Perkenalan Tengah Malam

09.02

Sebenarnya aku sudah mengantuk, bahkan hampir tertidur saat merapikan baju di lemari. Hanya saja, hari pertama pindah dan mulai berkenalan dengan tempat baru, akan jadi tidak pas kalau aku tidak melewati tengah malamnya dengan mata terbuka. Jadi, daripada aku tak sengaja tertidur, lebih baik aku berkenalan dengan kalian, siapapun di ruangan sepi ini. Mungkin ada peri taman belakang yang menyelinap masuk sebelum aku menutup jendela senja tadi.

Namaku Ofelia. Kalian tidak perlu tahu nama lengkapku karena tidak perlu dan aku yakin itu benar-benar tidak perlu. Aku tahu diri kalau aku orang baru di ruangan ini. Ruangan klasik dan pernah aku impikan sebelumnya, sampai-sampai aku begitu bersemangat pindah kemari. 

Baiklah. Aku suka makan masakan Ibu. Kalau kalian lihat ibuku, kalian pasti bilang kalau aku anak yang beruntung. Ibu sangat cantik walau terkadang suka menyendiri berhari-hari, tapi kalau kamu mendengar cerita dan lagu nina bobonya, kamu akan dapat kehangatan yang datangnya dari seluruh penjuru tempat tidur. 

Aku juga suka tidur dan membayangkan aku ingin jadi apa sebelum tidur. Hal yang paling sering aku bayangkan adalah "menjadi Ibu". Kadang-kadang itu sampai tengah malam dan aku ketahuan Ibu.
"Ofelia, kamu tahu kan Ibu tidak suka kamu tidur larut malam?"
Ia akan ikut tidur di sebelahku dan memelukku. Aku pun menghentikan bayangan itu, memilih menikmati hangatnya.

Aku suka kenal banyak orang, tetapi aku tidak suka diajak bicara banyak orang. Hanya orang-orang yang aku percaya saja yang akan aku ajak bicara. Bibi Sarah, salah satu wanita baik yang selalu memasakkanku dari kecil bahkan ia ikut pindah kemari sekarang, pernah mengatakan  bahwa beberapa teman takut dekat denganku karena aku pendiam. Untung saja ia mengatakan ini di depanku dan berjanji tidak bilang pada ibu. Hmm.. Ibu pasti sedih kalau tahu bahwa teman-teman takut dekat dengan aku.

Aku benar-benar tidak bermaksud menakuti mereka, tetapi aku memang tidak suka bicara dengan banyak orang. Menurutku, kalau itu tidak perlu dibicarakan, lebih baik diam. Hanya saja, Bibi Sarah bilang kalau aku tidak boleh terus-terusan begitu karena aku perlu teman.
"Kan aku punya Bibi dan Ibu?" Suatu hari aku katakan itu untuk membela diri.
"Suatu hari kami berdua tidak akan ada disini lagi denganmu Ofelia,"katanya sambil membawa gelas kosong bekas susu keluar dari kamarku.

Memangnya kenapa? Memangnya mereka akan kemana? Apa susahnya tetap disini denganku?
Karena Bibi Sarah adalah orang yang aku percaya, jadi aku memikirkan kata-kata yang diucapkan itu. Mungkin aku memang harus cari teman di tempat baru ini.
"Ada yang mau jadi temanku?" kataku pada cermin.

Pintu tiba-tiba berdenyit.Aku menoleh agak takut.
"Ofelia, ayo tidur.."
Ibu mendekati aku dan menggiringku ke arah tempat tidur. Ia memakaikan kaos kaki dan menyelimutiku tanpa bertanya aku perlu atau tidak. Hmmmm, tapi malam ini memang sangat dingin.
Ibu berubah. Malam ini ia tidak lagi tidur di sampingku dan memberikan pelukan hangat. Ia mengecup keningku, mengucapkan selamat malam, dan berlalu pergi. Apa ini maksud Bibi Sarah?

***
Selamat tidur.
Besok aku akan bercerita lagi. Semoga aku punya teman baru. 


Ofelia

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe