First Date

16.31

Salam #Afroafro
 Mari lanjutkan Afro *superyey*
yang belum baca seri satu, baca dulu ya, supaya nggak mimisan langsung baca seri dua, eh? LoL >
 #1 Afro

+++

#2 
"bye Rere..."



+++

baca puisi [x]
nulis puisi [x]
musikalisasi [x]
acting [x]
nulis skenario [  ]

"Hadduuuh, ini kenapa semua jadi [x] dan nyatanya sekarang sudah terjebak di ruangan ini. Demi apaaa!" Rere ngedumel sendiri.

Ruangan teater tidak terlalu banyak dihuni siswa sekarang. Hanya ada dua orang yang daritadi berdiri di depan cermin dan berpuisi. Sisanya, hanya Rere yang baru saja diberikan formulir pendaftaran ekskul teater. 

"Gimana? Disini materi pertama yang akan kamu pelajari boleh  pilih sendiri lho. Kamu pilih apa Re?" Afro mendekat.
"Ah? Eeee? Kak Afro.."
"Ya?"
"Eeeee.." Rere terlihat bingung.
"Kenapa?"
"Mau ke toilet dulu ya, hehe." Dalam hati Rere, ia perlu sejenak melarikan diri.
"Oh, okey. Tahu kan tempatnya?"
"Tahu kok tahu Kak. Hehe"

Rere sengaja berjalan menuju toilet yang agak jauh. Ia perlu waktu untuk memikirkan sebenarnya kemasukan apa dirinya sampai memilih ekskul teater dengan kenyataan tanpa pengalaman dan ketertarikan yang minim. 
"Haadduuh...Rere mikir dong mikir," Rere kembali ngedumel sendiri.

---

"Trus tadi kenapa milih skenario jadi materi awal Re?"
" Eeee? Sebenarnya..."
"Sebenarnya kamu nggak tahu mau milih apa ya gitu ya? Hahaha, habisnya waktu ke toilet, aku lihat formulirmu yang hampir semua materi disilang. Padahal itu kan harusnya diberikan tanda nomor yang berurutan tergantung urutan materi selama kamu ekskul, bukan disilang atau dicentang Rere. Hahahaha"
"Haaah? Seriusan?" Wajah tomat Rere mulai terlihat. Ia mulai senyum-senyum sendiri menutupi malu. 

"Andai saja ini negeri batu dan rumput, pasti ia bahagia. Tidak ada yang tahu kekonyolan ini karena semua sibuk diam," bisik Rere dalam hati.

"Nggak apa-apa kok. Bagus kalau kamu jujur Re. Nanti aku bisa kenalin sama dunia teater dari awal. Nanti kita belajar sama-sama ya."
"Waaah? Makasi banyak ya Kak," Rere menghembuskan nafas lega. 

"Yasudah deh, nggak usah jadi negeri batu dan rumput. Kembali ke negeri semula aja, hihihi," kata Rere dalam hati.

Restoran pasta di tengah keramaian ini jadi manis ditemani musik jazz dari radio. Sisa beberapa tamu  yang tengah makan malam, termasuk Afro dan Rere. Terkadang mata mereka bertemu tapi seketika berpaling lagi dan pura-pura melihat foto-foto yang tertempel abstrak di dinding dekat mereka duduk.

Rere jadi ingat saat tadi Afro mengajaknya makan malam untuk merayakan masuknya Rere di ekskul teater. Agak berlebihan memang, tetapi berlebihan itu yang rasanya jadi spesial. Hmmm, apa mungkin naksir orang secepat ini? Baru hari kedua bertemu Afro. Lagipula, mungkin memang budaya ramah Indonesia seperti ini ya sebenarnya. Hanya Rere saja yang tidak paham gara-gara dari lahir sampai dewasa tinggal di tempat yang bahkan ia ragu, masih Indonesia atau bukan.

"Gimana makanannya Re? Kamu suka?" Afro memulai percakapan.
"Ah? Enak kok Kak, hehe"
"Besok-besok mau makan bareng lagi ya," kata Afro sambil tersenyum.
"Boleh-boleh, tapi lain kali pulang dulu kali ya. Makan malam masih pakai seragam jadi mengundang perhatian juga ternyata Kak," Rere tertawa tanpa perlu memastikan itu lucu. 
"Hahahaha, iya yah. Habisnya tadi ketemu kamunya sudah pukul 7 kan. Jadi kelamaan kalau pake pulang kan Re?"
"Iya bener juga ya kak."
"Oya, tadi kamu kok masih di sekolah? Kan selesai ekskul teaternya jam 4?"
"Eeee? habis latihan paduan suara kak.. Kalau kakak?"
"Tadi aku habis latihan basket. Oh? Ikut dua ekskul toh," Afro merapikan sendoknya di atas piring.
"Iya kak, diajakin Rey tadi untuk coba ikut padus."
"Rey yang ketemu di kantin kemarin?"
"Iya Kak." 

Untuk sesi yang satu ini Rere berharap Afro tidak bertanya bagaimana ia berteman dengan Rey. Padahal Rere adalah siswi pindahan dan Rey pun siswa pindahan sebulan sebelum Rere datang. Kenyataannya mereka dari dua sekolah yang  berbeda kota dan bertemu di sekolah yang sama dengan keadaan sudah sangat akrab. Ini aneh tapi Rere berharap tidak dipertanyakan.

"Kak..."
"Ya? Mau pulang ya? Yuk ! Sudah malam juga."
"Hehe, tahu aja kakak ini..."
"Bye Rere, I'm waiting for second date"
"Ah?" 

Hari kedua yang tidak kalah seru dari hari pertama Rere masuk sekolah baru. Tidak pernah ada hal spesial seperti ini di sekolahnya yang lama. Terutama kenal kakak kelas dan makan malam yang ternyata first date.

"Jadi tadi itu first date? iyasih, first date pake seragam sekolah.."

---

Ada rasa tidak nyaman dalam hati Rere. Selain tentang ekskul teater yang masih agak terpaksa, ia mulai merasa salah tingkah kalau setiap jalan kemana-mana selalu jadi pusat perhatian. Padahal sudah hampir dua bulan di sekolah baru ini.

 Penampilannya yang menarik ternyata membuat seisi sekolah langsung tahu nama dan label "siswi baru" yang ia bawa. 
"Nasib jadi anak baru kali yah atau gara-gara Afro?"
Untungnya tidak ada geng seperti di sinetron-sinetron yang  berencana mengintimidasi  hidupnya disini. Semuanya aman.

"Sombong banget sih yee, baru deket sama Afro," Rey tiba-tiba saja sudah ikut berjalan di sampingnya.
"Jangan cemburu gitu dong Rey. Hidup memang berjalan cepat, kamu harus bisa move on dari aku.  Hahaha," Rere menepuk-nepuk pundak Rey.
"Iiiiddiiiih! Males banget !"
"Males banget lihat aku deket Kak Afro? Yaaahh, semangat ya!" Rere memasang wajah kasihan.
"Duh, laper jadinya liat mukamu Re! Kantin yuuk." Rey mengamit tangan Rere.
"Stop! Rey ganteng, maaf ya Rere harus kembali ke ruang teater. Mau latihan lagi." Rere tersenyum semanis.
"Reine Fiore nggak usah pasang ekspresi manis gitu deh. Tetep aja jatuhnya asem! Nggak usah niat nyaingin mbak-mbak es teler di depan deh. Nggak bisaa!"
"Hahaha, terserah deh. Selamat ngerayu mbak-mbak es teler yah. Kalo kangen, sms aja ya. Bye Rey," kata Rere sambil melambaikan tangan dan meninggalkan Rey.

---

Rey sekarang merasa di tempat yang semuanya adalah batu dan rumput. Tidak ada yang bisa diajak bicara. Semuanya sibuk untuk diam. Tinggal dia yang melihat Rere pergi meninggalkan negeri batu dan rumput itu. "Bye Rere," bisiknya dalam hati.

+++


Yup, seri #2 selesai...
sedikit cuplikan seri #3

"Rey, Afro sudah tahu sebenarnya aku siapa..."

Salam #Afroafro

Putri Puspitaningrum <3

You Might Also Like

2 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe