Dikotomi Pagi

15.58

Dear you...

Lama rasa ini tidak pernah menampakkan dirinya.
Terlanjur terkubur dalam... sangat dalam hingga sekarang aku takjub dia bisa keluar.
Ia tembus dindingnya. Ia robek sekat-sekat penghalangnya.

Aku sekarang ada di antara keduanya.
Pertama, takut
Kedua, senang karena rasa takut itu akhirnya kembali berkunjung

Suatu waktu aku lakukan kesalahan.
Juga antara keduanya, -sengaja- karena aku masih punya waktu untuk berpikir aku harus apa, atau -tidak sengaja- karena aku tak bisa berpikir baik dengan waktu yang aku punya itu. Akhirnya kelakuan tak diharapkan yang muncul.

Lalu, seseorang aku buat kecewa oleh perbuatan itu.
Pilihannya dua lagi antara aku -yasudahlah- biar sampai kecewanya habis atau aku juga sedih karena telah mengecewakan.

Masih wajar, yang terjadi padaku adalah -sedih-
Cuma... 
sekarang ditambah takut. 
Hmmm... ini sudah lama tak hadir, bahkan aku hanya samar-samar ingat apa yang aku lakukan dulu untuk menghilangkannya karena rasa ini kadang membuatku semakin tak karuan langkahnya. Rasa dimana kamu takut segalanya sayup-sayup membuat jadi abu-abu atau akhirnya hilang dibawa kabut. 

Jadilah aku patung yang takut bergerak. Takut salah langkah yang bisa hancurkan kelekatan yang sudah dibuat untukku. Apalagi akan sangat mungkin kalau ini terjadi. Apalagi, aku sejenak merasakan beberapa mata memandang dengan tak biasa. Mungkin salah satu pasang atau lebih, sedang membenahi diri agar hatinya menoleh sedikit. Wajar. Siapa yang boleh mengambil hak orang lain untuk suka? Tak ada. Lalu, hal ini menyisakan PR, yaitu -tak boleh benci-

Sekarang aku akan coba berpikir dalam diam. Tak boleh jadi patung terus yang biarkan semenit kemudian, ada angin kencang sekali lalu aku jatuh dan pecah berantakan. 

Lebih dari itu...
Setidaknya aku tahu, kalau untuk yang satu ini, ia sudah masuk ke dalam dan berhasil mengeluarkan rasa yang sempat aku rindukan ada. Aku bahagia karena rasa takut ini akhirnya tampak keluar. Aku diyakinkan kalau tak mau ini rusak. Lama sudah aku tak punya niat yang menggenggam seperti ini. Biasanya, aku serahkan padanya yang punya daya untuk lakukan apapun terserah dan kemudian ketika ia menyerah, aku pun sama. Sayangnya, mungkin itu tak akan ada lagi kali ini. 




Art


dan bahkan tak banyak orang
yang aku tuliskan -rasa-nya disini
jika hanya cerita, aku pasti ceritakan
tapi ini tentang rasa
-dikotomi rasa

dia bisa buat aku bercerita denganmu

np

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe