Payung-payung Kecil

03.31

Dear hujan hari ini :D
Terima kasih sudah turun dan memberi kabar :)


4.30 pm dari dalam bis

Pintu depan dan belakang bis terbuka. Terlihat anak-anak kecil basah kuyup. Mereka membawa payung, tetapi untuk disewakan. Mungkin hujan adalah teman untuk saat ini. Mungkin dingin jadi dinamika yang membuatnya punya ekspresi. Jadi, tidak perlu payung untuk diri sendiri.

Mata-mata mereka menatap para penumpang yang sebagian besar membawa payung sendiri. Bukan tatapan kecewa. Lalu, mereka berlari ke arah lain, ke arah orang-orang yang setengah berlari sambil menutupi kepala dengan tas.

Bis melaju lagi. Aku mengenang...

Bogor, 17 November 2011

Di salah tempat makan malam, kami berhenti. Mesin mobil sudah mati, tapi penumpangnya berpandangan. Hujan deras.
"Payung?"

Dari jendela mobil terlihat anak-anak basah kuyup membawa payung. Mereka berjalan beriringan sambil tertawa. Ada yang memutar payungnya, ada yang bernyanyi, berlarian, saling dorong. Yaaah... mereka terlihat sangat bahagia dan akrab dengan hujan.

"Buka jendela Put, panggil mereka gih."

Belum sempat aku memanggil, salah satu anak menghampiri mobil yang jendela depannya baru saja aku buka. 
"Ojek payung teh?"

Suara anak itu serak, senyumnya manis, anak laki-laki yang terlihat bahagia setiap saat.

"Dua payung ya.."

Aku mengamatinya memanggil salah satu teman. Nah, saat aku keluar, dia memberikan payungnya padaku dan memilih menikmati hujan.
"Sini, jangan hujan-hujanan lagi."


Akhirnya kami berjalan berdua sampai di depan pintu restoran. 
"Berapa?"
"Terserah saja teh.."
Aku melirik temanku dan memberikan selembar uang. 

Dari dalam restoran itu, mereka masih bisa dilihat dari jendela. Hujan sedikit lagi berhenti, mereka pun perlahan-lahan pergi.


Depok, 9 Desember 2013

Aku berjalan sendirian saat itu. Sederhana, waktu itu aku ingin membeli sesuatu. Setelah melewati jembatan penyeberangan, di ujungnya berdiri dua anak kecil dengan payung-payung besar. Aku tersenyum kepada mereka dan mereka juga balik tersenyum. Mereka basah kuyup. Sepertinya mereka lupa jika mereka tetap disana dengan dua payung besar, aku tidak bisa lewat.
"Hai, boleh permisi adik?"
"Eh? iya-iya.."

Selesai belanja, aku bertemu lagi anak-anak basah kuyup yang membawa payung di lobby. Mereka mendapat banyak pelanggan, kecuali aku karena saat itu payung merahku masih menemani. Aku berjalan tepat di belakangnya. Saat itu ia kehujanan dan payungnya diberikan kepada dua orang pria yang sedang berjalan di depanku.
"Hai..," kataku menyapa.
"Hai teh. Mau pulang?"
"Iya, kamu sampai jam berapa disini? Besok sekolah kan?"
"Sebentar lagi. Mau dibawakan teh belanjaannya?"
"Wah, terima kasih. Ini ringan kok."

Sayangnya perjalanan kami tidak lama. Di ujung jembatan penyeberangan, dua laki-laki itu mengembalikan payung besar anak tadi. Aku kembali dihadang dua anak dengan dua payung besar dan senyum ramah. Tapi sekarang mereka tidak lupa kalau aku akan lewat.
"Hati-hati di jalan teh, hehe.."


***

Hujan, basah, dan payung masih mengabarkan bahwa anak-anak itu senang menikmati rintik air hari ini. Senyum-senyum mereka mengundang senyum :)

***

Bis berhenti, saatnya aku turun di halte ini. Saat aku membuka payung di depan pintu bis, payung merahku tiba-tiba rusak.  Baiklah, aku perlu salah satu payung-payung kecil itu.







NP

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe