Kamu Cari Siapa?

06.27

Seorang teman kemarin mengabarkan aku, katanya sudah beberapa hari ini kamu mencariku.
Benar? Ada apa?
Bukankah kita bisa bertemu tiap hari.
Okay! Bisa bertemu, bukan berarti benar-benar bertemu.
Tapi, kenapa kamu masih menanyakanku pada orang lain?
Apa tidak lelah menyebutkan ciri-ciriku dan meminta orang lain melebur kenangan untuk mengenaliku?
Kenapa kamu tidak datang saja padaku? Menyapaku kalau saja "bisa bertemu" itu menjadi "benar-benar bertemu".

---


Oh, itu kumpulan pertanyaanku sebelum -baru saja-  aku bertemu denganmu.

Tidak berpapasan, tidak juga bertatapan, hanya bertemu. 
Dari dua menit itu aku sadar, kamu masih hidup dalam masa lalu. 
Ya, kamu masih hidup dalam latar masa lalumu.

Kamu cari aku? 

Padahal, tadi kamu berlalu di depanku dengan wajah bingung *aku rasa* dengan intonasi berat *itu nyata aku dengar*..
"Putri dimana? Apa kamu lihat Putri?" begitu katamu.

Kamu tidak lihat aku? Aku tepat di seberangmu. Kamu tanya kepada orang lain tentang aku. Aku dengar itu. Aku mencoba menjawabnya dan kamu mendengarnya *aku rasa*, lalu kamu seperti tidak percaya itu aku, lalu berulang kali lagi kamu tanyakan tentang aku. Apa maumu?


---

sekian waktu berlalu...

Suatu hari aku tepat ada di depanmu. Aku tunggu sapaanmu.
Kamu menyapaku, aku bahagia,
Kamu tersenyum padaku, aku semakin bahagia.

Lalu, kamu bertanya padaku..
"Hei, apa kamu lihat Putri?"


Aku tidak mengedipkan mata dan berusaha memutar otak untuk menjawabnya.
Wajahmu lugu menanti jawaban.
Wajahku cemas tak tahu harus jawab apa.
Wajahmu semakin polos, matamu ingin tahu.
Aku diam agar pipi tidak basah.
Akhirnya, bibirmu terbuka
"Kamu mau bantu aku cari Putri?"
Tangisku tumpah...


---
Kamu akhirnya dibawa pergi awan.
Sesekali aku tahu, kamu bertanya pada mendung
"Kapan hujan membawa Putri ikut serta ?"
Sesekali kamu buat aku menangis lagi dengan permintaan lugu
"Kalau kamu lihat Putri, kabarkan aku secepatnya. Katakan aku menunggunya."


---
Hei! Kamu pikir aku siapa?
Aku Putri,
Kamu tidak perlu bertanya pada hujan, apalagi meminta tolong padaku.
Tidak perlu.
Aku Putri.

---
Tapi percuma aku berdebat, 

kamu hidup dalam masa lalumu.
Kamu kenal Putri yang duduk di sampingmu saat itu.
Membuat origami dan memasukkan ke dalam toples.
Tidak berpikir kamu akan membuangnya dan hanyut ditelan aliran air.

Kamu kenal Putri yang itu.
Yang tidak bersandal dan menari lincah di atas pasir.
Tidak peduli kamu melihatnya atau berpaling.

Kamu kenal Putri yang dulu.
Yang selalu punya sekotak coklat ketika kamu minta maaf.
Tidak peduli itu akan membuatmu tidak paham apa itu -maaf-
---

Hei!
Jadi, apa aku yang harus mundur?
Atau kita sudah ada di dua dimensi berbeda dimana aku bisa melihatmu kehilanganku?
atau mungkin, keajaiban akan membawamu maju
sampai tidak lagi memintaku mencari Putrimu yang dulu.

---


np

You Might Also Like

3 comment

  1. hahahah pengalaman hidup nh....yg sabar...
    like for your "surat penacoklat"
    apa kamu lihat putri.....loh :p

    BalasHapus
  2. Waah, siapa saja bisa mengalami ini kok ;D
    hmm itu salah satu akibat dr kerusakan medial temporal lobe, tidak bisa membentuk memori baru :D
    terinspirasi dr kuliah sistem saraf, hehe

    BalasHapus
  3. serasa nusuk :o
    punya obat untuk yang mengalami cerita seperti ini bertahun-tahun put ?

    BalasHapus

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe