Sebelum Terlambat Menyapa Maret

07.02

Howdy March!
Let's make our best firework, okay!

Akhirnya hujan turun (9.20 pm)

Hari pertama setiap bulan tentu saja harus disapa dengan ramah. Nah, untuk kali ini aku ingin bercerita tentang seorang guru Agama Hindu dan sebuah rasa aneh yang akhirnya terpecahkan.

***

Pagi tadi ada kelas agama. Bisa dibilang aku sampai di kelas 20 menit sebelum masuk. Ini hari Sabtu, tapi aku selalu punya cukup semangat untuk mengikuti kelas agama Hindu. Di dalam ruangan B202 FMIPA itu, ternyata sudah ada seorang dosen (ntahlah, aku lebih suka menyebut guru) yang baru pertama aku temui, namanya Pak Natih (tahukah teman, tadi aku salah menulis nama, aku menulisnya dengan "Pak Sada" <<klik>>).

Ya tentu saja itu kunci ceritanya. Guru agama ini tiba-tiba mengingatkan pada guru biologi favoritku, Pak Sada. Bukan wajahnya, bukan cara mengajarnya, tapi setelah lama aku perhatikan, ternyata cara memandang mata-mata kami. Guru agama satu ini bahasannya juga menarik minat (terlepas dari matanya yang mirip Pak Sada). Sedikit tentang kuliah Agama Hindu ini ada di >> klik

Pagi selesai, siang datang...

Siang tadi aku dan Desy langsung beranjak dari B202 ke Auditorium F.Psi. Disana sedang ada GR dies natalis. Hai teman, Senin nanti aku dan Desy akan menari Legong Keraton. Selain itu kami juga tergabung dalam penampilan mini operet bersama Teko, Bilmus, dan AAJ :D, doakan kami yaa :)

sesi meninggalkan Auditorium jadi punya rasa aneh...

Sampa di kamar tadi rasanya ada yang kurang. Aku coba cek benda-benda di tas (kemarin kardiganku sempat ketinggalan di Auditorium sehabis latihan). Semuanya ada.

lalu...

Duduk sebentar selepas sembahyang (hari ini Tilem 0:), aku menemukan sumber keanehan rasa itu...

Ibu dan Ayah...
Ternyata aku rindu mereka lebih dari biasanya 0:)

Dulu, waktu aku kecil, Ayah jadi orang paling rajin yang mengantarkan ke sanggar. Ibu jadi orang paling rajin menyiapkanku sampai rapi dengan segala bawaan untuk latihan nari. Aku mulai latihan umur 4 tahun. Tapi, setelah kira-kira sebulan, aku berhenti (ntah apa, aku lupa alasannya). Nah, saat itu aku memutuskan latihan bersama ibu saja di rumah.

Setelah masuk TK, aku bertemu teman-teman yang ternyata juga ikut di sanggar yang dulu aku ikuti, namanya Sanggar Tari Bali Pemecutan, tempatnya di Wantilan Pura Tambangan Badung (dulu aku tinggal dekat sana, kelas 2 SD baru pindah rumah). Teman-teman itulah yang akhirnya membuatku kembali ikut disana, sampai akhirnya  berhenti sebentar karena harus kuliah disini, di Depok. 

Biasanya, ketika akan pentas menari, Ayah selalu membelikanku CD tari (sesuai tari yang akan dipentaskan) dan ibu selalu menyempatkan melatihku di rumah setelah latihan di sanggar.

dan saat GR...

Pernah (mungkin juga sering) GR tari itu diadakan sampai larut malam. Saat itu, ayah pasti selalu siap mengantar dan menjemput, seberapapun lelahnya sehabis bekerja. Ibu juga kadang menyempatkan datang dan melihat apa saja yang perlu aku latih lagi di rumah dan meluangkan waktu latihan bersama di rumah.

dan semuanya itu tadi tidak ada, aku berangkat sendiri dan sampai disini tidak ada latihan dengan ibu...

Sebenarnya tidak ada ayah dan ibu disini selesai GR tari bukan hal yang pertama. Namun, ntahlah rasanya lebih dari rindu-rindu sebelumnya. 




***

Maret! di awal saja sudah memberi rasa rindu seperti ini :'D
Terima kasih untuk Hari Pertama yang mengesankan :* #kecupsayang
Selamat datang Maret!


NP


You Might Also Like

4 comment

  1. Ibu nya putri guru tari ? atau penari sedari dulu ? yg aku tau baik dan selalu ramah :)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. guru tari untuk anak-anaknya kak, hehe:D
    Ibu suka nari dari kecil juga :)

    BalasHapus
  4. wah... :D
    yg pasti aku tau, baik banget... :3
    rasanya seperti saat bertemu wali kelas pertama waktu aku SD dulu :D
    mungkin suatu nanti aku nitip anakku untuk belajar tari dari ibumu :D

    BalasHapus

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe