Dibangunkan Embun

16.11

Hai dinding surat...
Pagi ini embun membangunkan kita
 untuk tersenyum sebelum pagi sangat terang
Jendela sudah terbuka
sejuknya sudah masuk
 Ini waktunya kita berbagi cerita
jadikan satu dengan surat cokelat yang lain


Jawaban Sore

Sore itu, dinding sandaran jadi rapuh. Diam itu ditarik ke kahyangan jauh. Saat itu aku harus bicara, apapun yang kamu ingin tahu. Aku harus jelaskan. Sekali pun itu belum jelas. Sekali lagi, aku bahagia kamu datang.
 Namun, kata hati, "Tidak tahu harus menjamu dengan cara apa." 
Hati bertanya lagi,"Kamu siapa?" 
Aku jawab dengan menyebut namamu. Jawaban itu ditolak. Aku coba lagi. 
Aku curi isi pesanmu waktu itu. "Dia itu yang punya sayang untuk aku." 
Hati cuma diam. Lalu, hati ikut-ikutan bertanya sepertimu, "Kamu kenapa?"  
Beberapa menit tidak ada jawaban. Aku jadi bingung harus menjawab apa. Beberapa detik kemudian ada bayang-bayang. Awalnya tentang kita. Ada hati bahagia. Selanjutnya, coba bermain-main. Lalu, kamu sendiri tahu jawabannya. Aku ketik kronologi itu dan kukirim.
Sekarang, hatimu yang menolak jawaban itu. Kamu ulangi lagi jawaban tentang sayang itu. Aku kembali sampaikan pada hati. Sayangnya, dia masih diam. Mungkin, bukan itu jawaban yang dinanti hati.

Sore itu kemilaunya jadi berbeda...
Bagian merah-oranye lebih lembut tapi hampir pudar

Searah pintu keluar stasiun, aku bertemu penjual payung. Sore tidak memberi tanda hujan, tapi aku masuk toko kecil itu. Seorang Bapak keluar dan bertanya, aku akan beli yang mana. Aku ambil payung warna hitam.  Ku letakkan lagi karena awalnya aku tidak berencana membeli payung. Namun, sudut mataku dicuri. Aku ambil payung merah cerah, aku bayar, dan perjalanan berlanjut. 

Kadang tidak ada tanda dari semesta tentang hujan atau tidak. Tapi, ada jawaban dari sore saat bertanya,"Apa lagi ya setelah ini?"
 Tidak ada juga petunjuk dari semesta, aku harus menjawab pertanyaanmu atau tidak. Tapi, ada bisikan dari sore,"Sebelum langit jadi gelap dan semesta membisu, bicara saja."

Berpayung merah di tengah hujan sore, itu aku...
Mengeja lagi jawaban yang baru saja kuberi, itu juga aku...

Untitled | via Tumblr



Apel Merah

Kamu mau buka hari ini dengan apa? Satu pertanyaan saat masih temaram dan mata coba mengadakan adaptasi sensoris. Jendela dibuka dan sejuk mulai datang. Hanya sedikit burung yang terbang hari ini. Mungkin, mereka di sarang saja, berlibur seperti kita. Kata sore kemarin, November akan lebih cepat karena kita akan melompati satu dua alur yang overlap.

Namun, kita mesti tetap tenang karena masih ada waktu untuk bercerita saat pagi datang. Pagi pasti memberi waktu untuk mengeja rencana kita lagi. Tarik dan hembuskan nafas pelan-pelan jika rasanya akan sulit. Percaya saja, semesta akan memeluk rencanamu juga. Selama semuanya dari hati, sungguh-sungguh, dan aku percaya kita semua punya itu. 

Aku buka hari ini dengan apel merah.

Gigitan pertama,"Hari ini aku akan menginjak rumput basah, menari-nari di atasnya, langit akan tetap biru selama aku disana, dan matahari mau minggir sebentar.
Gigitan kedua,"Aku akan berdua dengan sayap dan terbang ke dalam dunia baru, bertemu perca-perca cerita dan mengumpulkannya untuk dibuat gaun alur yang indah.

Masih ada beberapa gigitan sebelum apel merah habis. Masih ada waktu untuk mengeja cerita yang akan dimasukkan ke kantong hari ini.




                                                                                                                   NP





You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe