Potongan Coklat Cerita ♡

12.00

Haaaiiii (っ˘.˘)っ I'm so glad meet you again ~ yuhuuuuu ~

Yuup, 26 hari tanpa cerita dan sekarang saatnya kita bercakap-cakap lagi sambil minum teh *yey*



Fotos de la biografía | via Facebook
September 27, 2013 , 12.48 a.m at lovely room

Suatu pagi di sebuah bus

Pagi tidak sedang membuatku terburu-buru. Masih dengan ransel dan memilih tempat duduk agak di belakang. Dari sini, hampir semua penghuni sementara bus terlihat. Ada seorang Bapak dengan wanita di sampingnya. Aku yakin itu istrinya karena mereka yang seumuran dengan kakekku itu berjalan berpengangan tangan ketika masuk bus. Suasana romantis tempo dulu ternyata tidak lama. Bapak itu tiba-tiba berbicara sendiri dengan kata-kata yang sulit dimengerti dan membuat perempuan seumuran denganku yang ada di depannya menjadi ketakutan. Ia tertawa, hampir berteriak, lalu tersenyum sendiri, dan raut wajahnya bisa tiba-tiba berubah sedih. Aku mengamati Bapak itu beberapa waktu. Namun, perhatian ternyata digeser menuju ibu di sebelahnya. Ibu itu masih tetap tenang, menatap jalan, seiring dengan pembicaraan suaminya seorang diri. Bus berhenti tepat di halte tujuanku.Sebelum turun, aku sempatkan menengok wajah Ibu itu. Aku menemukan bulir air mata dan tangannya yang menggenggam tangan suaminya.


Sssst, Diusap Dulu Air Matanya

Pengalaman pertama mengajar anak-anak disini mengisi Minggu sore yang tidak sibuk. Aku memilih anak-anak TK dan tentu saja itu bisa dibayangkan sendiri. "Kakak, kakak, kakak, kakak," Baiklah, suasana ini mengingatkanku dengan rumah belajar di pulau indah, Bali. Seperti biasa, anak-anak seperti filsuf yang selalu suka bertanya, seperti "Kak, kok apel bentuknya kayak gitu? Seorang anak menghampiriku. Wajahnya agak cemberut.
"Kakak, mau pulang.." Raut hampir menangis mengiri permintaan si kecil. Aku berusaha mengajaknya bermain. Awalnya ia kembali ceria, selanjutnya ia minta pulang lagi dan sekarang dengan tangisan. Semakin lama tangis makin keras dan aku memutuskan mengajaknya keluar ruangan.
"Kakak mau pulaaaang"
"Kok gitu? Main lagi ayoo"
"Mau pulang kak..."
"Rumahnya dimana sayang?"
"Mau pulang kakak, Ibuuuu"
"Ibu ikut kesini?"
"Ibuuuuu"
"Ibunya dimana?"
"Mau pulang kaaak"
Tangisannya makin kencang dan jawaban dari pertanyaanku hanya "pulang" dan "ibu".
"Yasudah, cup cup yaaa. Kalau masih nangis, nanti ibunya nggak ketemu loo."
"Mau pulaaang, Ibuuu"
"Yuk cari ibu.."
Aku dan Hara, teman yang membawaku ke Mussola ini, menggandeng tangan anak itu. Seorang Ibu, menunjukkan jalan ke rumahnya. Beberapa langkah lagi sampai.
"Sebelum sampai di rumah, usap dulu yuk air matanya. Biar cantik dilihat mama."
Aku mengusap wajah kecil itu. Perlahan-lahan senyumnya kembali. Berarti, celah untuk bertanya.
"Kok minta pulang adik?"
"Iya kak, mau minum susu. Nanti mau balik lagi belajar habis minum susu."

Baiklah.



Malam yang Macet
Kira-kira pukul 07.30 ketika aku dan Hida menemukan angkot dengan nomor yang kami cari. Tersisa dua tempat duduk saja dan itu artinya kami bisa masuk. Dalam pikiranku masih terbayang wajah-wajah kecil yang tadi sempat berbagi cerita bersama kami di sebuah Mussola. Angkot berhenti dan seseorang turun. Kembali lagi suasana malam yang ramai dengan suara bias menjadi backsound pikiranku yang menata lagi cerita-cerita hari sebelumnya. Angkot berhenti lagi, seorang Ibu seumuran nenekku yang sudah meninggal dan anaknya yang seumuran dengan ibuku, masuk ke angkot itu. Tentu saja kurang satu kursi. Ibu itu duduk di sampingku. Lalu seorang pemuda rela duduk di pinggiran luar agar anak perempuan ibu itu dapat duduk. Suasana malam semakin ramai saat tiga orang turun dan dua pengamen kecil masuk angkot. Seperti biasa, aku menikmati saja suara-suara kecil itu, tanpa perlu memusingkan arti syair lagu yang memenuhi seisi angkot. Baru saja ingin memberi koin, angkot berhenti. Pengamen kecil tadi diminta turun karena 2 orang baru akan naik. Angkot penuh lagi , tidak ada tempat untuk si pengamen dan mereka tampak kesal. Siapa yang akhirnya mau memberi tempat duduk untuk dua pengamen kecil itu? Semua orang diam di posisinya dan pengamen kecil tadi pergi dengan umpatan kata-kata yang aku tidak mengerti artinya, tapi ibu di sebelahku mengatakan,"Itu anak-anak, bicaranya nggak bisa djaga ya". Koin itu aku simpan kembali dan semoga bisa bertemu mereka lagi untuk duduk bersama dan berbagi cerita.


Masih di Malam yang Macet
Tinggal delapan orang di angkot itu. Ibu-ibu yang awalnya duduk di sebelahku pindah mendekati anaknya. Saat itu aku baru sadar ada yang berbeda dari perempuan seumuran ibuku itu. Ia hanya terdiam dengan wajah cemas, menunduk, dan menengadah tanpa bicara. Ibu itu menatap sayu pada anaknya. Selendang putihnya digunakan untuk melap keringat anak perempuannya itu. Perempua dewasa yang kini kembali ditopang bahu ibunya. Tangan keriput si ibu mengusap-usap dahi anak perempuan muda itu, seperti ingin mengalirkan ketenangan. Sampai akhirnya kami harus turun angkot, wajah cemas itu masih ada dan tangan keriput yang mengusap dahi juga masih ada.


Tukang Koran

Langit pagi ini kemerah-merahan dan dingin. Bus cukup sepi untuk ukuran hari kerja, tapi menjadi melegakan. Aku naik dan menikmati saja seperempat perjalanan sampai di halte pertama. Dua orang penjual koran naik ke bus itu. Tumpukan koran yang tinggi dipangku saat mereka duduk. Samar-samar aku lihat ada berita tentang poitik, artis, dan lain-lain. Ternyata, Bapak supir bus juga penasaran dan bertanya,"Ada berita apa sekarang?"
Salah satu dari mereka menjawab,"Itu ada yang dipenjara, ada yang  korupsi". Pak supir merespon,"masih saja berita itu." Tukang koran satunya lagi menjawab,"Iya,  bosan bacanya, tapi harus dijual juga, Bapak mau beli?". Pak supir hanya tertawa, aku pun juga tertawa karena dua anak itu seumuran adik kecilku, kira-kira kelas 5 SD dan tidak sekolah. Mungkin, sedikit lagi mereka akan tahu salah satu penyebab negara belum bisa membuat mereka jadi siswa bukan hanya tukang koran.



Strawberry wine chocolate cake

Okey wall, itu beberapa cerita mini yang ingin Putri bagi sekarang. Sampai ketemu di sesi minum teh berikutnya yaa  (っ˘.˘)っ


 Follow Me On Tumblr http://cokgulenadam.tumblr.com/
Terima kasih untuk hari-hari yang mengizinkan untuk dilewati dan dinikmati manisnya
Terima kasih untuk #jaketkuningnametaglogbook yang setia menemani *peluk kalian* selamat beristirahat di lemari cokelat (っ˘.˘)っ
Terima kasih pengisi hari-hari KAMABA F.Psi UI 2013, spesial untuk keluarga baru *keep smile* :)
Terima kasih untuk penghuni baru, si #Pupu , temannya si #Piyu yang sedang tidur manis di lemari cokelat juga (sedang bicara tentang notebook). Selamat istirahat #piyu, makasi ya sudah menemani selama 4 tahun ini, HUGS! and HALO Pupu! Let's write new story with me, HUGS!

HELLO!

new step in new session





With hug (っ˘.˘)っ

NP

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe