Dua Warna Senja

07.56


Sela cerita mulai dibuka kembali ketika kudekatkan telingaku kesana, ke sumber suara itu. Aku sempat bertanya pada ombak, siapa yang merencanakan ini semua? Tapi ia  malah mengantarkanku pada garis batas dua dunia antara oranye dan hampir kelam. Pada senja yang tak pernah surut. Pada melodi harpa yang senada dengan lembutnya angin.

Kali ini aku tidak ingin melupakan satu hal penting dalam diam sambutan angin disini. Ketika ada cerita yang baru saja aku rasakan dan tidak pernah bisa berhenti aku nyanyikan bersama pena. Kendali tidak sedang ada padaku. Aku hanya bernyanyi ketika melodi harpa itu dimainkan dan mengisyaratkan padaku untuk bernyanyi. Disanalah aku bernyanyi.

Pada suatu ketika, seperti dilempar bola merah yang mengoranyekan senja. Hangat. Pintu terbuka dan mengijinkanku masuk dalam dunia penuh melodi yang indah tanpa perlu aku tahu siapa pemain harpanya. Ada nada tanda diam yang tersaji dalam oranye langit sebelum gelap. Aku terdiam dalam khayal dibawa melodi harpa yang ntah siapa yang memainkannya dengan indah.

Lagi-lagi kuputuskan bertanya pada senja, siapa pemain harpa itu? Mengapa indah dan membuatku tiba-tiba bernyayi dan sesaat kemudian diam dalam bisu?

Aku hanya dapat mengatakan itu pada senja karena aku tidak punya tinta untuk menuliskannya di langit. Mungkin saja pemain harpa itu akan mendengar pertanyaanku dan membuatku tak bisa berkata apapun ketika tiba-tiba ia bertanya "sedang mencari siapa?" Tentu saja mencari pemain harpa saat senja itu.

Implisit tapi menarik menebak-nebak penyaji melodi harpa teman bercerita yang baru saja datang ketika senja habis dimakan pasir hitam. Lagi-lagi waktuku habis menuliskan fokus lensa yang mengarah pada hal yang sama. Maju mundurnya dua warna yang tak ada habisnya untuk dinyanyikan. Hanya dua warna senja yang selalu menemaniku menikmati alunan harpa itu ntah dari siapa.

Sampai ketika kulangkahkan kaki bertemu pasir hitam seperti biasa. Tapi isyarat dua warna senja ditelan mendung abu-abu. Saat itu kutemukan jawabannya ketika kulihat seorang yang tak asing membawa harpa tanpa dimainkan. Aku menunduk belum berani melihat matanya.  Ini pasti penyaji melodi indah itu. Ini pasti mata yang aku kenal.

Tidak ada mata yang aku tatap saat ini untuk melihat rupa keajaiban harpa itu, tidak juga ada bibir yang mengucapkan hal-hal yang menuntunku pada sebuah larik denotasi, atau sepasang kaki yang mengantarkanku pada suatu pintu jawaban. Hanya senja yang membawa pada dua warna yang tak pernah henti menghampiri retinaku untuk memfokuskan lensa mata padanya. Pada senja yang menyatu dengan air laut dalam adonan sisa hujan hari ini di atas pasir yang sama. 

Sayup terdengar, mentari memerahkan langit, mendung mengalah, harpa mengalun...
 Aku tahu siapa dia.. 
yang biasa disini bersamaku melewati dua warna senja...
Bersama dua warna senja itu juga, aku selalu mendengarnya tanpa perlu tahu ia dimana dan aku selalu melihatnya tanpa perlu memastikan aku sedang membuka mata...


Putri Puspitaningrum

You Might Also Like

1 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe