Kasih dan Segelas Air (Analogi)

07.16

Dear my sweet wall ...

Bisakah kasih sayang (cinta) dianalogikan seperti ini ? 

Untuk orang yang haus, kita berikan gelas dan siap menuang air... Jika kita terus menerus menuang air, maka gelas itu akan penuh, air itu akan tumpah, yang haus tidak juga dapat meminum semua air yang telah dituang karena ada yang jatuh atau bahkan takut mengambil gelas itu karena airnya terlalu penuh dan akan berceceran kemana-mana.

sama seperti (mungkin)

untuk orang yang kita kasihi, yang ingin kita beri kasih sayang. Berikan saja kasih itu sedikit demi sedikit. Tuang setengah gelas, biarkan dihabiskan dulu, tuang lagi jika kode masih haus itu terlihat. Berhenti ketika sudah tidak haus, habiskan perhatian ke hal yang lain, kembali tuang ketika rasa haus itu datang lagi, sedikit demi sedikit, agar tidak tumpah dan berceceran kemana-mana. Agar tidak juga sakit rasanya karena sudah menuang hingga tumpah tapi takut diminum karena gelasnya sudah kepenuhan. Biarkan ia merasakan berartinya air itu. Bukankah setiap hari kita perlu air? yaa, begitu juga dengan kasih bukan?
Biarkan juga ia bisa menghargai keberadaan gelas dan airnya, akan lebih berharga kan ketika haus itu datang :)

***

Pagi yang ditemani hujan saat ini. Bulir-bulir airnya masuk ke sela-sela tanah yang rongganya tak terlihat. Bisa menikmati pagi ini dengan hati yang cerah. Sedikit demi sedikit, kata demi kata menenangkan terlontar tak terbatas perbedaan waktu yang ada. 

Begitulah kami selama beberapa waktu berlalu, sekarang, atau mungkin pada waktu yang berikutnya. Dapat bahagia dengan caranya, dibawa dalam alurnya, merasakan memberi kasih, diberi kasih, dan haus yang tau waktu.

Kita punya jalan sendiri-sendiri dan tengah berjalan di jalan itu. Tapi selama tahun-tahun berlalu ini, kita tidak pernah lupa bahwa kita punya satu jalan yang jika ia melangkah satu kali, itu artinya aku juga harus melangkah satu kali, Jika aku diam, itu artinya dia tidak bisa melangkah. Kita harus menggerakkan langkah kita bersama. Menyambut setiap waktu baru yang ada dan tetap tidak tahu akan berakhir dimana.

dan waktu sedang menguji untuk mengoreksi lagi kata "tidak" untuk si penuang air yang tulus itu. Untuk kata yang hanya mengantarkanku pada rasa aman, memelihara takutku. Ini tidak mudah, aku tahu. Tapi bagian terindahnnya adalah ketika kita bisa dengan tulus tidak menyerah pada waktu dan bayang-bayang yang juga punya tangan untuk memeluknya.

Tidak... ini bukan saatnya berkata "tidak" lagi. Sebelum kasih itu hanya tersimpan sampai mengukir dan harus melukai hati ketika ingin menghapusnya, atau hanya berakhir dalam hati sampai tertulis nama dalam batu nisan.

Sebentar lagi Desember berakhir, tidak ada penantian untuk hal istimewa bagi kami. Karena rasa haus adalah bagian paling istimewa yang setiap saat bisa membuat rasa nyaman di hati.

Bisa mencintai caranya, si penuang air yang memberiku gelas dan siap menuang air. Bisa juga menjadi bagian dari jalan itu ternyata bagian istimewa yang mungkin hanya sekarang bisa aku sisipi perasaan damai dan mungkin berikutnya masih tetap sama.

Terima kasih untuk waktu-waktu dalam hitungan tahun, menjadi istimewa, atas kasih, setiap sapaan pagi, setiap kata pamit untuk malam, dan segalanya yang istimewa...




You never forget to say I love you ...
Although I have said I can't
But you never forget to make me feels comfort...
are you a loser?
No, You're the winner



and you said, you feels lucky to have me ..


Love
Putri Puspitaningrum

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe