Bertemu di Rumah Ramah

08.28

Dear my best wall, ini Putri bawa cerita buat kamu :*

***

Lorong rumah sakit sudah sepi. Aku memutuskan kembali saja. Tidak ada yang tidak menyenangkan disini , kecuali saat ada yang berbicara tetapi aku tidak boleh mendengar. Itu menjengkelkan karena membuatku ingin tahu tapi tidak boleh tahu.

Wanita cantik itu datang membawa lili putih yang aku pesan. Aku pura-pura tidur agar tidak diajak bicara. Ternyata aku gagal mengelabuinya.
"Hai Gek, habis ini langsung mandi ya. Sudah dulu main-mainnya," katanya dengan sumringah. Ntah apa yang menyenangkan.
Aku membalikkan badan, duduk, dan menatapnya dengan bibir bulan sabit terbalik.
"Habis itu ngapain? Boleh pulang?" 
"Eh? Kan baru datang kesini sayang. Masak langsung mau pulang," dia masih bisa tersenyum manis.
Aku membanting badanku ke ranjang, mengambil selimut, dan membalikkan badan.
"Gek Ca, habis ini kita dinner, habis itu pesen hot chocolate deh," wanita ini masih belum menyerah.
"Boleh beli es krim?" aku bicara tapi tidak mengubah posisi.
"Okey lah, tapi jangan bilang Dokter Sam ya sayang. See you honey."

Suara langkah wanita itu menjauh. Aku menarik nafas panjang sebelum bangkit lagi dari ranjang ini. Baiklah, aku harus mandi.

***

Pintu taksi terbuka, aku dan suster Gina masuk tanpa basa-basi. 
"Pasific Place," isyarat itu membuat si supir tidak bertanya lagi.

Aku tidak bicara apapun selama perjalanan. Sepertinya suster Gina juga tahu kalau aku sedang tidak ingin bicara. Aku membayangkan jika saja aku tidak begini, pasti sekarang aku sudah menari di tengah alunan music ballroom yang begitu harmonis, menjinjitkan kaki, berputar, dan menggerakkan tanganku mengikuti ajaran Kakak Des pelatihku. Tapi itu tidak mungkin.

***

Ta Wan Restaurant. 
Suster Gina tidak bertanya lagi apa yang ingin aku pesan. Tentu saja segala hal dari laut, hot chocolate, es krim, tapi tidak pesan bunga lili putih.
"Gek, kangen Bali?"
"ya.."
"pantesan pengen pulang"
"Yaa, tapi pengen pulang ke Depok"
"Lo kok depok?"
"Ya kan kalo pengen pulang ke Bali mah jauh. Depok aja nggak papa"
Tau gitu tadi kita berangkat sorean kan bisa ke Depok"

Aku diam saja. Perutku lapar. Untung coklat panasnya datang. 

"Gek, udah betah disini "
"Nggak betah juga. Lebih enak di Bali."
"Kenapa?"
"Gek soalnya bisa ke pantai tiap hari nggak pake jauh"
"Yah, kapan-kapan ajak saya ke Bali kalo pulang ya gek"
"Emang gek masih bisa  pulang ke Bali sus?

Gantian dia yang diam sekarang. Untung saja suasana ini diselamatkan oleh kehadiran mangkok-mangkok makanan.
"Nah, ini ni gek.. Dijamin enak deh."

Aku menjawab dengan senyuman. Kami tidak bicara apapun selama makan, hanya ada suara Bruno Mars dengan lagunya, Just the Way You Are, Taylor Swift dengan Back To December, dan lagu-lagu yang aku tidak tahu milik siapa. Setidaknya suasananya tidak seperti makan di tengah kuburan.

Suster Gina mulai gila sepertinya. Setelah menghabiskan es krim, dia mengajakku berkeliling, menyuruhkan berfoto bersama Santa, foto di depan pohon natal, membelikankan Gelato lagi, dan ntah mengapa dia tau aku suka Puff, jadi dia pesan Puff dengan rasa yang memang aku suka. Sepertinya dia bisa membaca mataku yang mengintip-ngintip ke arah jejeran kue itu . Baiklah, cukup memalukan but I feel full.

***

Lorong rumah sakit lebih sepi dari sebelumnya. Ia mengantarkanku sampai di depan kamar.
"Okey adik manis, sampai ketemu besok yaa"
Kembali aku menjawabnya dengan senyuman saja. Aku baru sadar kalau aku lebih suka melihatnya memakai pakaian suster daripada dress super pendek berwarna biru tua yang dia pakai sepanjang perjalanan kali ini.

Suster Gina adalah suster paling cantik di rumah sakit ini mungkin. Dia adalah istri dokter favoritku, Dokter Sam. Mereka terlihat serasi karena aku sering melihatnya bicara tanpa kata. Bicara lewat mata. Begitulah cinta ya, punya bahasa sendiri.

Aku menyudahi pikiranku yang melayang pada suster Gina. Kembali aku menidurkan diri. Kamar ini yang rasanya seperti kuburan sekarang. Sepi sekali. Tanpa mengganti baju, aku menyudahi hari ini. Tidur. Tidak lupa berdoa, "Hyang Widhi, Tuhan Yesus, jangan buat ini jadi hari terakhir ya, aku masih ingin bertemu Dokter Sam, Terima Kasih"

***
Pagi ini aku pergi ke gereja yang ada di dalam rumah sakit ini bersama Dokter Sam. Ternyata Tuhan mengabulkan doaku. Aku menggenggam kalung salib yang ibu berikan diam-diam. Dia tak ingin menyakiti hati ayahku yang memberikanku kalung berlambang Swastika. Mereka berbeda, tapi mereka tampak biasa saja.

"Andai saja cinta itu hanya tentang kita, tidak tentang agama, keluarga, dan alasan klise lainnya. Pasti kita akan lebih bahagia" (inspired from tweet of @ayucempaka)

Sehabis dari gereja, aku melespaskan kalung itu dan menggantinya dengan kalung dari ayahku, dan bersiap ke Pura.
"Gek Ca mau kemana?" akhirnya dokter favoritku itu bicara.
"Gek mau sembahyang ke Pura,"
"Habis itu langsung balik ke rumah ya"
"Rumah?"
"ya kan disini rumahnya gek? Rumah ramah kita"
"Hahahah, rumah bau obat, sip deh."
"Yang penting rumah ini ramah"
"hahaha iya dokter"

***

"Obatnya sudah diminum?" suara hangat dokter Sam memenuhi kamar berwarna cream ini.
"Sudak dok, gek mau denger cerita lagi dong dokter," ini sesi yang aku nanti-nanti. Ketika dokter favoritku ini menceritakan pasien-pasiennya yang begitu tegar.
"Nggak ah, kamu dong gantian cerita"
"Nggak mau º\(TT⌣TT)/º"
"Saya cerita tentang mantan pacar saya boleh?" pertanyaan itu menggelikan.
"Dokter punya mantan pacar, hahahaha"
"Siall, yaiyalah, banyak yang mau sama saya ya" katanya sambil memberikanku lagi satu kapsul spesies baru.
"Yaudahlahya okey.."

Aku menelan kapsul itu ditemani air. Rasanya aku ingin memuntahkannya lagi, kapsul ini rasanya begitu mudah hancur di lidah dan rasanya pahit sekali. Sesekali aku menggeliat ingin muntah, akhirnya ia bereaksi.
"Nih es krim, jangan dimuntahin obatnya"
"Daritadi kek.." aku mulai menikmati es krim itu.
"Sudah siap nggak denger cerita saya..."
"Sudaaaaaaahhhhhhh...." Aku membenarkan dudukku di atas ranjang itu, merapikan selimut yang menutupi kakiku, menatap dokter itu lurus. Ya, dia persis sekali seperti Dion. Aku suka dokter ini karena dia mirip Dion, kakakku yang dulu pasti menelan obat yang sama denganku. 

"Saya punya mantan pacar namanya sama kayak nama kamu, Caca"
"saya punya kakak, wajah dan sifatnya mirip dengan dokter, namanya Dion" jawabku dalam hati, hanya dalam hati.
"Waktu itu saya masih tinggal di Jakarta Selatan dan saya setiap hari melihatnya berjalan-jalan dengan Pump, anjingnya. Karena saya tidak punya anjing, jadi saya sok-sok jogging dan mengajaknya berkenalan. Dia selalu ceria dan suka sekali membuat saya terlihat bodoh. Tapi itu sangat menyenangkan. Beberapa bulan kemudian kita berpacaran. Saya hanya bisa bertemunya di taman, itupun dia pasti mengajak Pump. Sisanya saya tidak pernah bisa bertemu di tempat lain.
"Gila dok, jangan-jangan ..."
"jangan-jangan ??"
"Jangan-jangan dia alien"
"Iya dia alien"
"toeeeenggg -.-"
"Waktu itu sekitar satu setengah tahun saya berpacaran, akhirnya saya tahu rumahnya, tempat kuliahnya, dan berbagai macam hal tentang dia. Saya suka karena dia mengenalkan saya lebih jauh tapi dengan cara yang perlahan, cara yang mengajarkan saya untuk sabar dan semakin penasaran."
"Rumahnya di Mars?" tanyaku menyela.
"Mars deket Blok M, duh Gek pikiranmu alien mulu"
"Lalu?"
"Lalu dia meninggalkan saya..." wajah dokter Sam tampak sedih.
"Kembali ke Mars?" aku berusaha bercanda membuatnya ceria.
"Ya mungkin dia kembali ke Mars karena saya tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang"
"Wooooooooo..." aku menopang dagu dengan kedua tanganku.
"Tapi ..."
"Tapi kenapa Dok?" aku semakin penasaran.
"Kemarin saya melihatnya lagi.." dokter Sam tersenyum lagi.
"Oh jadi karena kemarin dokter melihatnya, jadi dokter menceritakan pada saya," aku menertawakannya.
"Ya begitulah,"
"Bagaimana dia sekarang?"
"Tetap cantik, tetap manis, tetap terlihat pintar, tegas, tapi tidak bersama Pump"
"Apa aku pernah melihatnya? kemarin kan aku sliweran di rumas sakit ini" aku semakin penasaran
"Ya tentu saja," kata dokter Sam mantap.
"Dia pasien?"
"Bukan gek.."
"Dia suster baru?"
"Bukan juga gek.."
"Lalu?"
"Dia ibumu...."

***

Putri Puspitaningrum


You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe