Pluviophile

12.06

Ini seperti naskah yang aku ciptakan sendiri, ehm... tentang dua pluviophile yang awalnya tak sadar bahwa yang bersamanya selama ini adalah takdirnya.


Kira-kira lima tahun yang lalu, saat awal aku ada dalam dunia kata-kata.  Tak ingin bertemu hal-hal nyata. Lalu, tercipta satu alur yang aku katakan pada langit pagi saat bangun tidur, kalau alur itu serpihan imaji, tak berharap jadi nyata, tak berlanjut begitu saja dalam jajaran huruf oleh pena.

Waktu itu tokoh utamanya kamu dan aku. Kenapa aku? Ya karena aku yang punya pena. Kenapa kamu? Nah, itu dia yang belum terjawab. Bahkan sampai sekarang aku lupa bagaimana aku menggantungkan cerita itu. Iya, cerita itu gantung, belum selesai, tapi aku lupa simpan dimana. Hal pasti yang aku ingat, tokoh utamanya itu aku dan kamu. dua pluviophile

Lalu, beberapa waktu kemudian - masih lima tahun yang lalu - kita dipertemukan takdir. Hanya saja, takdir tak bilang apa-apa, burung pun tak berkabar. Hanya satu hari. Bukan! Beberapa jam. Lalu, dua pluviophile berpisah.

Berakhir.

Semua sibuk dengan urusan masing-masing, termasuk kita. Semua juga sibuk dengan urusan hati masing-masing, termasuk kita. Semua juga sibuk memilih  kota lanjutan dari petualangan hidup, termasuk kita. Dalam setting berbeda, orang berbeda, dan pilihan berbeda. Rasanya bertemu lagi artinya gerakan dunia maya saja.

Lalu, diakhir berakhirnya rahasia takdir yang sudah lelah dengan kita berdua yang tak kunjung paham makna firasat. Ia katakan kita harus bertemu lagi setelah satu kali lima tahun yang lalu itu. 

Sayangnya, tak juga buat aku paham maksud dari pertemuan. Apalagi takdir masih menetapkan aku jadi penghuni rumah baru. Aku katakan pada seorang teman bahwa rumah itu memang megah tapi aku tak ingin tinggal lama. Mungkin karena tak cokelat seperti adanya kayu-kayu yang meneduhkan, banyak yang berbeda di mata, beda juga bicaranya pada kenyataan. Jadi, aku menunduk dan bersiap untuk tentukan pilihan. Mungkin memang akhir.

Belum aku katakan bahwa seharusnya ini selesai, kita bertemu lagi dalam settingan berbeda. Tak ada bahasan sisi organik dari hidup, tak ada fotosintesis, dan istilah-istilah yang dulu membuat kita bisa dalam pertemuan dan terperangkap rahasia takdir. Pertemuan kali ini membuatku terusik tapi aku tak cukup paham cara tahu apa maksudnya. Apa aku harus berlatih jadi cenayang dulu agar lebih peka sedikit?

Aku katakan - sudah selesai - pada suatu pagi. Ternyata siangnya, kita bertemu lagi. "Apa-apaan ini!" Aku mulai main tebak-tebakan pada takdir yang tiba-tiba bersembunyi ntahlah dimana.

Sekian ketidakjelasan rahasia takdir. Hingga aku larut dalam doa suatu malam yang mengantarku tidur juga - aku berdoa agar rahasianya dibuka saja. 

Kejelasan mulai mengambil biola, memainkan nada-nada yang membuat mataku (dan mungkin juga matamu) jadi terbuka. Jadi ini maksud potongan-potongan ketidakjelasan yang lalu. Takdir sudah gemas lihat kita berdua tak paham maksud firasat yang sesekali diberikan. Apa kita berdua perlu jadi cenayang? Hahahaha, ide buruk. Kadang kamu hanya perlu bicarakan yang kamu rasakan dan ingin tanyakan. Lalu selesai, kamu dapat jawaban dan tak perlu jadi cenayang.

Baiklah...
 Kita putar lagi film ini ke titik klimaks saat takdir menyerahkan pada kita, mau apa? Kita terbengong-bengong, bukan tak paham, tapi tak sangka bisa jadi begini. Lalu kita saling tanya, tukar kata, dan ... kemudian berlanjut di kemudian hari.

Kemudian hari adalah ketika satu kejutan pertama datang. Kita ada di lorong dengan kiri kanannya dipenuhi alur cerita. Semakin mengejutkan lagi karena kamu paham alurnya dan ceritakan padaku. Paling mengejutkan ketika kamu yang pilih tempatnya tapi aku yang super bahagia. 

Lorong berakhir, kaki berhenti, tapi ada hal baru yang dimulai.

Singkat cerita, seperti baru sembuh dari sakit bertahun-tahun, segalanya jadi berwarna  pastel kesukaan. Aku juga baru sadar kalau kita sama-sama pluviophile. Makanya ketika hari pertemuan lain datang bersama angin dan hujan, kita memilih tetap duduk, lalu semakin deras, baru kita beranjak, tapi tak buru-buru. Kita malah menyanyi lagu-lagu senada dengan indahnya sentuhan hujan ke danau yang disapu angin. 


Ketika orang bilang begitu cepat dua pluviophile ini bernyanyi di tengah hujan bersama. Apa perlu aku ceritakan padanya bagaimana permainan takdir beberapa tahun ini?  




💏


Salam hangat,
sepasang Pluviophile

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe