bahagianya ada disana, ditemani sembilan teman baik yang mau ikut berangkat sama-sama. Melihat mereka bisa bercerita , tertawa , dan berfoto bersama, jadi bumbu yang membuat liburan ini semakin membahagiakan untuk aku. Manis dan gurih ketika dari jendela aula aku mengintip kebersamaan itu. 

Aku rasa aku jadi orang paling bahagia kali ini yang mimpinya dibiarkan berlari ke alam nyata, diberikan tambahan rasa-rasa yang berakhir bahagia. Aku bahkan bingung menuliskan seperti apa cerita lengkapnya. Masalah klasik "tak tahu bercerita darimana" ternyata menghampiri untuk Putri yang sedang bahagia.

Aku pasti lanjut bercerita saat para kata sudah tersusun benar dalam kepala, hahaha. Aku akan memulai lagi ceritanya untukmu yang sudah luangkan datang ke rumah suratku.



Makasi sudah membantuku darisana Ayah,


Putri

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe