Isyarat

15.19

Judulnya kembali terangkat jadi posisi satu, ternyata perubahan daftar waktu itu, yang membawa turun ke peringkat tiga, hanya sebatas fatamorgana,
 semu...

Sudah aku bilang padamu sebelum kau bicara pada cerminmu senja itu, bahkan sebelum kau buka mata saat pagi,"Terlalu jauh jika kau ingin berusaha sekalipun, nada suara hentakan langkah kalian berbeda, irama yang kalian ciptakan tidak harmonis, tidak sama seperti yang kamu bilang selama ini pada buku merah. Tidak sama seperti yang kau doakan. Tidak sama seperti yang kau pernah katakan pada cermin sebelum ini. Dimana kejujuran hatimu? Hilang kemana? atau dibawa pergi siapa?"

Aku sudah beri kau isyarat, ingat? 
Waktu itu langit muram semuram kamu. Aku sudah bilang jangan kau tunggu. Tidur saja karena bukan dia, bukan dia! Aku sudah halang-halangi, seperti membuat gaunmu tiba-tiba hilang atau sengaja membuat secangkir teh mu tumpah. Bahkan, aku sudah minta malaikat lain untuk katakan padamu untuk memikirkan ini lagi. Langkahmu tak sama dengan dia, tidak sama. Harusnya kau sadar kalau aku menangis disini berusaha memberitahumu, tapi aku lihat kau tersenyum lega disana. Lega yang sebentar, tak lama muram lagi. Saat itu, aku sedih membayangkan kalau kau akan muram lagi atau pasti muram lagi.

Tap tap tap tap tip tap tap tip tip tip tap tap tap tip tap
tap     tap     tap     tap     tap    tap . . . . . . . .   tap ... tap ..
sudah kau rasakan bedanya? atau kau sengaja tutup telinga? Putriku... kau harus dengar!

Aku takut kau sedih, saking takutnya sampai kata yang keluar saat itu adalah janji untuk tak lagi bicara apapun tentang kesedihan. Aku pilih kata "selamat" ketika ku lihat dari sini, dari lapang pandang yang jauh ini, kau terlihat bahagia disana, Putriku... Tidak kah kau baca isyaratku dan langit yang menurunkan halangan tiap kali langkah itu akan kau mulai. Harusnya tak kau iyakan.

Pernah kau masukkan dia ke buku merahmu?
Pernah langitmu jadi ramah seperti biasa jika bersama?
Pernah kau rasakan membuka mata bertemu bintang padahal hanya jejeran lampu kota?
Pernah kau katakan pada cermin kalau kau benar-benar bahagia?

Putri... belum sadarkah kau dengan isyaratku? Aku sedikit kecewa.

Suatu malam aku bicara padamu. Aku datangkan seperti apa yang kau inginkan. Walapun tak ada yang lihat, kecuali aku. Tak ada yang kau ceritakan, kecuali aku. Namun, aku yakin dunia jadi pelan-pelan berwarna lagi. Sayangnya, aku hanya sanggup menjadikannya sebatas mimpi, tak lebih. 

Aku lihat kau duduk dan berusaha menyeimbangkan badanmu, tentu saja menyeimbangkan harapanmu.

Putri, ini tak sama... aku tahu kau rasakan apa walaupun tak satu pun benar-benar tahu. 
Jangan minta aku diam ketika kamu seperti sekarang, terseret ombak...
Aku tahu, sekuat apapun kamu, kamu tak kan lewati hal-hal yang tak bisa kau temukan bagian bahagianya.

Baca isyaratku...
Dengarkan riuhnya sekalipun kau lelah...
Kita sudah lama bersama...
Aku lebih tahu kau perlu apa...
Kabarkan aku jika kau perlu...
Aku punya segenggam tawaku untuk sudahi sesalmu...

---

bahagianya...
kali ini kau kabarkan aku...
langitmu tak muram lagi
aku bahagia kau kabarkan aku
kau berani katakan itu
aku bahagia, kau buka lagi buku itu
kau tulis namaku

Putri, minta pada-Nya, agar segera sampai di pertengahan tahun ini...
Isyarat kalau aku akan datang, tepat ketika kau buka tanganmu lebar-lebar

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe