Perjalanan Panjang Menuju Bali

09.46

28 Juni 2014

Pagi sampai siang masih fokus rapi-rapi kamar. Mulai melapisi semuanya dengan koran bekas supaya nanti tidak sulit membersihkan debunya. Mulai masak-masak untuk mengisi waktu sebelum berangkat pergi. Habis itu makan siang.
“Huaaah!” Akhirnya melihat cahaya di luar kos-kosan ini. Sekitar pukul 15.00 WIB untuk print tiket kereta. Kembali ke kosan lagi, sesi minum teh dimulai.
            “Put, naik kereta ya?” Aku bertanya pada permukaan teh yang goyang-goyang di cangkir. Ini pertama kalinya aku pergi dengan kereta jarak jauh. Aku akan berangkat pukul 2230 WIB ke Yogyakarta. 

Nah, sebenarnya bukan Jogja, bukan Balinya juga tujuanku naik kereta ini. Perjalanannya. Ya, perjalanannya adalah tujuanku yang paling besar, yang nomor satu.
“Ini hadiah untuk bulan-bulan yang sudah berlalu di tahun ini,” aku setengah bergumam. Sejak lama aku ingin pergi dengan kereta, pergi lebih jauh dan  lebih lama dari biasanya. Namun, baru bisa terwujud Juni tahun ini. Sebenarnya, aku on line untuk membeli tiket pesawat pulang ke Bali, tapi yang klik ternyata tiket kereta.

Ada dua alasan besar kenapa aku tidak langsung ke Surabaya saja dari Pasar Senen:
a)     Aku sudah lama tidak lihat Jogja. Lama sekali.
b)     Ada hadiah yang harus aku ambil.

Kebetulan, aku pesan tiket yang sama dengan Kak Gus Adi, jadi aku bisa tanya-tanya kalau ada yang bingung. Lucunya, aku beli tiket kereta yang akan berangkat dari Pasar Senen, tapi stasiun Pasar Senen sendiri, aku belum tahu ada dimana. Hahahaha! Akhirnya, aku minta ikut berangkat dengan Kak Gus Adi ke stasiun Pasar Senen.
Aku menunggu tiba pukul 20.00 WIB, karena rencana awal, kami akan berangkat pukul 20.00 dari stasiun UI. Sayangnya, sinyal provider saat itu tidak mendukung. Jadi, aku tidak tahu kalau akhirnya berangkat pukul 19.00 WIB. Sedangkan aku menunggu waktu leye-leye di kosan. "Hah Putri!”
Haaaah! Tapi semuanya selesai. Aku bisa berangkat sama-sama pukul 19.30 dan tentu saja tidak tersesat. Chat dan para sms ubah schedule itu baru masuk ketika kami sudah sampai di Stasiun Pasar Senen pukul 20.45 WIB. Okay!
Pukul 22.40 WIB kereta berangkat. Di kereta, aku berkenalan dengan Mba Intan yang baru selesai tes untuk melamar pekerjaan, kenalan juga sama Bu Mas dan anaknya yang liburan SD, namanya Umam. Kami bertiga tidak banyak mengobrol karena ini keberangkatan malam dan waktunya istirahat. Aku pun juga memilih tidur.


29 Juni 2014

Sesi #1


01.50 WIB aku terbangun saat kereta masuk Cirebon. Aku pilih “Akar” sebagai temanku menikmati perjalanan. Aku tidak sadar tertidur lagi.
Pukul 4.45 WIB kami memasuki Purwokerto. Aku sudah tidak mengantuk sama sekali, begitu pula Mba Intan dan Bu Mas. Lalu, kami berbagi cerita. Mulai dari tujuan dan akan apa disana. Satu cerita penting yang aku tangkap adalah saat Bu Mas menceritakan tempat belajar anaknya di kawasan Jawa Barat yang menginternalisasi nilai-nilai untuk memilih salah satu pasangan calon presiden dan mengatakan pilihan lainnya adalah haram. Wah! Aku dan Mba Intan tertarik untuk mendengar cerita itu lebih lanjut. Aku menyimak baik-baik bahwa ada unsur pemaksaan dari satu pihak dan ketakutan di pihak lainnya. Apakah memilih karena takut lebih baik daripada golput? –tanya sama diri sendiri-. Sudahlah.
Pukul 5.30 WIB dari jendela kereta di sampingku, langit terlihat berubah warna. Menggeser gelap jadi cahaya-cahaya samar yang semakin lama semakin cerah. Artinya, sebentar lagi aku sampai. Setelah melewati Gombong dan Kebumen yang memiliki banyak sawah sebagai penyapa pagi yang baik. Sampai di Kutoarjo, Bu Mas dan Umam turun lebih dulu. Saat itu aku ikut keluar sampai pinggir pintu kereta, kami saling melambaikan tangan. Aku diam sebentar dekat pintu selama kereta melanjutkan sisa perjalanan yang sedikit lagi. Hijau!
Aku kembali ke tempat duduk. Di dekat sana masih ada Mba Intan. Kami sama-sama melihat ke arah jendela dan terpancing oleh sebotol air minum ukuran besar yang tertinggal, itu air minum Bu Mas. Kami memutuskan membiarkan saja dan melihat lagi ke jendela, ada sungai. Kereta terus berpindah. Kami sampai di Stasiun Lempuyangan,  7:20 WIB. Oya, aku klik stasiun ini karena ada di novel 5 cm dan sebelumnya aku belum pernah ada di stasiun ini.

            Sesi #2

            Aku telepon Bima saat keluar kereta. Ternyata, ia sudah ada disana. Wah, sahabat yang baik! mwii...
“Bim, aku nggak bawa helm,” kataku saat jalan ke luar.
“Aku jemput pake mobil Put.”
Baiklah, tidak perlu pakai helm berarti. Aku masuk mobil Bima.

Selamat pagi Jogja!

Bima baik mengajak keliling-keliling UGM, mantan calon kampusku, hahahhaa *speak aja Putri ni*. Sepi, sebelum kami sampai di *lupa namanya* seperti pasar tiap hari Minggu disana. Beberapa fakultas yang aku sempat lihat FH, FEB, FPsi, Filsafat, MIPA, Pertanian, Kehutanan, Teknik, Kedokteran, dan mungkin ada yang lain. Sambil jalan, kami cerita-cerita tentang Helen ciee, dikasi tips kalau LDR, hahahaha.       
Lalu, kami menuju ke kos Nadya dan Fara, Jalan Kaliurang, dekat Hotel Ishiro. Walaupun sempat salah masuk jalan, tapi akhirnya sampai.
Da da Bima, thank you!

Sesi #3

            Setelah ngobrol sebentar sama Nadya dan Fara yang lagi belajar untuk ujiannya besok, aku mandi. Haaaah, segar! Lalu? Putri tidur.

12.02 WIB, aku dan Nadya pergi beli makan siang di depan jalan. Kata Nadya, biasanya dia makan disana. Namanya, Ngudi Rejeki, tempatnya ramai,  mungkin karena jam makan siang.
            Ada hal yang lucu. Saat kembali ke kos, aku dan Nadya mulai sadar kalau kami bau ikan bakar. Mungkin tadi karena kami duduk cukup dekat dengan tempat bakar ikan. Hahahaha. Padahal, sebentar lagi aku ada janji ketemu teman-teman. Nah, mandi lagi dan keramas.

            13.40 WIB. Aku diantar Nadya ke Taman Budaya Yogyakarta. Namun, karena Nadya harus bertemu dengan teman, ia tidak ikut denganku. Disana aku ketemuan nih sama Mba Wilda dan Mas Wisnu. Haaah, kangen sekali. Kami pertama dan terakhir bertemu itu tahun 2011, bulan November kalau tidak salah. Waktu itu ada lomba penelitian dari Kementerian Pertanian RI. Nah, akhirnya bisa bertemu lagi tahun 2014 ini, sudah hampir tiga tahun.
            Saat itu sedang ada Art Jog. Good! Mereka memilih tempat yang tepat untuk bertemu. Aku suka datang ke pameran-pameran karya seni. Kami keliling-keliling dan aku kagum karena karya disini menyampaikan pesan-pesan mengenai demokrasi, pemilu, dan Indonesia dengan berbagai bentuk yang tidak biasa. Saat membaca keterangan dari karya-karya itu, aku menemukan beberapa nama Bali. Wah!




            Setelah ngobrol dan jalan-jalan, kami harus berpisah sekitar pukul 15.30 WIB karena ada janji yang lain.

*Cekrek* kami foto bertiga. 

Terima kasih ya Mba Wilda dan Mas Wisnu. Sukses selalu kuliah dan segalanya!

            Aku masih ingin jalan-jalan dekat sini. Jadi, aku memutuskan lihat-lihat sekitar sana sebentar. Ada becak dan aku sangat ingin naik. Namun, nggak mungkin juga lah naik becak sampai kosan Nadya, kan jauh Put! Please!

            Pukul 04.15 aku sudah ada di dalam taksi Indra Kelana. Aku akan kembali ke kosan Nadya dan Fara. Supir taksinya sangat ramah, namanya Bapak Ari Sulistyo.
“Pasti bukan orang sini ya Mba?”
“Iya Pak, kok tahu?”
“Wajahnya sih sama logat bicaranya.”
“Logat Bali?”
“Enggak.” Jedeeeer! Lagi-lagi!
“Eh? Tapi saya orang Bali Pak.”
“Masak?” sudahlah Put, sudahlah.
“Tapi kok tahu jalan disini?” tanya Bapak Ari lagi.
“Maksudnya?”
“Tadi minta saya belok kiri?”
“Ohh, hehe.” Sebentar Cuma inget jalan yang dilewati sama Nadya dan Bima aja kok ya.
Kami melanjutkan percakapan tentang Bali. Waah, semua pengetahuan yang diperolehnya dari FTV ditanya-tanya, sampai calon presiden yang unggul di Bali juga ditanya. Nah, karena cukup lama tidak di Bali, jadi aku jawab sebisanya. Namun, Bapak ini sepertinya berniat liburan ke Bali.

Yep! Sampai di kos Nadya.
           

            Sesi #4

            Sekitar pukul 20.30, aku pergi lagi sama Bima, Galih, dan Bayu. Mereka bertiga itu teman-teman SMA-ku.  Sayangnya, Nadya dan Fara tidak bisa ikut karena besoknya masih ada ujian. Kami pergi dengan mobil Bayu.

1st : Kami parkir di dekat gereja. Aku lupa namanya apa. Hmm~ jalan ini aku lewati waktu sama Nadya ke Taman Budaya. Kami berempat jalan-jalan menikmati kota Jogja di malam hari. Memang seru! Seru? Okay, asik! Asik? Aku suka jalan-jalan malam disini. Ya! Itu!
            Kami mampir di beberapa sudut dan dijelaskan –itu apa, ini apa-, cerita-cerita Utara-Selatan, dan beberapa hal lain.
Galih bilang,” Nggak cukup lah Put, jalan-jalan sehari aja disini.”
Yes! All Right!

21.40 WIB kami sampai di Alun-Alun Jogja.
Nah, mereka menggiring ke arah tengah dan aku akan coba melewati dua beringin kembar. Katanya harapan bisa terwujud kan?
Okay!
Bayu pasang penutup mata dan putar-putar. Aku mulai langkah pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.
 Jujur saja, waktu itu rasanya ingin tertawa karena mereka bertiga sibuk bilang “Yak, terus put, terus put”, hahahaha. Lucu juga dengar perdebatan kecil mereka
“Nah, bim ada orang gimana dong?”
“Eh? Gimana ya?”
“Maaf ya Mas, permisi-permisi”
“Yak, terus Put terus Put”
Mataku masih ditutup. Tahan ketawa sampai senyum mesem-mesem. Hahahahaha nulis ini aja aku nggak bisa nahan ketawa. Put!

“Okay Put, stop sampai disini. Balik kanan.”
            Aku ikut saja balik kanan. Tutup matanya dilepas. Yup! Aku berhasil melewati dua pohon kembar ini. Hwee :Q
“Aku aja dua kali nyoba nggak bisa-bisa,” kata Bima.
“Mungkin aku nyampein harapannya khusuk Bim, hahaha!” jawabku bangga.

Pukul 22.00 kami menuju pedagang es goreng yang masih semangat malam itu. Setelah menghabiskan es gorengnya, kami ngobrol sebentar dekat sana, lalu lanjut jalan-jalan.
Aku belum makan malam tapi lagi nggak pengen makan berat. Kami berhenti di tukang siomay. Yup! :9 Kami berempat duduk di atas tikar dan makan siomay sambil bercerita. Tahu apa yang kami ceritakan? Reklamasi Bali! :’

Pukul 22.48 kami kembali ke kos Nadya.
Selamat malam Jogja!

Oya, aku minta bantuan Galih untuk antar ke stasiun besok pagi. Nah, katanya dia punya teman  yang jual bakpia, jadi aku juga titip. Kata Galih, habis sahur besok, dia ambil.


 30 Juni 2014

SESI 1

AKU BANGUN TERLAMBAT. AKU LUPA PASANG ALARM. HAAAAA :3
Pagi jadi agak terburu. Aku telepon Galih dan ia datang tepat waktu dengan bakpia. Pas! Menuju stasiun Lempuyangan lagi.

Okay, untuk Galih tipe orang yang santai, jadi aku juga santai, hahahaha. Aku melewati beberapa fakultas di UGM yang kemarin belum aku lewati. Good!

Thank you Galih. See you Jogja! :D


Sesi II

Seperti di awal, aku akan menuju Stasiun Banyuwangi Baru karena ingin naik kapal laut. Sayangnya, aku belum pernah kesana dan bahkan belum tahu dari stasiun ke pelabuhan itu bagaimana. Berbekal kata-kata Kak Gus Adi,” Deket kok Put!”
 Baiklah, Dekat!
Kereta sudah siap, tetapi orang-orangnya masih sepi. Aku rapikan barang bawaanku, sebuah ransel dan tas tenteng. Duduk di tempat 4 E. Dekat tempat dudukku ada mas-mas yang lagi main tab. Aku disapa, namanya Erwin. Baiklah, kesempatan buat tanya ia mau kemana. “Banyuwangi Mba, terus ke Bali.”
Wooow! Tuhan memberkati. Yep, memastikan diri tidak tersesat.
Kereta akan berangkat 7.20 WIB, sedangkan saat itu maish pukul 7.00 WIB. Ada mas-mas lain yang duduk dekat tempat dudukku. Kami berkenalan, namanya Mas Uci, kuliah di Jogja dan mau pulan ke Lombok dengan teman-temannya. 
Kereta pagi itu cukup lengang, lebih lengang daripada kereta saat ke Jogja. Di sekitar tempat dudukku juga kosong. Sampai akhirnya seorang Ibu dan dua orang anak, minta diizinkan titip barang di bagasi yang masih kosong karena di tempatnya, bagasi sudah penuh. Namun, Ibu itu sepertinya terlalu lelah untuk kembali ke tempat duduk yang sebenarnya, jadi ia duduk di kursi depanku yang kosong. Tidak masalah, apalagi dua anaknya sangat lucu, namanya Rahman dan Wahap. Oya, ternyata Rahman adalah anaknya, masih SD dan akan liburan di Jember, sedangkan Wahap adalah keponakannya, umur tiga tahun.
Di kereta, aku banyak menghabiskan waktu dengan dua anak itu. Hal pertama yang teringat adalah saat mengajarkan Rahman untuk suka makan sayur. Saat itu ia bawa satu paket nasi goreng, tetapi ia tidak mau makan sayurnya.
“Kenapa sayurnya tidak dimakan?” tanyaku pada anak yang penurut ini.
“Maman nggak suka sayur,” katanya polos.
“Sudah pernah coba belum?” tanyaku lagi.
“Belum pernah sih,” katanya.
“Nah, dicoba dulu, kan belum tahu rasanya. Coba lihat deh, warnanya bagus kan!” kataku masih merayu.
Haaap! Dia mau makan sayur. Awalnya sedikit, tapi lama-lama dihabiskan. Ada kol, buncis, dan wortel. Namun, aku masih belum berhasil untuk membuatnya suka tomat.
“Asam kakak,” katanya sambil memejamkan mata.
            Pukul 8.45 WIB, kami masuk wilayah Sragen. Aku masih menghabiskan waktu dengan dua anak itu. Namun, sekarang gantian Rahman yang menyuapkan nasi goreng kepada Wahap. Manis sekali mereka.
            Pukul 12.20 aku melihat ke jendela kereta ada barisan ilalang yang hijau dipermainkan angin. Cantik.
            Pukul 12.40, kami memasuki daerah Sidoarjo. Mulai terlihat pipa-pipa besar, mobil-mobil, dan gedung tinggi.
            Pukul 14.00, aku menuju pintu kereta. Lelah Duduk. Aku berdiri dekat sana, menikmati pemandangan dari jendela. Ada sawah yang membuat mata nyaman. Sekitar pukul 15.00 kami masuk daerah Pasuruan. Kira-kira 40 menit dari sana, kami bertemu dengan ladang jagung.
            Aku kembali ke tempat duduk. Dua anak tadi masih belum lelah bermain. Aku tawarkan makanan ringan yang aku makan, dan mereka mau. Kira-kira pukul 17.20 kami sampai di Jember. Satu stasiun lagi, Rahman dan Wahap yang sudah kangen Nenek akan turun dari kereta. Aku dan Mas Uci membentu menurunkan barang dari bagasi. Mereka sangat bahagia sudah sampai di kampung. Aku melambaikan tangan sampai melihat mereka pergi dan tidak terlihat lagi dari jendela dekat tempat duduk. Baru tersadar, langsit sudah gelap lagi.
            Kira-kira pukul 17.35 Mas Uci buka puasa. Ia membagi kurma yang ia bawa. Kira-kira pukul 20.15 kami sampai di Stasiun Banyuwangi Baru. Haaah!
Aku berjalan ke luar kereta mengikuti Mas Erwin yang tahu harus kemana. Kami memutuskan untuk makan dulu sebelum memesan tiket kapal laut. Kami makan soto.
            Saat itu, tanpa pikir panjang aku percaya ikut Mas Erwin. But, kehati-hatian tetap harus ya teman-teman yang sedang bepergian. Jadi ramah, tapi jangan sampai dapat masalah. Beruntung ketemu Mas Erwin, ia orang yang baik, dari Semarang dan bekerja di Bali. Aku suka dengar orang bercerita karena pasti kita bisa belajar sesuatu dari sana. Jadi, aku senang Mas Erwin mau berbagi cerita tentang perjuangan hidupnya sampai sekarang, mulai dari masa SMA yang suka main, jadi suporter bola sampai tawuran, keluar dari rumah, tapi sekarang bisa jadi master chef di Bali. Luar biasa! 

Waktu akan mengajarkan sesuatu, cepat atau lambat, kita yang tentukan.

            Pukul 21.00 kami sampai di depan loket pembelian tiket kapal. Masuk dan langsung menuju kapal. Agak bingung karena kata Kak Gus Adi,”Kalau malem, mending diam di dalam kapal, ada sofa-sofa, kalau di atas, nanti mual.” Nah, tapi kata Mas Erwin,”Ke atas, pemandangannya bagus. Kalau di dalam, nanti mual.” 
Jreeng! Hompimpangalaiumgambreng! Okay, naik!

            21.07 WIB aku sampai di atas. Sebentarnya kapal mulai berlabuh. Disana sudah ramai penumpang lainnya. Tiga orang berdiri di dekat kursiku. Kami berkenalan. Namanya Kak Hani, Dini, dan Teguh. Mereka bertiga dan 12 orang lainnya adalah mahasiswa Universitas Andalas jurusan komunikasi yang akan liburan ke Bali. Nah, ternyata kami satu kereta dari Jogja sebelumnya, tapi mereka di gerbong dua, aku di gerbong satu. Kami bersama-sama akan menuju Denpasar.

            Pukul 22.22 WITA aku melihat ke langit sebelah kiri, ada kembang api. Cantik.
           

Setelah turun dari kapal, aku masih bersama 15 teman baru itu untuk sama-sama menuju terminal Ubung dengan bus. Kami masih dibantu Mas Erwin untuk mencari Bus. 23.27 bus meluncur menuju Denpasar. Sepertinya sebagian besar dari kami kelelahan dan memilih tidur. Aku tidak bisa tidur. Aku sempat ngobrol dengan Kak Rizqi tentang kegiatan tour mereka beberapa hari terakhir. Sebelum akhirnya, ia juga tidur, dan tinggal aku menikmati perjalanan. Bali!

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe