Akhirnya Kita Bertemu

07.21

Pertemuan ini terkesan terburu-buru. Namun, ada banyak pelajaran yang aku dapat dari kamu.


***

Kemarin malam aku dapat nomor teleponmu. Aku simpan dan aku tinggal tidur. Tadi pagi sebelum sarapan, aku coba hubungi, tapi tidak ada yang mengangkat. Mungkin kamu belum bangun. Setelah sarapan, aku coba telepon lagi, tapi tidak ada yang menjawab. Mungkin kamu  baru bangun, sedang gosok gigi.

Aku diam di kamar. Aku baca lagi baik-baik pesan yang masuk beberapa waktu yang lalu. Satu per satu. Aku coba raih makna dan intonasi pesannya, aku baca baik-baik sekali lagi. Sebelum akhirnya kamu menelepon. Kesalku setelah membaca pesan itu masih ada. Kamu mesti siap-siap kena damprat.

Aku sudah siap-siap memberimu ceramah panjang, tapi semua berhenti saat satu katamu keluar.
"Putri.."

Sejak awal, dari pesan yang aku terima, aku sudah men-set pikiran bahwa kamu perempuan. Tentu saja, perempuan yang siap menerima ceramah panjang dari aku pagi ini. Tapi aku salah, pesan itu salah, orang yang memberi pesan itu juga salah, kamu bukan perempuan. 

"Halo, ini siapa?"

Aku simpan nomormu dengan kode X karena aku tidak tahu kamu siapa, kecuali sepenggal kalimat "orang yang sempat membicarakan aku dan sok tahu". Tetap saja aku butuh namamu. Setidaknya aku tahu, siapa yang akan aku beri ceramah panjang.

Kamu diam.

Aku juga diam sebentar.

"Bisa kita bertemu?"
Aku mengeluarkan kalimat yang bahkan tidak masuk jajaran ceramah panjang yang akan aku berikan untukmu. Aku bahkan meminta bertemu orang yang aku belum tahu namanya. Kamu tahu kenapa? Karena aku tahu kamu dimana. Aku dengar suara musik yang terdengar ketika kamu diam di telepon tadi. Aku tahu musik itu cuma disana, tempat yang aku datangi sejak usia lima tahun, tapi berhenti ketika aku sudah SMA. Aku tahu kamu dimana, tapi aku tetap tidak tahu kamu siapa. Suaramu tidak aku kenal.  

Kamu diam.

Aku dengarkan suara musik itu baik-baik.

"Ya, nanti malam kamu bisa datang."

Kamu tutup teleponnya.

Musiknya berhenti. Aku bingung.

***

Saatnya minta izin Ibu yang pasti dengan bangga akan bilang,"Masih ada waktu lain untuk bertemu kan. Nggak harus sekarang kan. Ingat kan kalau ..... (dst)".
Minta izin sama Ayah, tapi Ayah tidak di rumah.
Lalu?

Akhirnya, aku bilang Ibu.
"Apa aku boleh pergi keluar? Sebentar saja."
"Kamu ingat harus apa?"
"Istirahat."
"Lalu?"
"Hari ini harus datang..."
"Minta lain waktu saja, bisa kan?"
"Tapi aku yang minta hari ini.."
"Ca.."
" please..."
"Sepenting apa?"
"......"
"Mama nggak bisa antar kamu pergi kesana."
"Nggak usah diantar, nggak papa.."
"Nanti, mama coba telepon kakak, minta antar kamu pergi kesana.."
"Nggak papa Ma, bisa sen.."
"Diantar atau nggak sama sekali?"
"Diantar!"

***

Aku untung diantar kakak yang tidak menunggu.
"Dik ca, nanti kalau sudah selesai, telepon kakak ya. Kakak ke tempat teman dulu."

Lega...

***

Aku melangkah masuk. Mulai deg-degan. Siapa yang akan aku temui kali ini? Aku tanya pada pintu yang baru saja terbuka karena aku dorong.

"Halo Ca... Ya ampun lama sekali tidak bertemu. Kamu apa kabar? Kapan sampai?"
Seorang Ibu menghampiriku. Pelukanya hangat. Ia tadi sempat aku lihat buru-buru meletakkan buku catatannya.

Ia menggeser kursi dan terus-terusan bertanya ini dan itu. Aku menjawab dengan ringan beberapa pertanyaan yang diajukan. Kami tertawa bersama. Melepas rindu.

"Ca, mau ketemu siapa disini? Lagi tunggu teman?"
Aku berpikir keras.

Diam.

Seseorang Bapak membuka pintu tempat ini. Apa iya, Bapak ini yang akan aku temui?

"Yasudah kamu disini dulu. Ibu mau kesana sebentar ya. Nanti kita ngobrol lagi ya."
Aku lega sebentar karena tidak perlu menjawab. Namun, aku semakin takut akan bertemu siapa.

***

10 menit berlalu, lima menit lagi tidak datang, ia tidak boleh isi daftar hadir!

***

Aku membaca Akar. Dua menit tidak datang, aku akan telepon kak Eka. Minta dijemput.

***

Ada yang berdiri di depanku. Aku lihat kakinya. Aku gugup tak berani mendongakkan kepala.

 Ia duduk, aku melihat wajahnya.

Ceramah panjang tanpa jeda pertanyaan untuk "orang yang sempat membicarakan aku dan sok tahu" ikut diam. Tak mau keluar dari bibir. Diam di otak, bahkan sebentar lagi pudar. Aku lupa. Aku lupa mau bilang apa. 

"Maaf, aku terlambat."

tidak akan aku maafkan!
"Okay..."

"Ada apa minta bertemu?"

pertanyaan macam apa itu? Argh!
"Kenapa kirim sms aneh-aneh untuk orang yang tidak kamu kenal? Tentang aku? Kamu..."

"Aku kenal. Kata siapa tidak kenal?"

"Okay, aku ganti pertanyaannya. Kenapa kirim sms yang tidak benar tentang aku ke dia? Kamu tau apa?"

"Aku tidak tahu apa-apa, makanya aku salah. Iya kan?"

"Lalu kenapa kamu tidak pilih orang lain saja untuk dijadikan objek kesalahan? Kenapa harus pakai namaku?"

"Kamu mau minum apa?"

aku siap melempar buku menu di depanku ini ke wajahnya. Haah! Tidak-tidak. Tarik nafas, hembuskan. Kita dengarkan dulu. Dengarkan dulu dari orang yang lebih tahu kenapa semua ini ia pilih untuk jadi masalah. Aku tidak mau tidak dapat apa-apa malam ini. Lain waktu, mungkin Ibu tidak mengizinkan pergi.

Kami diam sebentar. Aku tidak akan mulai bicara. Aku kembali membaca Akar. Awas saja kalau lebih dari 5 menit dia belum bicara. Aku akan beri dia kesegaran jus melon yang aku pesan. Aku guyur! 

***

"Kuliahmu gimana? IP lebih dari 3,9 ya? Hahaha"

"Bisa jawab pertanyaan yang tadi?"

"Oya, kenapa pakai nama kamu ya? Kenapa sebar pesan yang salah-salah ya? Soalnya kamu nggak bakal langsung marah sih, Hahaha. Pasti nanya dulu kan. Hahaha"

"Itu bukan jawaban."

Dia mengambil kotak rokoknya. Tidak akan aku izinkan!

"Kamu lihat tanda dilarang merokok disana kan?" 

Dia taruh lagi dan tertawa. 

***
"Ada sesuatu yang harus kamu tau. Banyak, terlalu banyak yang kamu belum tau!"

"30 menit lagi, aku akan dijemput. Ceritakan..."

***
Aku dengarkan satu per satu kata-kata yang keluar dari bibirnya. Aku dengarkan juga terselip di dalamnya alasan kenapa ia bicara hal yang salah-salah tentang aku. Aku diam saja. Kadang-kadang, ia menatapku, kadang-kadang ia fokus pada korek yang dimainkan sejak tadi. 

"Menurutmu? Aku mesti diam?"

Aku mencerna sebentar pertanyaan itu. Aku siap menjawabnya.
"Aku sudah tahu sejak lama. Semua yang kamu ceritakan tadi, Kalau aku tanya balik -Menurutmu? Aku mesti diam?- Saat itu, aku tidak pilih diam. Aku pilih pergi. Mungkin itu bisa jadi pilihan yang akan kamu ambil untuk masalahmu yang baru saja kamu ceritakan. Lihat dulu, lihat baik-baik, apa yang kamu perjuangkan. Penting?"

Ia bercerita lagi. Aku tahu semuanya, tetapi tetap memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan. Dia coba mengambil rokoknya. Aku beri dia pandangan siap mengguyur dengan jus.

Cerita berlanjut. Saat-saat dimana ia memilih tidak menatapku lagi. Mencari-cari tempat dimana ia harus mengepalkan tangan membuang kesalnya juga. Aku masih mendengarkan.

Sedih. Miris. Aku menghela nafas berkali-kali saat mendengar ceritanya. 10 menit terakhir, ia memberitahuku hal-hal yang belum aku tahu, tapi tidak penting untuk aku tahu juga. Sekarang yang ada di kepalaku bukan -kenapa aku dibawa-bawa? kenapa aku difitnah?- Aku rasa, aku sudah tahu jawabannya, yang aku pikirkan -sampai kapan orang di depanku ini akan seperti ini?- 

"Sebentar, aku akan sms lagi untuk memberitahunya bahwa semua itu tidak benar."

Ia masih menghindari mataku saat bicara. Aku sama sekali tidak berpikir lagi tentang apa yang mereka pikirkan tentang aku. Kepalaku sekarang mencari-cari apa yang aku bisa lakukan untuk orang di depan ini.

"Tidak perlu. Hapus saja nomor teleponnya. Berhenti saja. Hal yang salah, akan hilang dengan cepat. Jangan buang-buang waktu untukku, Hahahaha."

Aku ingin mencairkan suasana. Aku keluarkan satu kertas berwarna merah dan aku berikan kepadanya. 
"Ini untuk kamu saja. Dua hari lagi, pukul 7. Habiskan saja hari disana. Mulai titik baru."

Dia sekarang baru berani melihat ke arah wajahku. 

"Berarti kalau aku bohong lagi tentang kamu, akan berakhir seperti ini ya? Hahaha"

Manusia ini!


Aku hanya tertawa dan permisi pulang.

Kalimat terakhirnya,"Pertemuan ini terkesan terburu-buru. Namun, ada banyak pelajaran yang aku dapat dari kamu."

***

Berhenti sabar bukan berarti marah
Pergi saja.
Dengarkan dunia.
Sampai titik terdekat.

np








You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe