Cerita Balon Terbang ♥

06.09


  Princess




Dear pena cokelat...Setelah dua malam bergeser ke langit berbeda,  sekarang kita menulis cerita tentang sesuatu yang tinggi disana <3

Terima kasih langit Bogor dingin dan ramah
Terima kasih Depok yang menyambut kepulangan dengan tenang :'D







Bangun Pagi
Kamis pagi yang abu-abu. Isi pesan itu membuat pagi ini lemas. Katanya, ada yang meninggal. Katanya, kejadian itu tiba-tiba. Katanya, karena sakit.  Katanya, ia menangis tak henti. Katanya, ia belum bisa menyudahi kenangan itu. Katanya, suasana disana redup. Kenyataannya, tak satupun bisa aku lihat secara langsung. Kenyataannya, sekarang aku disini bukan disana. Kenyataannya, pagi abu-abu itu membuatku merasa jauh.


Masih Teringat
Sekilas suasana yang jauh itu masih bisa aku rasakan lewat kata-kata yang dituliskan sore ini. Tidak bisa datang untuk sekadar memeluk, berharap itu membuatnya tegar. Kata-katanya sederhana. Ia mengatakan bahwa semuanya masih teringat dengan jelas. Lagi-lagi hanya bisa menunduk tak bisa datang, tak bisa memeluk, tak bisa membuatnya sedikit tegar. Aku bertanya pada Ibu, dan katanya,"Ia menangis." Hal itu sudah bisa aku pastikan. Aku saja sudah terkejut ditemani air mata disini. Aku memejamkan mata, berdoa untuknya yang pergi dan untuknya yang disini. Seorang ibu kembali pada-Nya dan seorang anak yang sangat ingin aku peluk sedang menangis, tapi aku jauh disini. Biasanya kami pergi ke pura bersama. Bicara sambil duduk-duduk di wantilan. Aku juga ingat ibu itu sampai sekarang. Ia pasti jauh lebih ingat.

Ayah sedang Tidur
Minggu pagi yang abu-abu. Ku baca pesan itu berulang-ulang kali. Kabarnya, bapak ramah itu meninggal. Ia seorang ayah dengan dua orang anak. Iya, aku persis mengenalnya. Ia yang setiap hari menyapa ketika aku membuka gerbang cokelat untuk menyapu halaman depan atau saat sembahyang di pelinggih depan rumah. Ia yang setiap senja berbagi cerita dengan ayah dan istrinya yang suka datang ke rumah cokelatku untuk bicara-bicara dengan ibu. Dua anak lucunya yang suka bermain dengan adikku. Kata Ibu, selepas olahraga suatu malam, tiba-tiba ia serangan jantung dan waktu hidupnya disudahi. Kembali aku tanyakan pada ibu suasana disana. Kata Ibu, anaknya yang paling kecil berkata," Ayah sedang tidur." Dua anak itu belum SD dan saat ini ayahnya sudah tidur.




Love autumn.  | via Tumblr


***

Balon Terbang

Setiap hari Minggu, aku sering diajak pergi ke taman kota. Disana, Ibu akan bercerita satu per satu tarian yang dipentaskan di panggung terbuka. Biasanya, ayah akan segera datang dan di tangannya sudah ada balon. Ayah akan mengikatkan benang balon itu di pergelangan tangan kiriku agar tidak terbang saat aku berlarian di taman luas ini.

Aku sering bertemu anak-anak dengan tangan kiri yang sama, diikatkan benang balon. Biasanya kami tidak perlu berkenalan, kita berlarian saja bersama disana. Tiba-tiba ketika kembali, orang tua kita sudah duduk piknik dan berbagi cerita.

Suatu sore yang oranye ada banyak sekali yang berlarian membawa balon. Ada yang benang balonnya diikatkan pada tangan kiri, pada tangan kanan, atau membawa balon bertangkai. Ada juga yang hanya menggenggam benangnya dengan erat. Warna balonnya juga bermacam-macam. 

Suara tangisan terdengar, ku alihkan pandangan ke sudut-sudut yang mungkin menjadi sumber suara. Ternyata, yang menangis itu temanku. Aku ingat ia juga berlarian bersama kita saat sore manjadi semakin oranye. Saat itu, ia menggenggam erat benang balonnya yang tidak terikat.

Ia menunjuk langit, aku mengikuti arah telunjukkan. Sebuah balon hijau muda ada di langit bersama banyak sekali balon-balon terbang yang lain. Ia menangis di sampingku yang duduk saja dan tak paham harus seperti apa. Awalnya, aku ingin memberikan balonku untuknya, lalu kembali ke tempat duduk Ayah untuk minta dibelikan yang baru. Namun,  ikatan benang balon di tangan kiriku sulit sekali dilepas. Jadi, aku hanya diam melihatnya menangis menunjuk langit. 

Di langit ada banyak balon lain, tetapi suara tangis tidak sebanyak balon yang terbang. Aku melihat sekeliling lagi. Ada yang melambaikan tangan ke arah langit. Kira-kira tiga sampai empat anak yang berdiri dekat tugu pahlwan sedang melambaikan tangan pada langit, tepatnya pada tiga balon lain yang terbang bersama balon hijau. Mereka tidak menangis.

Balonnya terbang, tidak tahu berhenti dimana. Tangis teman sebelahku perlahan-lahan berhenti seiring semakin jauhnya balon itu hingga hanya terlihat titik yang semakin lama juga semakin pudar. Aku melihat tangan kiriku, ikatan benang balonku masih erat. Namun, aku ingat cerita pagi saat balon itu bisa aku bawa pulang. Balon itu semakin lama semakin menyusut. Waktu itu, aku belum paham kenapa balon yang didiamkan saja bisa menyusut. 

Mungkin, kepergian bisa sepola juga dengan balon. "Sudah waktunya", bisa jadi satu jawaban ketika ada yang terbang ke langit atau menyusut dimakan waktu. Saat balon hilang, ada yang menangis, ada juga yang melambaikan tangan. Tidak ada yang tahu balon-balon itu akan berhenti dimana. Rasanya seperti dimakan langit dan ditelan saja. Berikan pada langit jika memang sudah waktunya. Kita boleh menangis dan melambai. Setelah itu, kita kembali berlarian suatu sore yang oranye dengan balon lain yang akan dibelikan Ayah lagi dan lagi.


♥





With hugs {}

NP
smile


You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe