Apa Rasanya?

10.28

Do you know?
For the first time,
I'm scared
I'm jealous
I'm feeling lonely

Baiklah, gabungan kata-kata sedih itu jadi pembuka mata yang sudah berkabar bahwa ia ingin ngaso sebentar. Ekspresinya dari hati, suaranya naik turun seakan tekanan emosi itu masih sisa dan akan selalu ada disana. Aku menegakkan punggung dan berusaha duduk dengan rapi. Mataku memulai saccade ke sumber suara itu. Ketemu. Seorang Ibu.

Kuliah kali ini bersamanya, kira-kira satu setengah jam ke depan. Topik kuliahnya -bisa kalian simpulkan setelah selesai baca ulasan ini-

Di depan sana ia memulai dongeng tentang bagaimana rasanya ketika ia tahu bahwa anaknya adalah tuna rungu ditambah adanya spektrum autistik. Saat itu ia katakan,"Nilai yang saya bawa sejak dulu, perfeksionis, totalitas, serasa harus saya musnahkan dan telan sendiri."

Aku coba minta imajinasiku berlari ke dua puluh enam tahun silam miliknya, saat ia melahirkan anak perempuan yang dinanti-nantikan. Hmm... sulit, TAPI akhirnya ketemu!

Katanya, walaupun banyak yang bilang tidak apa-apa, banyak yang ada di dekatnya dan siap mendengar cerita, tapi orang-orang itu pasti tak paham betul apa rasanya. Tak paham betul sedihnya, cemburunya melihat anak-anak lain, dan khawatirnya akan masa depan buah hatinya.

Hanya saja badai tak akan selamanya badai, bukan? Ia akan lelah dan berhenti. Ibu ini berdiri lagi, berusaha cari celah bagaimana permata hatinya ini bisa punya masa depan secerah apa yang ia impikan.

Ketika mendengar ini, rasanya sama seperti saat aku menonton film Temple Grandin. Terenyuh~ 

Tak mudah. Ia bawa anaknya ke tempat kursus renang untuk berlatih, tapi ditolak. Padahal renang tak pakai suara bukan? Ia berusaha ajarkan bicara agar anaknya tak pakai bahasa isyarat, tapi kelelahan anaknya saat itu mengendurkan ambisinya.

Perjuangan tak pernah gagal, semuanya berhasil. Tinggal seberapa tingkat berhasilnya? Tapi tanpa berjuang, ya kegagalan itu mutlak.

Anaknya jadi besar. Meneruskan sekolah di Singapura, berprestasi renang tingkat internasional, mengikuti berbagai konferensi tentang disabilitas, dan sekarang sudah menikah dan tinggal bersama di US. 


Nafasnya perlahan jadi teduh seiring ia minta kami membuka-buka buku yang ia tulis dan berikan secara cuma-cuma pada kami. Ada foto-fotonya, cerita-cerita tentang anaknya, dan berbagai kata-kata cantik -cara ia menyemangati diri untuk tetap melangkah-



11 Mei 2015 - H.108

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe