Janji 119 Hari Rey

03.53



#afroafro seri 3 :)
untuk yang belum baca seri 1 -2 bisa disini :
1. Afro?

***

Rey sekarang merasa di tempat yang semuanya adalah batu dan rumput. Tidak ada yang bisa diajak bicara. Semuanya sibuk untuk diam. Tinggal dia yang melihat Rere pergi meninggalkan negeri batu dan rumput itu. "Bye Rere," bisiknya dalam hati.

***

Pelajaran sejarah baru saja selesai. Hari ini cukup sejuk untuk mengobrol di bawah pohon belakang sekolah. Namun, Rere terlihat sangat terburu-buru. Berkali-kali ia menabrak siswa-siswi lain yang lewat. Seperti ada kabar buruk yang membuatnya harus cepat sampai ke gerbang sekolah.

"Rere?"
Langkahnya terhenti. Afro sedang ada di depannya sekarang.
"Mau kemana Re?"
Rere masih mengatur nafasnya. 
"Aku mau ke rumah sakit Kak."
"Siapa yang sakit?"
"Rey..."

---

Rere sampai di rumah sakit itu dengan kondisi setengah basah. Tiba-tiba hujan turun ketika ia baru saja sampai di halte yang ada di depan rumah sakit. Rere segera menuju ruangan C405 setelah menyebutkan nama Rey kepada receptionist di depan.

Sekelebat bayangan Afro membuat kepala Rere semakin berat. Tangisnya dimulai juga. Sepanjang tangga, tetes-tetes itu ada. Ini bukan hanya tentang yang terbaring disana, tapi tentang yang baru saja ditinggalkannya.

---

Ruangan dengan warna cat kalem dan dua jendela besar yang tertutup menjadi bisu juga seperti Rere. Ia duduk di sebelah tempat tidur Rey. Nafasnya mulai diatur  satu per satu. Jari-jarinya mulai bermain untuk menghapus air  mata yang sulit dihentikan. 

"Rey, aku bawa coklat looh buat kita makan sama-sama."

Lagi-lagi ia berusaha menghapus dan menghentikan air mata yang sudah membasahi pinggiran selimut Rey.

"Rey, ini baru hari ke-77 kita disini, baru dua bulan kan. Kamu janji menemaniku sampai hari ke 119 disini kan?"
"Rey jangan menyerah sekarang. Ayo buka mata. Kita makan coklat sama-sama lagi."
"Rey, kamu nggak pernah ingkar janji kan selama ini. Tepati janji yang sekarang Rey. Aku mohon..."

---

Wajah sendu Nenek menatap lekat Rere yang belum berhenti menangis. Ia tidak tega melihat cucunya bersedih hati seperti ini.
"Rere, ini ada teh lemon Nenek buatkan untuk kamu. Ganti baju dulu ya, habis itu minum tehnya."
Rere menatap Neneknya yang datang dengan membawa baju ganti. Ia terharu dan memeluk Nenek.
"Nek, Rere mau Rey bangun Nek," tangis Rere kembali tumpah.

---

Pelukan hangat dan usapan di kepala dari Nenek membuat Rere sedikit tenang. Rere sekarang duduk dekat jendela rumah. Di kepalanya ada wajah tenang Rey. 

"Rere.."
Panggilan Nenek sedikit mengagetkan Rere.
"Kenapa Nek?"
"Sepertinya ini sudah waktunya Nenek memberikan surat dari Rey."
"Surat?"

---

Dear Reine Fiore
Rere ...

Hai cinta. Hahahaha
Misi kita sudah sukses kan. Kita sudah bertemu Afro. Horeeei!

Rere sayang, aku bersyukur saat tahu Afro, hmmm Kak Afro adalah orang yang baik. Sebenarnya, aku juga cemburu ya waktu lihat kamu sama Kak Afro makan es krim berdua. Aku tahu kalau kamu tahu perasaan itu.

Tapi, 77 hari disini membuatku semakin yakin tentang jalan tenang yang nantinya aku lalui. Kamu tahu sendiri kan Re, aku tidak punya siapa-siapa disini, bahkan dimana pun, selain kamu. Jadi, tugasku hanya satu, ya jagain kamu sampai aku mati sebentar lagi.

Jangan nangis....

Waktu kamu cerita tentang perjodohan karena hutang Ayahmu pada Ayah Afro, aku merasa itu hal konyol. Aku sempat tidak percaya dan menganggap segalanya akan baik-baik saja. Tapi, situasi tidak menentu semakin membuatmu jadi lebih sering menangis. Aku tidak suka itu terjadi.

Ingat kan, disana... saat kita membuat misi rahasia...
Seminggu setelah kamu mengatakan akan dijodohkan dengan Afro adalah hari naas yang tidak bisa aku lupakan. Disana, baru aku bisa menyadari jawaban-jawaban dari Tuhan. Saat aku tahu kalau ginjalku yang memang hanya satu, juga sudah tidak kuat menahan beban hidup. 

Kita menangis bersama saat itu. Lucu juga... hahahaha :')
Aku tidak menyangka bisa mencintai satu wanita sampai aku mati. Kamu beruntung Re, hahahaha, tapi Aku yang lebih lebih dan sangat beruntung...

Saat aku mengatakan padamu bahwa hari-hariku tinggal 157. Kamu juga seperti menyangka ini adalah kekonyolan tingkat akut. 

Tapi, akhirnya ... di pantai itu kita menjejak kembali kenyataan yang ada... Aku akan mati, dan Tuhan akan memberikanmu Afro.

Aku punya tugas menjagamu kan Re, begitulah. Sampai akhirnya kita membuat misi rahasia super untuk mengenal Afro sampai kesini. Dalam hati, aku ingin memastikan bahwa Afro adalah orang yang baik, dan ternyata memang benar. Syukurlah...

Sebulan lebih awal aku kemari.... saat usiaku tinggal 149 hari lagi...
Aku segera mencari tahu mengenai Afro. Tidak ada yang bisa aku katakan selain dia adalah laki-laki yang baik... Tapi, aku masih tidak rela membiarkanmu dengannya Re...

Saat usiaku sisa 119 hari, kamu datang kemari...
Saatnya kamu mengenal Afro...
Sesaat aku berharap ini jadi negeri batu dan rumput, dimana hanya ada kita sebagai penghuni di tempat yang sejuk ini....pasti kita bahagia

Semakin lama, aku merasakan sakit ini tidak bisa tahan sampai 119 hari. Aku menulis surat ini dan aku titip pada Nenek. Maaf ya Re, tulisanku tidak bagus, tapi ini tulisan calon dokter looh.. hahaha...

Rere sayang,
Satu maaf yang akan aku bawa sampai mati nanti,.. Maaf aku tidak bisa menemanimu mengatakan semua ini pada Afro...

Semoga bahagia bersama Kak Afro
Skenario teater kita sebentar lagi akan selesai...
Misi selesai...
I love you Rere <3

---

Hari ke-119

"Rey, Afro sudah tahu sebenarnya aku siapa..."
"Rey, dia awalnya diam..."
"Rey, tidak lama setelah itu... Ia memelukku"
"Rey, katanya ia ingin aku mencintainya."

Rere meletakkan seikat bunga lili di nisan Rey. Wajahnya pucat, tangannya dingin. Pemakaman itu sangat sepi. 




- selesai -



Akhirnya, seri #afroafro sudah selesai :D
Terima kasih sahabat pena yang sudah berkunjung untuk membaca :D
Salam #afroafro

With Rey, Rere, Afro

NP

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe