Paradoksal

23.53

Hai!

Kali ini kita berada di pertengahan Oktober. 
Kamu sudah sampai dimana? Di tempat yang kamu ingin-ingin kah? Atau masih diam di tempat lama?

Aku rasa, aku sudah bergerak dari tempat lama~


---

Pelan memang, tapi kalau kamu lihat sekarang, tempat aku berada sudah berpindah. Hal yang biasanya selalu ada di depan mata kapan pun itu, sekarang sudah tidak ada lagi. Taman-taman juga sudah berubah penghuninya. Ternyata tidak butuh banyak kata, kamu hanya perlu -melangkah- dan terus begitu.

Aku tidak merasa meninggalkan siapa-siapa, aku pernah mengajak penghuni taman lama untuk ikut berjalan bersama, tapi sayangnya ia terlalu banyak pertimbangan tentang para pengagumnya, terlalu berat baginya untuk membawa pengagum-pengagumnya itu ikut berpindah. Akhirnya, aku saja yang pergi sendiri. Coba saja waktu itu ia tidak membawa -keberatan- itu, mungkin saja aku akan bercerita bersamanya sekarang. Ntahlah, dimana dia sekarang, aku pun tidak tahu.

Kadang-kadang, aku rasa ia bisa melihat aku sedang apa. Walaupun sebenarnya aku tidak ingin tahu seperti apa caranya, kadang aku penasaran. Tapi, apa boleh buat, kami sudah terlalu jauh, aku tidak mungkin menjemputnya lagi, dan aku juga ragu tempat baru ini akan ramah padanya yang sejak awal ragu untuk berpindah. Kadang aku butuh lebih dari dua menit untuk ingat lagi wajahnya. Sudah rapuh ternyata ingatan ini.

Kenapa ya?

Mungkin karena aku berada di tempat yang meniadakan keraguan itu sendiri. 

Dulu, aku ingat sedang berdiri di sekitar kursi-kursi yang tersebar, mataku menemukan sosoknya, aku berjalan mendekati, tapi tiba-tiba diserbu kerumunan orang yang ingin lewat. Nah, aku tidak ingin ketinggalan momen untuk bicara dengannya, jadi aku putuskan untuk memperkeras suaraku memanggil namanya, waktu itu aku berada di sisi bawah, dan dia ada di bagian agak ke atas. "Yes!" dia mendengar suaraku, tersenyum, dan ternyata sudah sekian saja. 

Sekarang, aku berjalan tanpa pernah peduli siapa yang memperhatikanku, memilih kursi untuk segera duduk dan menikmati makan siang. Aku mengambil handphone untuk melihat apakah pesanku di balas atau tidak, dan saat aku selesai dengan kata -tidak-, tiba-tiba si pengirim pesan yang aku tunggu-tunggu sudah berdiri di sebelah tempat dudukku dan menyapa dengan ringan, ia tersenyum, dan mengambil tempat untuk duduk di sebelahku. Kami bicara apa saja yang ingin kami bicarakan. Seperti itu cara merayakan kebersamaan yang sederhana.


Dulu, aku terbiasa menunggu sampai tengah malam untuk sekadar waktu bicara berdua. Itu pun bukan bicara langsung. Malah terkadang dia memilih bicara dengan orang lain, menanggapi segala hal yang menurutku harusnya -tidak-, dan kadang waktuku jadi terbuang sia-sia karena waktu-waktu yang aku tunggu untuk -ada- malah diberikan untuk yang lain.

Sekarang, aku duduk di atas sofa untuk mengisi waktu karena tidak bisa tidur. Sebentarnya, ada yang datang dan duduk di sebelahku, memakaikan slayer untuk menghangatkan malam itu. Tidak pernah membuang waktuku untuk menunggu sampai tengah malam, tapi selalu ada hingga lewat tengah malam. Bahkah sampai pagi, tidak tidur, untuk bicara bersama-sama anak tangga dan tentu saja dengan aku. 



Dulu, langit seperti mengajarkan tanda-tanda buruk ketika ada yang main-main dengan janji.

Sekarang, udara yang bergetar mengabarkan bahwa masih ada yang bisa tetap disini untuk sebuah janji.



Dulu, aku harus berperang dengan -diri sendiri- agar tetap tampak sesuai berada di sampingnya dibanding para kontestan yang berbaris lainnya.

Sekarang, aku bisa jadi diri sendiri yang tahu bahwa ada hal -istimewa- yang mempertahanku disini tanpa perlu takut siapapun yang berbaris untuk menunggu.



Dulu, aku tidak pernah bercerita tentang sebuah alur buruk.

Sekarang, ada yang mengajakku jadi paling bodoh untuk berbagi rasa takut dan malu. Tapi aku menjadi lebih ringan.



Dulu, kamu mungkin terlalu padat jadwalnya untuk datang menonton, atau sekadar memberi semangat lewat udara.

Sekarang, ketika aku sampai di depan panggung, memegang mic untuk segera bersuara, aku melihatnya duduk di bangku paling belakang. speechless

---Dulu, aku tahu -sayang- karena suara yang terdengar mengabarkan seperti itu
Sekarang, aku tahu -sayang- karena aku merasakannya ada  di dekatku---

0---0

Satu kata sifat yang mewakili ketika nama kalian berdua disebut bersamaan adalah ~ paradoksal





Putri

You Might Also Like

1 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe