Dipeluk Mama Pagi-Pagi

12.56

Ma, aku bangun pagi lagi, sama seperti inginku, mungkin sama juga seperti inginmu yang tak Mama ucap, apalagi Mama tuntut. Aku sering bilang,"Nanti kalau Mama bangun pagi, bangunkan aku ya supaya bisa bantu beres-beres." Namun, esoknya aku tetap bangun terlambat dan jawabannya,"Mama nggak tega bangunin Gek."

Kebiasaan, Mama buka rumah paling pagi dan tutup rumah paling malam :")

Ma, aku ingin cerita tentang bangun pagi pertamaku kemarin, kira-kira pukul 3, tepat seperti yang aku mau. Nah, saat itu aku masih malas-malasan, dan ternyata tertidur lagi.

Ma, aku mimpi...
Mama duduk seperti sedih membuka tangan seperti memeluk, lalu aku datang juga menangis, kita saling berpelukan.

Hanya sebentar dan sempat buat aku bingung. Bahkan aku lupa kalau aku tak di rumah kita lagi.

Hari berlalu indah sampai saatnya ditelepon, Mama berikan aku sebuah cerita. Aku coba dengarkan baik-baik, diselingi suara tarikan nafas panjang Mama, dan sedikit batuk. Tak tahan. Aku meneteskan air mata membayangkan cerita itu.

Giliranku bercerita. Awalnya aku mau bilang kalau sejak sore, kepalaku beberapa kali tiba-tiba berat, mungkin tensiku turun lagi. Namun, cerita itu aku simpan saja, dibuat tidur sebentar, pasti beratnya hilang. Aku mau dengar cerita Mama saja.

Setelah dengar cerita sedih itu, aku jadi teringat mimpi paginya. Mungkin pelukan bisa menenangkan Mama, tapi sayang aku jauh disini. Hanya firasat yang datang tadi pagi dan cerita-cerita malam ini.

Mama, aku tahu dan yakin Mama sangat tegar, memikirkan perasaan orang lain saat berkata-berkata walaupun Mama tahu itu yang benar dan itu yang seharusnya mereka tahu, Mama bukan orang yang gegabah, rendah hati, tahu balas budi, dan ramah. Tapi Ma, tanpa masalah, hidup ini jadi jalan lurus membosankan, dan mungkin tanpa masalah, kelebihan Mama itu tak banyak berguna. Mungkin, sekarang kita sedang diberikan pilihan, beberapa orang baik dan beberapa orang sebaliknya. Tergantung, kita mau yang mana.

 Mama, aku ingin berlama-lama di rumah, supaya bisa lihat Mama dengan semua itu, supaya aku bisa belajar. Tapi, mimpi dipeluk saja, aku sudah senang. Aku ingin perasaan kita lebih kuat dari ini, jadi tetep bisa merasa hangat walaupun tak dekat.

Mama, aku selalu menemukan harapan di mata Mama setiap kali kita bertatapan. Aku bangga sekaligus takut-takut jika akhirnya nanti aku mengecewakan. Aku tak kan seperti yang dikhawatirkan mereka, yang diucapkan ke Mama dan membuat Mama pun mungkin khawatir. Tapi Ma, aku selalu merasa ajaib karena Mama tak pernah sampaikan tuntutan, tak pernah yang buat aku merasa ditekan apalagi merasa harus. Mama selalu beri aku pilihan.

Ma, aku sampai pada langkah ini. Belum seberapa, mungkin masih sangat kecil dari anganku membuat Mama bahagia. Mungkin belum juga menjawab mereka yang mempertanyakanku pada Mama. Tapi "belum" bukan berarti "tidak". Aku berusaha menjadi aku yang punya mimpi kecil bersama Mama. Aku sangat ingin wujudkan itu dan aku yakin para penggerak waktu akan ramah pada setiap mimpi kecil yang baik.

Aku bahagia Mama mau bercerita, dan bahagia dipeluk Mama pagi itu. Antara kenyataan dan mimpi, ntah kenapa aku jadi percaya firasat dan percaya ikatan kita semakin kuat.

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe