Kembali Pulang

09.18



Bapak, malam ini langit bertabur bintang, malam kemarin juga sama...
Bapak yang mana?

Aku akan bercerita mundur...

Malam ini, aku dan Ibu berjalan mengikuti iring-iringan gamelan, pawai ogoh-ogoh di desan Bapak ini. Hmmm, ini pertama kalinya, Pak. “Biasanya –kecuali tahun lalu- kita lewati sama-sama di Denpasar”. Kata Ibu,”Malam ini pun mungkin sama” -atau hanya harapan kami saja.

Dulu, saat aku berusia 5 tahun – sebelum pindah rumah. Aku lihat Bapak gambar beberapa bentuk Ogoh-Ogoh. Lalu Bapak akan pergi ke poskamling bertemu teman-temannya. Beberapa minggu kemudian, ogoh-ogoh sudah terlihat bentuknya. Nah, koran-koran langganan yang sudah rapi diikat akan dibawa Bapak untuk bahan ogoh-ogoh juga. Malam pengurupukannya, Bapak akan ikut pakai baju yang sama, pakai kamen dan sepatu untuk mengarak Ogoh-ogoh bersama, aku dan Ibu akan ikuti berjalan di belakangnya. Sesekali beliau keluar dari barisan, menghampiri kami, menggendongku dan berjalan-jalan menunjukkan ogoh-ogoh yang lain.

Setelah pindah rumah, Bapak masih suka bantu bikin ogoh-ogoh juga. Koran langganan kami juga masih laku keras untuk jadi bahan. Nah, setiap malam pengurupukan, kami akan pergi sama-sama ke Wisata untuk menonton. Lalu, komentar Bapak akan keluar banyak setelah lihat berbagai bentuk ogoh-ogoh

SMP kelas 3..
Aku mulai ikut buat ogoh-ogoh di banjar. Bapak sudah jadi komentator, hehe. Biasanya pagi saat Pangerupukan, aku dan Bapak diajak berkeliling untuk lihat ogoh-ogoh di banjar-banjar. Nah, komentarnya pun mengalir.

SMA
Masih sama. Kami akan berkumpul di rumah sama-sama setelah aku dan adik-adik selesai pawai lalu Bapak dan Ibu selesai menonton – berduaan –

Kuliah
2014 - Aku berkabar lewat telepon. Minta tolong diceritakan bagaimana kemeriahan perayaan disana.

--
Sore tadi, kondisiku tak sebaik kemarin Pak. Ibu bilang, lebih baik aku tidur saja  supaya kepala ini tidak sakit sebelah lagi. Sore ini aku absen berbincang dengan Ibu, maaf...
Siangnya, teman-teman SMP-ku datang. Hmmm, semuanya bilang pernah bertemu Bapak. Jelas saja, waktu SMP kan aku diantar jemput kemana-mana sama Bapak. Ternyata cerita-cerita waktu SMP itu seru sekali ya walaupun SMA kami mencar kemana-mana dan kuliah semakin mencar kemana-mana, tapi semuanya tetap bisa jadi cerita, aku kenal dia- dia kenal dia yang lain – dia yang lain kenal dia- dia kenal aku lagi-

Pagi ini aku tak bangun terlalu pagi. Setengah 7, hahaha. Tapi, Bapak tak pernah marah kalau aku bangun siang *cari pembelaan*. Oya, bangun tadi pagi aku tiba-tiba nangis ya. Hmmm, masa-masa merindu masa-masa lalu. Rasanya terlalu cepat dan tidak pernah punya plan A bahkan sama ZZ jika ada kemungkinan seperti ini, yang aku pikir, aku hanya perlu melewati 4 tahun disana lalu kembali kemari untuk bersenang-senang bersama.

Pagi juga, aku, Ibu, dan Dedek pergi ke kuburan, untuk bawa sarapan :’)
Aku lihat karangan bunga, rasanya masih ingin aku ulang-ulang baca namanya, apa benar?

Kemarin...

Malamnya, aku bergabung dalam lingkaran yang akan membuat banten untuk Bapak, kira-kira sampai pukul 23.00. Nah, aku tak paham banyak, jadi aku hanya ikuti yang diminta.
Sore dan siang harinya beberapa teman juga datang. Hmmm, mereka bilang, “You looks very okey, Put”

Aku sempat menunda-nunda buka mata. Aku dengar beberapa suara baru saja bangun. Pukul empat kita akan berangkat Pak, sama-sama ke kuburan.

Aku tunda-tunda buka mata, aku lihat Ibu juga masih tertidur. Apa Ibu juga tunda-tunda buka mata ya? Tapi, waktu memang tak bisa dihentikan. Aku, Ibu, dan lainnya harus lanjutkan ini semua.

Rasanya masih melayang-layang, aku tak siapkan diri terbangun disini, tapi langkah pagi ini membawaku di barisan depan, tepat di dibelakang seorang yang membawa lampu, aku, Mija, dan Nopik bawa karangan bunga, lalu beberapa orang yang mengangkat Bapak.

Aku buang segala tenagaku untuk bersedih-sedih untuk mempercepat langkah. Semuanya harus selesai sebelum matahari terbit. Di sampingku ada Nopik yang juga butuh semangat untuk melanjutkan jalan. Kami harus tetap ada di barisan terdepan.

Sampai di perempatan, Bapak diputar tiga kali. Lalu, kami lanjut jalan lagi.

Kami sampai...

Aku diminta lakukan beberapa hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, tapi aku pernah lihat. Hmm, aku sempat mengedarkan pandangan ke beberapa arah, mencari Ibu dan adik-adik. Setelah kutemukan, kulanjutkan langkah-langkah yang diminta.

Bapak, aku janji tak menangis. Nah, hampir semua yang disana menangis, sampailah aku jadi korban hyphotesis feedback theory *masih sempat berteori*. Haaah, tapi tenang saja, tak satu pun pagi itu air mataku tumpah – tak satupun sampai prosesi itu selesai dan semua kembali ke rumah masing-masing. Aku ingat kalau Bapak tak suka lihat orang menangis.

Kemarinnya lagi, 18 Maret 2015

Rumah ramai, semuanya begadang untuk temani Bapak. Aku juga.

Banyak sekali orang yag datang ya. Satu per satu silih berganti. Aku jadi yang bawa makanan dan minuman untuk para tamu.

Malam itu, aku lebih banyak temani Ibu. Aku ingin selalu terlihat oleh Ibu. Kalau Ibu masih punya aku dan adik-adik, walaupun tetap tak bisa gantikan siapa-siapa. Dua puluh satu tahun menikah bukan jadi hal yang mudah untuk menerima kejadian tiba-tiba ini. Aku hanya sampai pada kemampuan beri pelukan dan dengarkan keluh kesah Ibu. Masih sama, sangat berusaha tak ikut-ikutan menangis – mematahkan feedback theory – hahaha

21.00 WITA
Kulit wajah Bapak kena bibirku sambil aku pejamkan mata dan ucap doa, sepertinya lama, saat aku buka mata beberapa orang yang mengililingi tempat tidur Bapak waktu itu sudah penuh air mata, tapi aku tidak, - tidak boleh bahkan -.

 Aku tak sempat ikut mandikan karena pesawat tak secepat itu, hahaha, tapi aku masih sempat bertemu wajah sederhanya malam ini, yang ajarkan aku menggambar tapi tak pernah bisa aku tandingi –yasudahlah- yang juga bisa aku ajak bilang,”Pak, lagi males bawa motor, boleh minta tolong antar?” –sekarang mau minta tolong siapa?- “Pak, dimana beli ini? Pak, jalan ini dimana? Pak kalau mau kesini, lewat mana. Pak, lalala lalalal lalaal?” –
Nahkodanya sudah kembali pulang sekarang, kamu bisa jadi nahkoda, Put?”

16.40 WITA
Saat itu aku sampai di Bandara Ngurah Rai, sebuah mobil yang juga biasa mengantar dan menjemputku di bandara sudah terlihat di mata. Seorang laki-laki, teman Ayah di tempat kerja, menghampiriku, mengambil tas ku, dan meletakkannya di belakang mobil. Pintu tengah dibuka, disana sudah ada Nopik dan dua sepupuku. Kata supirnya, ia suka lihat aku yang cerah ceria –semoga mempesona- haahahah. Disana ada adik, aku hanya ingin katakan tanpa bersuara bahwa ini akan jadi baik-baik saja.

11.30 WIB
Aku sampai di Bandara Soekarno Hatta. Perasaan berbunga-bunga tiap bawa tiket tujuan “DPS” antara ada dan tiada saat itu. Rasnya masih melayang-layang. Taksi pengantar tepat berhenti di depan terminal tiga. Kami tak perlu buru-buru karena maskai sudah mengabarkan –saat sudah di tengah jalan- bahwa penerbangan akan diundur satu jam.

07. 45 WIB
Aku baru selesai SMS Ibu, aku bilang kalau nanti sore aku akan telepon ke rumah agak lama. Nah, aku minta supaya disiapkan waktu –beginilah, kadang ngobrol pun jadi agak susah- Ibu balas singkat “Ya bisa Gek”.

Aku rapikan kamar sebentar dan sembahyang, hari ini kuliah pukul 08.00 – Psikologi Kognitif –

Hapeku yang sudah aku simpan di tas berdering. Aku lihat panggilan dari Ibu, aku pikir Ibu mau bilang kalau nanti sore aku ternyata tak bisa telepon karena masih ada kesibukan. Atau aku pikir Ibu salah tekan tombol sehingga aku tak sengaja ditelepon atau Ibu mau bilang hari ini akan sembahyang ke suatu tempat karena waktunya Melasti, atau Ibu mau ingatkan aku sembahyang atau tanyakan sudah makan atau belum.

Aku angkat ...

Ada suara tangisan keras, bercampur-campur beberapa orang, suara setengah berteriak bilang padaku kalau nahkodaku sudah kembali pulang pada-Nya.

Aku masih setengah sadar, berteriak bilang “Siapa? Siapa?” Aku tak pernah  siapkan diri, mungkin orang yang di seberang telepon sana juga sama, tak siap.

Aku tak tahu harus kemana. Aku naik ke lantai dua rumah ini dan mengetuk kamar Desy, menyerbunya dan menangis. Aku masih berusaha telepon beberapa orang rumah atau siapapun yang aku pikir sedang dekat sana dan bisa  beritahu aku, apa yang harus aku lakukan. Saking aku tak bisa berpikirnya, sampai aku telepon orang-orang yang seharusnya memang tidak tahu. Haaah, Putri ~

Aku bagi kesusahan ini dengan dua orang pertama, Desy dan Kak Keyza. Bantu aku tegakkan diri sebentar, berpikir lebih terang, pesan tiket pesawat, antar ke bandara. Ada Devi, Selly, Kak Arya, dan Kak Sul juga yang menyusul. Ntahlah mereka datang walaupun jauh dari Depok ke bandara, walaupun harus tinggalkan kuliah, mungkin –delay- juga menguntungkan beberapa orang termasuk aku.

04.30 WIB
Aku terbangun, tapi ingin tidur lagi. Aku mimpi dipeluk dan rasanya sangat hangat.



Semua rasanya bergitu cepat
tapi kebesaran-NYA pasti berikan pelajaran
Nahkoda asli sudah kembali pulang
Apa aku bisa jadi nahkoda kita  di tahun baru ini?


Putri


You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe