Sempat Ditunggu

06.17

Kamu memang secantik itu untuk ditunggu
Kamu juga semanis itu untuk ditunggu
Kamu secerah itu untuk ditunggu
Tidak panas, tapi sejuk. Nah, sejuknya itu yang ditunggu

Hah! Desember, siapa yang tak rela menunggumu?

.

Akhir tahun jadi masa-masa istimewa seperti biasa. Sedikit gugup mencocokkan harapan awal tahun dengan segala hal yang sudah sempat dicecap sampai akhir tahun ini. Harapan awal tahun yang diucapkan sambil memejamkan mata, berusaha mendengar suara nafas dan mengabaikan sebentar suara riuh terompet, bersatu dengan gelap , sebelum membuka mata dan disambut sapaan manis kembang api. Cantik! Desember selalu cantik!

Oh iya, yang paling terasa di akhir-akhir tahun ini adalah aku jadi lebih banyak punya teman. Aku juga jadi lebih sering duduk bersama untuk mendengar cerita masing-masing dari mereka. Aku selalu suka, aku suka jadi tempat cerita. Walaupun aku tidak janji bisa ingat semua cerita dengan lengkap, tapi aku sungguh senang diberi kesempatan tahu ceritanya.

Dari cerita-cerita itu, aku jadi merasa kalau setiap orang sebenarnya selalu berusaha untuk lebih baik dan lebih baik lagi, caranya saja yang berbeda. Menangis bukan berarti lemah, tetapi hanya ingin membuang sedikit lelah untuk bisa berjalan lagi. Bercerita juga bukan berarti kamu tak punya tempat untuk menyimpan ceritamu sendiri, tapi jadi salah satu cara yang membuat lega dan kadang bergumam,"Oh iya ya...", lalu menyusun cerita baru lagi.

Bicara tentang cerita yang agak berat...
Akhir-akhir ini, aku jadi lebih sering membaca koran on line, semacam cara lebih mendekatkan diri dengan buku cerita Indonesia di akhir tahun. Dulu, di balik jendela kamarku, aku sempat mengatakan pada Ibu  kalau aku ingin jadi jurnalis saja, ambil jurusan itu, lulus, dan menulis berita  sebanyak-banyaknya. Hmm, tapi semakin kemari, aku jadi kehilangan sosok jurnalis yang aku inginkan dulu, termasuk yang "sempat" aku idolakan, hilang dimakan cerita... Oya, pertengahan tahun ini *waktu masih sangat suka cerita-cerita di media* aku sempat memasukkannya dalam tulisan sebagai saran menghindari alienasi politik (semacam musibah dimana kita-kita ini merasa asing dengan suasana politik negeri), sebenarnya potensinya ada, tetap ada hingga sekarang, tapi tergantung yang mengelola potensi media yang bercerita itu juga. Nyatanya aku sendiri, sering jadi "Ya ampun..." setelah membaca cerita-cerita itu. Ntah memang harusnya "Ya ampun" lalu berakhir "Yasudahlah" atau seharusnya ada efek lain yang mestinya muncul, misal "Nggak bisa gini nih, mestinya... lalu...". Singkatnya beberapa cerita perlu dibuat untuk mendorong optimisme kita-kita ini,  bukan malah semakin ingin jadi alien. Ceritanya jangan sampai mengundang pertengkaran juga, semua jadi antagonis, dan menakutkanku. Bukannya kita semua sebenarnya ingin damai? Damai tidak perlu melewati perang kan.

Tapi, aku masih punya kesukaan dengan media yang bercerita, makanya aku masih baca dan masih ingin masuk lagi ke permintaan dulu yang pernah aku katakan pada Ibu di balik jendela kamar... 

Winter

---
yup, mari sudahi dulu cerita yang agak berat.
---

Hasil salah satu cerita tahun 2010
Hmm,  aku jadi sering ingat peristiwa akhir tahun 2010, kecelakaan tengah malam saat aku bersama Ibu, sakitnya di bagian kiri kadang masih terasa. Bukan apa-apa, tapi aku jadi semakin kangen Ibu, semakin kangen rumah.
Bahkan, kebahagiaan paling kecil di rumah, belum tentu ada di tempat lain yang indah sekali pun.


Nanti pasti cerita-cerita yang sudah aku simpan untuk diceritakan saat bertemu ibu akan menguap secepat kilat karena digantikan kesukaanku mendengar cerita-cerita Ibu, hahaha

---

Aku juga suka karena Desember memberikan kebanggaan-kebanggaan kecil sampai besar sampai aku merasa ingin berlama-lama di bulan ini. Berlama-lama untuk yang selalu ada, yang selalu berusaha, dan yang selalu tunjukkan segalanya dengan sederhana. Aku sedang berusaha untuk bisa jadi air jernih. Jika sudah bisa, semoga tetap bertahan jadi air jernih.




---

Aku mengaku, aku terlambat menyapa Desember yang sempat aku tunggu... 
Hahahaha bukan berarti aku tak sadar saat  bulan cantik ini sudah datang, tapi karena di awalnya saja, ia sudah memberikan banyak hal membahagiakan sampai aku terlalu damai dalam ceritanya yang penuh di awal-awal dan membuat aku lupa keluar untuk melihat tanggal. 

Sisa tanggal Desember masih banyak,
Jadi, masih banyak cerita yang akan datang. Siap?


.





Salam damai 
untuk yang sudah datang 
dan sempat ditunggu

(Putri)


image

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe