Teman Kecil

05.18



***
"Des, memangnya setia itu penting ya? Lagian juga masih pacaran kan."
Sumpah ! Ingin rasanya aku tuang semua wasabi di piring sushinya, mengacak-acak rambut panjangnya yang aneh, mengomel sepanjang mungkin, melepas kacamatanya dan melemparnya ke luar jendela, mencampur es tehnya dengan saos,lalu aku ingin memeluknya.
"Nggak penting-penting amat kalo pacaran sama alien." Satu sushi berhasil masuk ke mulutku.
"Kalo elu aliennya boleh?"
"Nggak, enak aja  nyama-nyamain sama alien !"
"Hahaha, tapi iya sih, setia karena memang setia dari hati memang penting, tapi tergantung perasaan orang sendiri. Setia sama perasaan sendiri juga penting"
"Nggak ngerti deh ya" aku menjawabnya singkat dan menikmati makanan sushi satu lagi.
Aku merasa diperhatikan olehnya dan jujur aku tidak berani mengangkat pandanganku dari piring sushi ini. Pasti mataku bertemu lagi dengan matanya. Maka matilah aku.

"Pesen lagi ya Des, masih laper nih," kalimat itu berhasil membunuh diamku. Aku berhasil mengangkat kepala.
"Gue off ya kak Bi... Full..."
"Ngapain? Lu diet? hahahaha Segitu pengennya lu nyamain Dian Sastro." Dia berhasil mengacak-acak rambutku.
"Okey Des, gue juga off dah." Akhirnya dia menyerah membuatku lebih lama disini.

***

Aku paling suka sesi ini. Sehabis makan, masuk mobil, dan menunggu kejutan.
"Kemana lagi ya Des?"
"Tumben nanya, biasanya main injek gas."
"Ya kan itu biasanya Des, sekarang kan udah nggak biasa."
"Pulang."
"Des, tega amat. Gue bela-belain libur tiga hari, pulang ke Bali. Lu minta pulang."
Dia memutar badannya menghadapku. Baiklah aku mulai kehabisan akal, ini sesi yang membuatku berteriak meminta Tuhan membuat mobil ini mogok, supaya sesi ini lebih lama.

"Trus mau ke?" Aku menyerah. 
Mobil pun melaju. Apanya yang tidak biasa, ujung-ujungnya dia juga yang menentukan, dan setiap ditanya..
"Udah Des, diem deh."
Tapi sudahlah. Sebuah hal yang lebih indah dari pelangi adalah ketika berdua dengannya.

Waktu itu senja tidak menginjinkan hujan membasahi tanah. Jadi langit berwarna biru abu-abu yang indah, diselipi semburat kuning yang terkadang jingga. Senja kali ini tidak ada warna merahnya tapi tetap indah. Setelah lama meninggalkan kota ini, dia terlihat begitu damai seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari dia dan aku juga berharap tidak ada yang berubah termasuk bagian paling jauh yang sampai sekarang belum bisa aku raih. 

Aku tidak tahu akan dibawa kemana sekarang. Aku mempersilahkan langit merebut pandanganku dan membawaku pada bayangan itu. Masa kecilku dengan orang ini.

Hanya ada beberapa rumah seingatku disana, daerahnya masih sepi, banyak sekali sawah, dan itu menyenangkan. Aku berangkat dan pulang sekolah selalu  bersamanya. Terkadang kita bersepeda menuju SD, atau berjalan kaki. Jauh jaraknya tapi aku tidak merasakan jauhnya itu karena dia akan dengan sigap bertanya,
"Capek? mau kakak Bi gendong?"
Dasar anak SD! Semuanya terasa begitu menyenangkan, mulai dari kemah pramuka, bersepeda, main di sawah, main layangan, dan permainan kesukaan kami, petak umpet. 

Aku tidak punya teman lagi selain dia. Namun, cukup ada dia saja sudah lengkap rasanya. 
"Kak Bi, Desya sudah cantik belum?" Itulah yang sering aku tanyakan setiap mendapat undangan ulang tahun dan pergi ke pesta anak SD bersamanya. Berdua dan berdua sampai kami terpisah ketika dia masuk SMP dan aku masih SD. 

Setelah itu, rasanya semakin jauh. Kita tumbuh dalam dunia sendiri-sendiri, tetapi itu tidak punya andil untuk rasa nyaman yang dulu. Aku yang sibuk dengan sekolahku, dia juga yang sibuk entah dengan urusan apa. Tapi sedikit saja hal kecil yang dilakukannya, aku merasa itu istimewa, misalnya ketika berhasil bertemu dengannya saat sama-sama keluar gerbang ketika akan berangkat ke sekolah.

Sekarang, dia sudah kuliah dan sebentar lagi aku juga kuliah. Aku sempat punya pacar dan bukan dengan dia. Dia juga punya pacar dan itu bukan aku. Aneh? Tidak aneh, karena tidak ada kelanjutan dari  rasa nyaman masa kecil itu. Semuanya tersimpan rapi-rapi, tepatnya aku simpan rapi-rapi. Kita berjalan dalam dunia kita masing-masing. Perlahan, aku mulai mengganti rasa nyamanku dan melupakan kenangan itu. Bagaimanapun kita seperti sudah punya jalan sendiri-sendiri tanpa perlu ada yang diungkapkan. 

Ditambah lagi, dia pergi dari kota ini. Aku memang menangis tapi  itu membuatku semakin yakin untuk menghentikan ini semua. Aku tahu, saat itu aku punya pacar dan sudah dalam hitungan tahun, tapi dalam hitungan tahun itu pun aku masih punya tempat untuknya, Abi Damma. Hal itu pun tidak hanya datang sekali. Dalam hati aku memohon, jangan lihat sisi negatifnya, aku juga sakit berusaha untuk tahun-tahun itu. Berat juga yang aku rasakan. Aku mencoba.

Mungkin aku mulai lelah. Tapi...hanya perasaan sementara bahwa aku bisa menggantikannya...Dia tetap punya tempat tersendiri, walaupun aku merasa disini penuh, tapi dia tetap punya tempatnya sendiri..

***
"Restoran lagi kak? Ya Tuhan kakak laper lagi?" Akhirnya mobil berhenti dan aku tidak ingin dia tahu kalau aku melamun.
"Bukan Desya Radina, tapi kita akan ke.."
"Ke?"
"Ke luar mobil, hahaha.." Aku memberinya sebuah tatapan sinis, tapi dia berhasil membuatku tertawa ketika mengeluarkan teru-teru bozu dari dalam kantongnya.
"Itu buat digantung Kak Bi, bukan dikantongin, hahaha" Aku berusaha melucu tapi mukanya serius dan dia mulai menyandarkan badannya lagi.
"Kenapa kak?"
"Jadi kita ke Jepang? Disana pasti banyak sushi enak-enak ya Des."
"Nanti ah, ambil S2 di Jepang, ciatciatciat" Aku juga mulai bersandar lagi.
"Iya, kak Bi tungguin." 

Tiba-tiba dia memberikan teru-teru bozu itu untukku.
"Gantung kebalik kalau pengen hujan, gantung yang bener kalo pengen hujannya berhenti. Jangan minta sushi sama dia ya Des, pasti nggak bakal dikabulin, hahahaha"
"Yee, aku juga nggak sebodo itu kali kak.."
"Okey, ayo keluar..."

Ubud. 
Ternyata dia mengajakku ke Ubud. Seumur hidup aku di Bali, aku baru sadar ada tempat seindah ini di Ubud. Disini ada jembatan gantung dengan tali temali yang diisi jejeran lampu kecil-kecil berwarna biru dan putih. Gelap membuatnya semakin indah. Ada beberapa bangku taman yang klasik, kita duduk di bangku nomor 3 dari kedua ujung jembatan, di tengah-tengah. Setiap kali ada yang berjalan lewat jembatan ini, pasti langkahnya terasa. Jembatan gantung yang peka. 

Ini bukan yang pertama kalinya kita berdua. Terakhir kali kita berdua ketika aku bercerita bahwa aku baru saja putus dan sekaligus dia bercerita bahwa dia baru saja jadian. Sekali sebelum terakhir kita bertemu ketika dia bercerita bahwa dia putus dan aku bercerita bahwa aku baru saja jadian. Skenario yang klasik dan tidak pernah mengijinkan ada yang perlu dikatakan atau diungkapkan dari sesuatu yang masih disimpan dengan rapi.

"Des, gue mau jujur..."
"Ya? soal gue cantik? Semua orang tahu kok Bi"
"Hahaha, ya gue juga tau. Tapi ini soal perasaan gue Des.."

Aku tidak tahu lagi nama siapa yang disebut. Tapi jujur, dia bukan tipe orang yang suka mempermainkan. Seumur hidup aku kenal dengannya, aku hanya pernah mendengar 2 nama perempuan, mungkin kali ini aku mendengar nama yang ketiga. Abi yang baik, Abi yang setia, Abi yang taat agama, Abi yang selalu memperlakukan perempuan dengan istimewa, Abi yang nggak pernah nyakitin perasaan siapapun, Abi yang semuanya, dan Abi yang tidak bisa aku raih. 

Dia selalu memulai pembicaraan tentang seorang gadis dengan kata-kata "Ini soal perasaan gue Des", lanjutannya biasanya "Namanya *lalala* kemarin gue jadian, dia *lalalala*". Aku sudah siap mental, sebelum dia berkata, aku berani menanyakannya lebih dulu.

"Siapa Bi?"  
Miris sekali rasanya mengeluarkan pertanyaan ini.
"Tentang perasaanku ke kamu Des"

Apa ini? Lelucon macam apa ini? Tapi aku merasakan desir angin yang begitu dingin tiba-tiba. Aku tidak dapat menyembunyikan warna pasi dalam wajahku. Jika memang ini lelucon, aku yakin dia akan tertawa terbahak-bahak karena dia sukses besar.

"Sudah hampir 10 tahun Des aku simpen rapi-rapi perasaan ini buat kamu. Sejak cuma ada rumah kita saja dulu, sampai sekarang ada banyak rumah di gang itu, hahaha. Aku sayang banget Des sama kamu. Aku susah bertahan sama orang lain itu karena kamu punya tempat Des disini. Aku nggak tahan lagi buat simpen lama-lama Des, aku nggak bisa lagi berusaha nutupin kamu sama orang lain."

Sepertinya ini bukan lelucon Tuhan. Lalu apa?

"Desya, aku sayang kamu sejak dulu, I love you more than you know, I hope more than brother"
"Bodo, Kak Bi bodo !"
"Ya Des, aku bodo banget baru bilang sekarang !"
"Bodo, aku juga sayang banget sejak 10 tahun lalu sama kak Bi. Kenapa baru bilang sekarang? Aku juga capek hampir 10 tahun mendem itu. Capek kak. Aku coba selalu move on tapi tetep nggak bisa. Aku bener-bener susah payah setulus-tulusnya, aku sempat punya pacar, aku sempat bahagia, tapi waktu aku kehilangan, aku ngasa nggak terlalu kehilangan. Sampai sempet ada yang bisa bikin aku sedikit berpindah dari kak Bi, tapi tetep aja kak, aku gagal bertahan. Aku nggak pernah bisa mempertahankan apa yang ada di sampingku kak, aku biarin dia lepas, pergi gitu aja. Aku nggak pernah bisa nangisin lama atau coba mertahanin. Tapi aku selalu coba jalan lagi, walaupun itu sulit, aku ngrasa harus bisa pergi dari perasaan itu."

Air mataku sudah turun. Ini air mata lega atau air mata sedih, atau bahagia sekali, aku belum tahu. Aku melihatnya masih menunduk disampingku, masih menggenggam tanganku. Aku mulai menggigit bibir dan tidak tahu akan berkata apa lagi.

"Maaf Des, aku baru berani bilang sekarang. Kita selalu kehalang, mungkin ngehalangin diri sendiri. Kamu nggak pernah sendiri waktu aku lagi sendiri."
"Kamu juga nggak pernah sendiri waktu aku lagi sendiri kak"

Kita hanya diam. Semua yang aku simpan rapi-rapi sekarang sudah tidak rapi lagi. Semua sudah ke permukaan dan menunjukkan wujudnya. Aku mulai mengembalikannya ke dunia nyata. Ini tidak boleh berlama-lama.
"Apa kabar pacar kakak ?" Aku menghapus air mata dan mulai tersenyum, tentu saja setelah melepaskan tanganku.
"Aku sudah putus Des, 4 bulan yang lalu. Aku memang nggak pernah mutusin pacar, tapi siapapun juga bakal mutusin aku kalo tahu semakin jauh tentang perasaanku yang cuma buat kamu kan Des"

Dia mengangkat kepala dan menatapku. Udara semakin dingin seperti mencekikku, mungkin akan membuatku hipotermia sebentar lagi. Aku ingin menjawab tapi rasanya tercekik. Aku menunduk, mengatur nafasku.
"Kak Bi, maaf , tapi kak Bi perlu tau...Seminggu yang lalu, aku baru jadian..."
"Aku terlambat ya Desya?" Dia bertanya dan masih menunduk.
"Kak Bi ngajarin buat nggak nyakitin perasaan orang kan, Desya juga nggak mungkin nyakitin perasaannya dia kak."

Dia mengambil tanganku untuk menutup wajahnya. Aku merasakan ada air matanya disana. Aku hanya diam. Semua rasanya terhenti.





Putri Puspitaningrum

_thanks for all stories :)_

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe