Hari Ini Aku Tahu

23.05

Hari ini aku tahu...

Aku bisa bertemu lagi denganmu dan berbagi cerita sebanyak yang aku mau. Kita sudah lama tidak bertemu, tidak berbagi cerita. Kamu sibuk dengan pengunjung dan pembacamu. Aku sibuk mencari siluet cerita untuk melengkapimu. Namun, kali ini kita bertemu. Tengah hari sebelum aku pergi ke kota yang lain. Oya, kamu dapat salam dari calon siluet cerita dan juga pembaca setiamu. "Salam untuk Pena Cokelat," begitu katanya.








Hari ini aku tahu...

Aku bisa tidur pagi dan bangun dengan tidak -lemas-. Hari ini aku terbangun pukul 10.27 setelah baru tidur tadi pagi pukul 5.37, tepat lima jam, tanpa alarm. Kemarin sepulang dari pura untuk sembahyang tilem (bulan mati) aku memutuskan untuk bekemas-kemas, merapikan seisi kamar ini sebelum aku tinggalkan sementara ke kota lain nanti malam.

 Aku memulainya pukul 22.00 dan selesai pukul 01.00. Bukan tidur, ada yang harus aku selesaikan sebelum aku pergi ke kota lain dan meninggalkan ruangan yang setia ini. Aku melengkapi halaman keduaratus yang selama ini mengisi hari-hariku disini. Lengkap dan aku mengirimkannya ke alamat yang sudah bertengger lama di draft e-mail. Selesai. 

Saat itu sudah pukul 04.00, tetapi perhatianku tertuju ke perut yang lapar. Hap! Mari kita memasak. Aku mengganggu peri-peri yang sedang tidur pagi hari ini dengan suara air mengalir, minyak panas dimasukan daging, dan pisau yang memotong-motong. Sudahlah, hari terakhir kan? Baru bertemu lagi denganmu Agustus nanti.

Aku memutuskan untuk segera rehat, makan pagi yang kepagian, mandi pagi yang kepagian, dan tidur pagi.





Hari ini aku tahu...


Aku sedang dikejar seseorang yang katanya ingin -ntahlah ingin apa-, semacam merasakan hal yang sama. Hanya saja hari ini membuat aku tahu bahwa menjadi orang lain bukan pilihan yang tepat. Aku serius. Seberapa pun kamu berlari untuk mengejar. Tidak akan pernah bisa kamu dahului. Mengapa? Karena kamu menunggunya melakukan sesuatu dan mengikutinya. Apabila kamu sudah di depannya, sampailah kamu pada titik kehilangan arah. Kandas di tempat atau kembali ke belakang dan mempersilakannya duluan jalan. .

Kamu cukup jadi kamu karena bahagianya belum tentu bahagiamu. Jika kamu tanya aku, makan coklat kepingan emas yang harganya Rp 500,00 saja aku sudah bahagia, tetapi belum tentu kamu juga -iya-. Jadi, untuk apa menunggu? untuk apa sama?  Tutup matamu, rasaka hidupmu, pilih jalanmu. 

Aku mengatakan ini karena aku menyanyangimu. Sungguh. Jika tidak, aku biarkan saja kau tergelatak disana karena aku tergeletak, kau berlari di tempat karena aku juga berlari di tempat, kau tidur terlalu lama karena aku tak bangun-bangun. Namun, tidak begitu. Aku tak apa kau ikuti, tapi kau yang apa-apa jika selalu mengikuti. Untuk apa kau diciptakan jadi kau kalau malah sama dengan aku? Mari jadi kembar siam saja.

Aku lebih suka kau berjalan di sampingku. Kanan atau kiri, terserah. Bukan di belakang, apalagi jauh di belakang agar aku tak tahu.


Hai, aku katakan ini karena sayang kamu!







Hari ini aku tahu...

Ada memori yang mengingatku lebih dari yang aku tahu. Kemarin, ketika kulepaskan kain-kain, seseorang mendatangiku. Ia menanyakan padaku apakah aku mengenal sebuah nama. Aku berhenti sebentar. Membuka satu per satu memori yang paling mudah di-recall. Tidak ada. Aku memasang ekspresi bersalah dan mengatakan aku tidak tahu.

Nah, orang itu tidak menyerah. Untung saja ia tidak menyerah. Mencoba membantuku mengingat-ingat lagi. Sebentar. Masih lama aku berpikir. 

DAPAT. Aku mendapatkam kotak memorinya. Aku menemukan nama dan wajah dari yang ia ceritakan sejak tadi. Wajahku bahagia mungkin, sampai aku melihat wajahnya juga bahagia. Semoga wajah orang yang diceritakan tadi padaku juga bahagia karena aku sudah ingat dan akan lebih mudah ingat.

Saat aku diam sebentar, ternyata di kotak memori tentang nama itu, ada banyak salam yang ia titipkan ke orang lain untukku. Salam terakhir adalah dari orang yang baru saja membantuku memutar ingatan. Baiklah. Romantis.





Hari ini aku tahu...

Aku rindu bercerita lagi dengan negeri tulip.



Hari ini aku tahu...

Aku sempat lupa padamu dan Catatan Merah. Maafkan aku ya. Namun, hari yang lengang itu mengingatkanku lagi.

Aku mendengar dan meresap dengan cermat kata demi kata dari salah satu pendengarmu. Awalnya aku beri mereka renking tinggi, walaupun tetap di bawahmu. Namun, sepertinya akan aku perketat seleksinya mulai detik ini. Sampai tidak ada nama-nama lagi, hanya ada aku, kau, dan catatan merah. Kita bertiga. Selebihnya, biar jadi yang picisan saja Tidak ada kantong lagi yang kata-katanya bisa dibagi saat pertemuan.  Selesai. Aku bahagia tanpa bicara.

Terima kasih untuk penyadaran. Aku sayang  kamu dan catatan merah. Kalian berdua saja yang akan tahu segalanya. Aku takut jika jenuh datang, dunia tak mau lagi mendengarku. Jadi, biar kalian saja yang ada dan dengar mulai sekarang. Aku percaya kalian adalah ciptaan-NYA yang ada untukku.





Hari ini aku tahu...

Aku baik-baik saja tanpa perlu banyak syarat. Perjalanan adalah keindahanku, bukan pangkal, bukan ujungnya. Aku tidak diminta berlari, tidak juga menuntut diri berlari. Jadi, penikmat hidup dan kejujuran yang membahagiakan, saat "tidak ada apa-apa" pun juga tetap membahagiakan. Saat sadar tidak bahagia pun tak perlu memaksa berkata bahagia. Aku bisa tuangkan apa yang aku rasa. 

Di mataku, semuanya baik-baik saja selama perjalanan masih dilangsungkan. Aku suka perjalanan. Siluet cerita asalnya darisana dan diperjelas juga disana.







perjalanan mengajarkan banyak hal

(Putri)







You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe