Cerita Peri Kecil

07.26

Wall ...

Ini cerita tentang Peri kecil yang baru saja kembali ke taman bunga lagi. Kemarin ketika hujan tidak turun seperti biasa, sekelompok kumbang menjemputnya. Kumbang-kumbang itu mengabarkan pada Peri kecil bahwa waktunya sudah habis, hukumannya di bumi sudah selesai, Raja menyuruhnya kembali ke taman bunga lagi. Di tempatnya lahir dan terbang bebas.

"Hai Peri kecil, kenapa kamu melamun?"
"Aku tidak melamun bunda, aku sedang bercanda dengan lili-lili putih ini?"
"Oh ya? Sini bunda peluk. Terlalu lama kamu di bumi,bunda kangen sekali."
"Kalau Raja memberikan satu kali kesempatan lagi untuk ke bumi, aku rela melakukan kesalahan untuk dihukum"
"Hei Peri ada apa? Kamu merindukan sesuatu di bumi?"
"Iya bunda, merindukan yang memberikan aku lili dulu."
"Kamu ingin berbagi cerita dengan bunda?"
"Bunda mau mendengar ceritaku?
"Tentu saja sayang"

"Bunda, waktu itu hari pertama aku turun ke bumi untuk menerima hukuman dari Raja. Waktu itu sedang hujan dan aku sendirian. Aku hanya tahu ada tempat untuk berteduh di rumah Bunda Tirta. Tapi aku bosan bunda. Sampai akhirnya aku berjalan-jalan sebentar dan aku berhenti di depan seseorang yang punya senyum teduh. Aku menatapnya seperti pernah melihatnya, ntahlah seperti pernah bertemu dengannya sebelum itu. 

Bunda tahu kan sekarang aku suka menulis? Sebenarnya, sejak aku melihatnya itulah awal aku berteman dengan kertas dan pena. Aku tidak tahu bagaimana cara berdiri di depannya lagi, karena aku tidak tahu dia tinggal dimana. Setiap hari aku menulis untuk dia Bunda, sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kita lagi. Persis seperti dongeng Putri Kapas yang pernah aku tulis, aku lupa memperlihatkan pada bunda. 

Dia datang dan aku bisa menatap matanya lagi. Bunda tahu? Dia memberikan aku setangkai bunga lili putih dan setangai bunga mawar merah. Aku tidak pernah mau kehilangan waktu menyapa matanya dan melihat senyum teduhnya lagi. Dia itu yang membuat aku selalu bisa tidur lelap tiap malam Bunda.

Heiii, aku juga pernah makan steak dengannya. Saat itu dia juga menjemputku dan aku hanya berdua dengannya.  Kita bercanda, kita tertawa, tangannya yang jauh lebih besar dari tanganku, tawanya, dia lucu sekali Bunda.

Oh ya, liontin. Aku tidak akan pernah melupakan liontin merah muda itu. Hadiah Valentine. Aku baru pertama merasakan ada hari kasih sayang ya Bun di bumi. Liontin itu ada dua, yang merah muda untuk aku dan yang biru dibawa oleh Dia.

Bunda pernah dapat surat cinta? Rasanya deg-degan ya Bun bacanya. Sore itu sedang hujan ketika dia memberi kabar untukku bahwa ada surat cinta di bawah pot. Aku sudah takut, aku tidak mau melewatkan kata-kata yang ditulis itu, takut dihapus hujan. Baru pertama Bun, aku takut sama hujan. Besoknya aku datang kesana, ternyata suratnya masih ada, masih bisa dibaca. Suratnya masih ada Bunda, tapi aku mau hanya aku yang membacanya.

Saat itu aku bertemu lagi dengannya. Bunda tahu? Dia menjemputku di rumah Bunda Tirta. Baru pertama aku tahu bahwa pantai di malam hari juga indah. Awalnya aku ingin memejamkan mata berlama-lama merasakan setiap angin dingin yang datang, aku biarkan kakiku berciuman dengan pasir, dan tiba-tiba rasanya hangat. Aku membuka mata dan rasanya jauh lebih indah daripada merasakan semuanya saat gelap. Aku melihatnya di sampingku.

Bunda, dia juga memberikanku banyak sekali es krim, aku sampai lupa ada berapa. Kadang-kadang dia juga memberikan aku coklat. Rasanya manis sekali ketika aku bisa menghabiskan semua itu disampingnya. 

Aku juga dikenalkan dengan teman-temannya yang lain. Masih jadi temanku sampai sekarang Bun, walaupun jauh. Dia juga punya ibu yang sama baiknya seperti Bunda, dia punya rumah yang hangat, aku suka ada disana Bunda. 

Selama aku di bumi dan dihukum Raja, dia selalu ada disampingku. Sampai akhirnya, sudah waktunya dia pergi. Sedih sekali rasanya, bahkan aku tidak dapat menatap senyum teduhnya sebelum ia pergi. Aku pikir aku yang lebih dulu pergi, ternyata masaku di bumi lebih lama daripada masanya di sampingku "


"Pergi kemana dia Peri kecil? Apa kalian pernah bertemu lagi?"


"Dia pergi jauh Bunda, aku belum pernah melihat tempat itu. Tapi aku selalu bisa membayangkannya. Aku mengambil kertas dan penaku untuk menulis apapun yang aku bayangkan waktu itu. Tentang gedung, tentang orang-orang baru disekitarnya, tentang senyum teduh yang dia punya, tentang langit, dan tentang...tentang rasa rinduku.

Setelah itu, aku semakin sering menulis. Aku tidak mau melupakan perasaannku sedetikpun sebelum aku menuliskannya. Oh yaa... aku juga pernah bertemu dengannya setelah itu. 

Waktu di bumi, walaupun waktunya cuma sebentar, kita juga pernah menghitung kembang api di pantai, satuuuu duaa tigaa, menebak akan berhenti di hitungan keberapa. Walaupun akhirnya kita lupa melanjutkan hitungan, karena yang aku tahu aku harus menikmati senyum teduhnya. Rasanya hangat lagi"


"Bunda tahu, pasti kamu menyayanginya kan Peri kecil? Apa kamu ingin bertemu dengannya lagi?"


"Iya aku menyayanginya... Selama aku di bumi dia mengajariku tentang perasaan, tentang bagaimana menghabiskan malam yang gelap, bagaimana melangkah di atas pasir, menggenggam, memeluk, dan merasakannya lembutnya angin. Dia mengajariku artinya tulus, tertawa, tersenyum, dia juga memberi tahuku bagaimana menangis, kecewa, dan sakit hati. Aku merasa benar-benar menjadi manusia ketika itu, ketika aku menangis dan ketika air mataku dihapus.

Dia memberikanku banyak teman dan banyak cerita yang aku simpan dalam tulisan di kertas-kertasku. Bunda boleh membaca itu. Bunda pasti bisa membayangkannya, seperti aku yang setiap hari bisa merasakan lembutnya cerita-cerita itu.

Bunda, aku ingin bertemunya lagi tapi bagaimana aku bertemu dengannya jika aku disini Bunda?"

"Jika kamu mau, Bunda bisa mengantarkanmu kesana. Bagaimana?"

 "Aku takut Raja marah, aku takut dihukum lagi di bumi Bunda..."

"Kenapa takut, bukankah kamu punya pangeranmu Peri?"

"Andaikan saja benar-benar begitu,tapi Aku hanya beruntung bisa menuliskan cerita-cerita itu dengannya. Dan kalaupun suatu saat nanti aku ke bumi, aku tidak yakin masih bisa menatap senyum teduh itu..."

"Apa dia tidak tersenyum lagi untukmu?"

"Dalam doa dan setiap tulisanku, aku selalu ingin agar ia tersenyum untuk siapapun. Tapi sekarang, sedang ada yang melukis cerita dengannya. Waktuku mungkin sudah habis... Tapi aku sangat-sangat bahagia bisa kembali ke taman ini, aku masih punya sayap untuk terbang seperti Bunda. 

Aku selalu bahagia melihat kata-kata manis darinya Bunda. Apa bunda tahu? sebenarnya aku sangat menyayanginya? Apa dia mengerti jika aku katakan aku ada disini sekarang? Tapi bunda, ada tangan-tangan lembut yang menemaninya juga. Aku mungkin tidak bisa seperti itu Bun. Jadi aku tidak mengerti harus apa selain menghabiskan hari dengan kertas-kertas dan penaku.

Sedikit-sedikit aku masih punya sisa cerita itu untuk aku rasakan lembutnya. Mungkin ada waktunya untuk kembali ke bumi, tapi aku tidak akan menunggu kembali ke bumi untuk menuliskan setiap angin lembut yang pernah aku rasakan disana...Begitu mungkin caraku berterima kasih untuk banyak hal yang sudah membuatku merasa benar-benar menjadi manusia saat itu. 

Terkadang dalam hidup kita tidak dihadapkan pada pilihan kan Bun, kita pasti pernah merasakan hanya perlu menerima. Waktu mungkin pernah mematahkan sayap-sayap kelembutan cerita itu, tapi selama kita percaya pada keajaiban, kelembutan itu akan datang lagi. Mungkin dengan cara lain. Semoga ada cerita indah yang lain setelah ini ya Bunda, aku ingin merasakan jadi manusia lagi..."






***


hadiah awal tahun  :)

Wonderful_rose_by_silvermoonswan-d5pxto2_large












Putri Puspitaningrum


You Might Also Like

2 comment

  1. Bagus cerpennya. Sweet and romantic. Jadi membayangkan dunia kunang-kunang dan liliput. Good job :)

    BalasHapus
  2. terima kasih kak :D Salam kenal...blognya kakak, aku suka :)) http://yuska77.blogspot.com/

    BalasHapus

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe