Sunyi

16.09


 Disana kamu tak dengar pujian, tak juga dengar celaan. Saat itu ada prasangka dan dalam hati kecil bertanya,”Mereka bicarakan apa?”

Kesunyian ini menempel padaku sejak aku lahir. Aku terbiasa melihat warna-warna, tapi aku tak dekat dengan kata merdu. Awalnya, aku dijauhi teman-teman walaupun aku sudah memendam rasa maluku dalam-dalam untuk dapat dekat dengan mereka. Tapi mereka lebih suka bicara tanpa aku.
Ibu yang selalu temani aku. Darinya, sedikit demi sedikit aku mengenal makna merdu, hengkang pelan-pelan dari kesunyian.

Tiba waktunya. Anak-anak memulai hari di sekolah. Aku saat itu adalah anak yang sangat bersemangat untuk sekolah. Saat itu aku merengek ingin masuk sekolah umum seperti teman-teman.

Selain ajarkan merdu, Ibu dan Ayah mengabulkan mimpiku untuk duduk di kelas yang sama dengan teman-teman.

 Sebelumnya, aku sudah belajar keras untuk bisa membaca jajaran huruf yang bisa anak-anak lain lafalkan, bahkan mainkan nadanya. Ibu dengan gesit berikan aku terapi wicara agar otot-otot tenggorokanku ini lentur sedikit untuk mengeluarkan suara – sesuatu yang selama ini tidak aku dengar. Caranya? Akan ada sebuah gambar, contohnya gambar pohon, lalu dibawahnya akan ada tulisan P – O – H  - O – N. Aku akan coba membacanya dengan melihat gerakan bibir ibu.

Awalnya suara tak keluar. Aku kerahkan seluruh tenaga lagi, ternyata lafalnya tak sama. Aku coba lagi dan lagi, tidak berpindah dari satu kata sampai aku bisa melafalkan itu dengan benar. 

Bisa. Aku tidak akan berhenti dengan satu kata sampai aku benar dan biasanya benar adalah saat dimana aku berucap sambil terbatuk-batuk. Aha! Kesunyian ini gagal membuatku jadi buta huruf.

Dengan huruf-huruf, hidup ini memang jadi lebih terdengar. Ketika aku membaca sesuatu, seperti ada suara di kepalaku, persis sama seperti kalian semua, saat phonological loop bekerja, seperti itu pula juga aku. Hanya kesulitan menyuarakannya.

Jika bersuara sudah bisa, mendengar suara otak sendiri saat membaca - aku juga bisa. Lalu, mendengar kamu bercerita?

Waktu itu aku pernah tinggal kelas di sekolah dasar. Awalnya, tak ada yang sadar dengan kesunyianku ini –karena aku bisa membaca seperti anak-anak lain-. Hingga seorang guru memanggilku berkali-kali dari depan kelas, tapi aku tak merespon. Sebuah sentuhan hadir di pundakku. Aku terhentak. Aku memandang guru yang ekspresinya berbeda. Aku ucapkan,”Maaf Pak.”

 Hmm... Ini bukan pertama kalinya aku tak menoleh, tapi ini pertama kalinya sang guru memanggil orang tuaku. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Berkali-kali aku tanya Ibu, tapi tak dapat jawaban. Lalu, aku tanya Ayah juga sama, sunyi tanpa jawaban. Mungkin mereka lupa, sekiranya mataku bisa menatap mata mereka yang cahayanya berbeda. 

“Sang guru memintaku mencari sekolah yang tepat”.

Aku merengek, menangis sejadi-jadinya. Tak mau di sekolahkan berbeda dengan teman-temanku. Saat itu mungkin Ibu dan Ayah bingung menanggapi aku yang seperti ini. Hanya saja, aku tak mau menyerah. Saat SD waktu itu, yang aku bisa hanya mengeluarkan rengekan sampai tangisan sekencang-kencangnya.

Aku berhasil!
bukan tentang Sunyi yang berhenti menemaniku, tapi ada sekolah inklusi yang mau menerimaku. Aku duduk di depan, dekat dengan guru, supaya aku bisa membaca gerakan bibirnya.

Sunyi tak perlu merasa bersalah karena datang padaku karena dengannya aku meraih peringkat atas di kelas hingga aku SMA. Sunyi, tenang saja, aku tak marah, selama ini aku hanya coba terbiasa.

Lalu, waktu berganti. Aku sudah jadi Mita yang sebentar lagi lulus SMA. Aku masih punya semangat yang tinggi untuk melanjutkan sekolah.

Desain Interior menjadi jawabannya. Nah, awalnya aku ingin jurusan yang lain, ini bukan jadi pilihan pertamaku. Namun, aku akan mencari yang menerimaku bersama kesunyian yang jadi sahabatku. Inilah yang jadi pertimbanganku. Tinggal bagaimana menemukan kecintaan pada yang telah berbaik hati menerima kondisiku ini.

Waktu-waktu berlalu, aku begitu bangga dengan cara-Nya membuatku istimewa. Sekarang aku berdiri di depan anak-anak ini untuk memberikan kuliah mengenai kesunyian yang aku dan orang-orang sepertiku rasakan. Perkenalkan, aku  - Ir. Rachmita Maun Harahap, M. Sn -.


***





Aku beruntung dapat kesempatan kenal Mba Mita (yang menggunakan outer bunga-bunga, berkaca mata di samping teman dengan jilbab biru). Orangnya sangat ramah, ia datang dengan anaknya (si kecil yang pakai baju putih). Saat ini beliau menjadi dosen dan mengelola sebuah yayasan bernama Sehjira Indonesia, disana diskriminasi berusaha ditiadakan dan terapi wicara yang menghidupkan kemerduan kehidupannya, berusaha dibagi untuk teman-teman yang lain.


Inilah cerita tentang sunyi yang alurnya merdu penuh semangat

Putri

You Might Also Like

1 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe