Aku Ingin Bercerita ...

08.54

Suatu hari aku ada di balik jendela, melihat keluar. Langit mendung. Biasanya aku berdoa agar hujan baru turun ketika kereta sudah mengantarkanku sampai stasiun dan dilanjutkan kaki-kaki yang mengantarkanku sampai rumah. Tapi, kali ini aku berharap badai ... Badai! Sekarang!

***

Badai benar-benar datang. Tuhan mengabulkan doaku!

Aku menidurkan kepalaku di atas meja cokelat. Mulai mengatur nafas dan berusaha tidak menghiraukan suara-suara langkah kaki lain yang datang dan pergi dari ruangan ini. Lama-lama, tidak tahu mengapa, meja jadi basah.

Aku arahkan telunjuk kiriku ke arah mata kiri. Sekarang aku tahu arahnya dari mana, aku tahu! dan aku yakin kalian juga pasti paham. 

Setelah memastikan meja cokelat sudah kering lagi, aku menengok ke kanan dan melihat perlahan hujan semakin deras dan setiap ada yang membuka pintu, suara derunya semakin keras terdengar dari tempatku. 

Aku mulai merapikan satu per satu benda-benda di atas meja. Mengambil sweater dan menggunakannya. Berjalan dua langkah dan menengok ke kiri lagi, memastikan tidak ada yang ketinggalan. Tentu saja, memastikan lagi meja cokelat itu sudah kering.

Aku melangkah ke arah pintu keluar, membuka pintu, dan tentu saja suara deru hujan, ehm? badai!, sangat keras.

***

Kaki rasanya berat untuk berbelok ke kanan seperti hari-hari biasanya. Ada banyak hal yang belum selesai saat itu, ada banyak hal yang sudah selesai juga sebenarnya. Sayangnya yang belum selesai itu menutupi perasaan, menjadikannya khawatir. Sayangnya lagi,  kaki ini selalu mengikuti perintah neokortex, yaitu "Belok kiri saja Nai!"

Aku belok kiri.

***

Badai setengah berhenti, tapi badai dalam diriku yang sekarang menggema. Aku mulai mengatur nafas lagi, pelan-pelan. Jangan sampai, jangan sampai, jangan sampai aku dimakan rasa marah disini, di tempat seramai ini. 


Kata neokortex,"Nai, putar balik, pergi sejauh mungkin. Eh? Jangan! Kamu duduk saja di ujung sana, perhatikan apa yang terjadi. Lakukan seperti yang kamu suka, memperhatikan orang. Ya Nai, lakukan itu!"

Aku duduk sedikit di pojok. Bercakap-cakap dengan notebook dan menjawab sapaan tiap teman yang melewatiku. Saat itu aku berhasil mengatur nafas dengan sangat baik, sampai tidak ada marah, meja pun tidak basah.

***

Aku melihat dari jauh, kadang-kadang kesal dan kembali pada notebook saja. Perlahan-lahan aku hanyut dalam cerita yang aku tulis, cerita ini. Sayangnya, saat aku berbalik ke arah itu, tidak ada lagi objek yang tadi. Hilang, lenyap, ditelan badai yang mereda. Bukan badai diriku, tapi badai dalam artian yang sebenarnya.


Baiklah, aku mulai diam. Aku juga lupa, mungkin saat itu ada yang menyapaku dan aku tidak menjawabnya. Aku mengatur nafas lagi, lagi, lagi. Sampai badai dalam diriku juga mereda, tapi tanpa menelan siapapun.

***

Aku berjalan keluar, sekarang menyusuri jalan belok kanan yang seperti biasa aku lakukan. Membuka payung karena tidak ingin basah. 

Dalam perjalanan singkat sampai ke gedung penuh suara-suara merdu itu, aku seperti mendapat angin segar dari opium yang dihasilkan secara alami dalam tubuh.



Angin itu bercerita tentang kepercayaan

Katanya, tidak selalu ada yang percaya dengan kamu
Bahkan kalau ditotal sejumlah manusia di dunia ini, 

akan lebih banyak yang tidak percaya pada kamu


Karena apa?

Karena total teman kamu saja hanya 
ehm? sepersekian persen dari total manusia dunia
dan, belum tentu seluruhnya percaya dengan kamu,

Benar?

Jadi, berapa orang yang percaya padamu?
Sedikit?
Sama! Aku juga sama!

Kata angin,
 jangan sampai yang percaya jadi tidak percaya
Jangan sampai 
yang awalnya hanya 1 yang percaya menjadi kosong

Kenapa?
Kenapa perlu ada yang percaya pada diri?
Apa susahnya bekerja sendiri tanpa perlu rasa percaya dari orang?

Apa kamu yakin bertanya itu?

Bahkan, kalau nol kepercayaan orang,
kepercayaan diri sendiri bisa terbawa
ke angka di bawah nol,
 mungkin minus sembilan belas

Nah, itu dia...
Itu dia Nai!

Kamu masih punya rasa percaya
mereka masih percaya kamu untuk melangkah kesana
Bahkan, membawa mereka turut kesana

Tidak ada yang melarang kamu berhenti percaya pada yang lain
Tidak ada jika alasan tidak lagi percaya itu jelas

Nai, lihat yang percaya kamu
dan untuk sekarang
kamu diijinkan tidak melihat yang mengabaikan kepercayaan kamu

Nai, kamu boleh membasahi meja mana pun
asal kamu bisa memastikan kering sebelum pergi
Jangan pergi ketika segalanya belum selesai, Nai!
Itu sama dengan tanda tangan kwitansi kehilangan kepercayaan.

Nai, nanti ketika kamu sudah melewati badai
Kamu bisa kembali
Kembali membuka kesempatan untuk yang mengabaikan kepercayaan

Nai, kamu boleh datang kembali kapan pun kamu ingin
Datang dan bawa serta mereka 
yang meninggalkan kepercayaan itu turut serta

Sampai ada kesan dalam hati mereka
sedikit kepercayaan yang kita punya
sangat harus dijaga

Tapi, Nai
Pastikan kamu ada dalam kondisi di luar badai
tenang seperti biasa

ketuk pintu
tampil dalam ketegasan bukan kelemahan

Datang
ajak mereka turut serta
mensyukuri ada rasa percaya yang tersisa 
untuk mereka

***


(np)


You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe