Warna dan Hujan

10.36

Hai wall <3 kita bertemu lagi :) ...

Sabtu, 3 Februari 2013 ...


Warna dan Hujan


Matahari belum ditenggelamkan hari, tapi warna langit sudah gelap. Siang yang panas sebelum ini seperti tidak ada artinya ketika suara gemuruh angin sebagai lonceng tanda turunnya hujan sudah terdengar. Aku menutup jendela kamar ini agar airnya tidak masuk. Sekarang, aku siap untuk keluar.

Banyak yang memandangiku ketika aku turun dengan sebuah payung di tengah hujan deras dan angin kencang. Mungkin mereka suka dengan warna payungku atau mereka heran melihat aku yang berjalan di tengah hujan deras bergemuruh dan sendirian. Biar sajalah, lagi pula ini jalan umum.

Kakiku dingin bertemu dengan genangan air disana-sini. Hujan belum turun lebih dari 45 menit, tapi sudah ada ada genangan sampai ke air besar. Satu lagi yang aku tidak suka, ketika kendaraan melaju kencang melawan langit tetapi dia tidak sadar sudah membasahiku dengan cipratan air. Yasudah, terima kasih.

Semua yang aku lihat mungkin tidak sama dengan apa-apa yang bisa mereka rasakan. Jelas saja, aku dan mereka berbeda. Warnaku dan warna mereka juga berbeda. Mungkin hal itu yang membuat mereka tidak peduli dengan cipratan air yang tadi.

Gerbang tempat kerja Ibu sudah terlihat. Inilah tujuanku setiap pukul 18.30, menjemput Ibu dan pulang bersama. Sebenarnya rumah kecil kami dengan tempat kerja Ibu tidak terlalu jauh, tetapi Ibu selalu menyuruhku menjemputnya. Bahkan, di dapur, setiap pagi aku menemukan note di atas meja makan "ce, ingat jemput Ibu ntar sore ya. Love you <3". Ini pasti akal-akalan hebat agar aku keluar rumah.

Aku sampai.
"Hai Ce, akhirnya sampai juga. Hujan-hujanan ya?"
"Bawa payung kok."
"Baguslah kamu masih ingat pakai payung. Oya, mau minum apa? Biar ibu buatkan."
"Ce nggak haus."
"Yakin? Ibu lembur lo. Jam 9 p.m. baru pulang. Masih banyak yang harus difotokopi dan akan diambil pemiliknya besok pagi"

Tenang sekali wajah ibuku mengatakan itu. Padahal artinya aku harus menunggu sekitar 3 jam untuk kembali pulang. Aku enggan menjawab. Aku memilih duduk di sampingnya dan membantu menata kertas-kertas. Sepertinya kertasnya warna putih semua. Aku melihatnya warna putih.

Langit masih bersenandung lewat nada tetes hujan yang bertemu tanah. Ibu masih sibuk dengan mesin fotokopi dan senandung nada yang tidak aku kenal. Ternyata ada yang sama antara Ibu dengan langit, sama-sama terlihat tulus dengan apapun yang dikerjakannya sekarang.

"Ce, tolong ambilkan buku bersampul hijau itu ya. Yang di atas meja."
"Apa ada yang bisa aku bantu lagi?" Aku memberinya buku tebal fotokopian yang akan difotokopi lagi.
"Pasti ada cantik, tapi tidak sekarang ya. Tunggu sebentar." Senyum Ibu seperti biasa. Tenang.
"Baiklah, aku ke depan saja ya."
"Iya sayang."

Banyak orang yang mengagumi sosok ibuku dan setiap detik aku bersamanya juga sama. Hanya saja, aku tidak bisa mengatakan kekagumanku padanya karena aku masih saja menunduk ketika becermin. Dia dan aku seperti crayon dan pensil. Tentu saja, aku yang mirip abu-abunya pensil tanpa bisa berwarna seperti Ibu.

Aku duduk di kursi depan tempat biasanya pengunjung menunggu hasil fotokopian. Aku membaca kumpulan majalah di meja depannya untuk menghabiskan waktu. Aku masih mendengar senandung Ibu dari sini. Alunan melodi yang menenangkan sekaligus membuatku merasa aman.

Pintu kaca depan diketuk orang. Aku memalingkan muka ke arah sumber suara itu. Ada rasa takut karena aku melihat seorang laki-laki berdiri disana. Tempat foto kopi ini kan sudah tutup pukul 19.00. dan sekarang sudah hampir pukul 20.00., harusnya tidak ada pengunjung lagi. Tanda "closed" juga sudah dipasang.

Aku sedikit takut tetapi merasa harus membuka pintu itu.
"Ce, ada yang datang ya? Coba ditanya mau apa?"
Aku mendengar suara Ibu dari dalam. Takutku hilang. Segera aku buka pintu dan mendapati seorang laki-laki basah kuyup yang tersenyum. Aku merasa ia tidak melihatku yang ada tepat di depannya. Tanpa sengaja aku memerhatikan matanya lalu tongkatnya. Dia buta.

"Ini warnet?" Ia bertanya dengan tersenyum.
"Bukan Pak, ini tempat fotokopi tapi sudah tutup." Aku masih belum paham, mengapa di tengah hujan begini, ia berjalan dan sendirian.
"Di samping ada warnet?" Pertanyaan kedua dan masih dengan ekspresi tenang.
"Tidak ada Pak, adanya tempat makan lalapan. Bapak mau kemana?"
"Oh, saya pikir ini warnet. Saya ingin berteduh saja. Seingat saya ini warnet. Maaf sekali. Saya numpang berteduh di teras luar saja."

Aku masih tidak paham bagaimana caranya mengingat tempat dimana ia pernah memberhentikan langkah. Apa dengan menghitung langkah? atau bertanya setiap kali lewat? atau ini yang disebut menggunakan mata batin? Aku menarik sebuah kursi mendekati pintu.

"Pak, tunggu di dalam saja ya. Di luar dingin. Ini ada kursi."
"Iya pak, tunggu di dalam saja ya.." Tiba-tiba Ibu menghampiriku dengan segelas teh hangat.
"Tidak apa-apa, saya berteduh di luar saja."
"Anak saya sudah ambil kursi lo buat Bapak. Silahkan tunggu di dalam. Ini ada teh hangat."
"Oh iya, terima kasih banyak ya." 

Aku melihat senyum tenang. Jauh lebih tenang dari sebelumnya. Aku menuntunnya masuk hingga duduk di kursi. Ibu memberiku segelas teh hangat untuk diberikan kepada tamu ini. 
"Ce, duduk disini saja ya. Ibu melanjutkan pekerjaan sedikit lagi di dalam."

Aku mengangguk dan menarik sebuah kursi lagi agar dekat dengan bapak ini. Aku menatapnya lekat dan membayangkan bagaimana jika aku ada di tengah hujan angin dalam keadaan mata tertutup tanpa pernah bisa dibuka, tanpa payung, dan tanpa mata lain di sampingnya. Pasti aku memilih menangis daripada meneruskan perjalanan.

"Bapak tinggal dimana?" Aku membuka sesi untuk menemani suara hujan kali ini.
"Saya tinggal di Sidakarya."
"Hah? Jalan dari Sidakarya kesini?" Aku membayangkan berjalan dengan mata tertutup sekitar 3 kilometer.
"Tidak, saya tadi diantar teman sampai di Waturenggong. Lalu saya jalan sendiri."

Aku terkejut lagi, tetap saja jarak Waturenggong kemari juga cukup jauh dan melewati kawasan Sudirman yang padat kendaraan.

"Sebenarnya Bapak mau kemana?"
"Saya mau ke Genteng Biru."
"Mau bertemu teman ?"
"Saya mau ngamen dik..Cari uang.."

Nada hujan merendah. Aku pun terdiam dan tidak menjawab. Aku ingin mengambil cermin dan berkata pada bayangan di depanku tentang kebodohan menjadi tertutup selama ini. Pada matahari pun aku sering merasa takut, padahal aku tidak pernah melihat warnanya yang sebenarnya. Apalagi langit, aku hanya menyapanya lewat jendela kamarku.

Sejak aku tahu, aku tidak bisa seperti crayon yang berwarna, aku seperti takut bertemu dengan sesuatu yang orang sering katakan indah, bertemu pantai yang dikatakan biru, atau lainnya. Aku takut bicara dan memilih diam saja. Ke luar rumah selain menjemput ibu saja aku enggan. Aku selalu merasa ada di sudut, dimana semua warna berkumpul di sudut yang lain dan aku tidak mendapat bagian. 

Sekarang, bapak di depanku ini jauh lebih disudut dari aku. Tidak ada mata lain yang menemaninya setiap langkah kaki, bahkan sampai sejauh ini pun, tetap tidak ada. Pasti sepi sekali rasanya. Aku mencoba menutup mata 10 detik saja, merasa takut, merasa kehilangan, merasa ditinggalkan. Bagaimana jika takdirku ditukar dengan Bapak ini dan sepanjang hari harus tertutup matanya?

Ini pertama kalinya aku merasa lebih beruntung. Aku merasa dunia masih mau beramah tamah denganku. Mungkin aku yang menutup pintu menerima setiap tamu yang ingin menjadi teman. Selama ini aku yang aneh, aku yang memusuhi warna, dan membaca terbalik buku takdir milik Tuhan. Jika saja aku sedikit meramahkan diri pada pagi, siang, dan setiap gurat sore, mungkin itu akan membuatku tampak tidak berbeda. Walaupun aku tahu, pagi, siang, dan sore di mataku sama saja. 

Mataku tidak tertutup seperti Bapak ini, tapi langkahku jauh lebih sedikit. Aku punya Ibu yang disampingku sedangkan bapak ini sendirian, tapi aku masih saja takut menyapa pagi lebih dari melihat di jendela. Apa bedanya aku dengan bapak ini jika aku masih saja menutup pintu untuk setiap tamu? Aku masih jauh lebih beruntung karena bisa melihat tamu yang datang, sedangkan Bapak ini, tidak bisa, tapi pintunya selalu terbuka dan aku yakin dia selalu menyapa setiap suara yang datang.

***

"Sudah terlalu lama kayaknya dik. Apa hujannya sudah reda?" Bapak ini membuyarkan susunan lamunanku.
"Tunggu sebentar ya Pak, saya lihat keluar dulu." Aku menengadahkan wajahku menghadap langit. Masih ada gerimis yang sampai di pipiku. Aku kembali masuk.
"Masih gerimis Pak."
"Tidak apa, saya berangkat saja. Terima kasih banyak ya dik."

Aku masih belum bisa melihat Bapak ini pergi. Hari sudah gelap, semakin gelap karena mendung. 
"Hati-hati ya Pak..."

***

Berjalan di tengah sisa hujan dengan Ibu kali ini terasa berbeda. Ada rasa tenang dan keinginan menyapa pagi besok lebih awal.
"Bu, kali ini aku memakai baju warna apa? Apa aku cantik?"
"Kamu pakai warna biru tua ce. Kamu cantik sekali. Sendalmu warna merah muda dan kardiganmu warna biru muda."
"Ibu, makasi sudah disampingku untuk menjawab pertanyaan tentang warna ya..."
"Warna hanya sebuah sebutan Ce...Tidak bisa membedakan warna bukan berarti tidak bisa merasakan indah. Harmoni hitam dan putih masih tetap dipilih untuk sebuah lukisan bukan? Berarti itu masih indah"

Aku menggenggam tangan ibuku. Kami berjalan sampai ke rumah. Hitam dan putih bagiku sudah cukup. Indahnya dua warna itu yang aku lewati selama ini dan hanya dua warna itu untuk selamanya. Aku siap membuka sangkar yang selama ini aku buat sendiri. Siap menyapa langit dengan dua warna yang aku punya.


Tumblr_mhls31tqhc1s4cwspo1_500_large



Putri Puspitaningrum

*First, terima kasih untuk bli Bili yang datang malam itu untuk berteduh di kantor 
*Kejutan kedua kali ini, aku lulus tes kelas Bintang GO :')  , kok bisa? :O
masih ingat ttg tes kelas bintang yang aku ceritakan disini "Mampir Sebentar"




You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe